
"Apa yang membuatmu begitu yakin kalau kau akan menang?" jawab Wirya tenang.
"Kau lihat, kau bahkan tidak membawa pasukanmu seperti dulu," jawab pria bertopeng itu.
"Hemm ... kalau begitu majulah kita lihat siapa yang pengecut di sini kau atau diriku," tantang Wirya pada pria itu.
Pria itu lalu maju dan melayangkan satu pukulan ke wajah Wirya namun Wirya bisa mengelaknya dengan cepat.
"Kau sudah bertambah tua, tinjumu pun tidak mengenai ku sama sekali," ejek Wirya sembari bersiap dengan kuda-kudanya.
Pria itu nampak semakin kesal dia memukul Wirya dan menendang pria itu berkali kali namun tidak ada satupun yang mengenainya.
Matthew memutar tubuhnya dengan cepat dan beth! satu pukulan keras mengenai leher pria itu. Pria itu jatuh seketika.
"Kau hebat juga, ku kira kecelakaan itu akan membuat mu menjadi lemah," kata pria itu berdiri.
Wirya berjalan memutar mencari celah di antar kepungan pria pria bertubuh besar ini.
"Aku sebenarnya heran mengapa kau begitu ingin membunuh Bening, Arnould?" tanya Wirya pada pria bertopeng itu.
Pria itu nampak terkejut, tapi segera di buangnya topeng yang menutupi sebagian wajahnya.
"Ternyata kau tahu siapa aku sebenarnya? Jadi tidak perlu lagi aku menutupi identitas ku lagi."
__ADS_1
"Bukankah kita sudah saling berburu satu sama lain selama puluhan tahun. Bagaimana mungkin aku tidak tahu siapa dirimu sebenarnya? Itulah sebabnya aku selalu mengawasi Bening selama ini, agar dia tidak jadi korban kebiadabanmu lagi," kata Wirya.
"KORBAN Kebiadabanku, kau ternyata tidak secerdik yang terlihat. Kau sama sekali tidak bisa meraba kebenaran yaang ada, bodoh." ucap Arnould.
'' Kebenaran apa maksudmu?" tanya Wirya.
"Kebenaran bahwa bukan aku saja yang berada di balik ini semua. Tapi kau terlambat untuk menyadarinya karena kini kau akan mati ikut bersama mereka." kata Arnould melancarkan tembakan pada Wirya. Pria itu langsung berkelit berguling di tanah dan menembak tepat di tangan Arnould.
"Cepat tembak dia bodoh,'' teriak Arnould pada semua anak buahnya.
Anak buahnya lalu menodongkan pistol tapi dari arah belakang Zen dan beberapa anak buahnya menembak kaki musuhnya hingga jatuh terkapar.
Darah segar berceceran di mana mana. Seperti biasanya dalam cerita film, polisi datang terlambat ke tempat kejadian.
Wirya langsung maju dan menendang ke tiga orang yang membantu Arnould dengan sekali tendang.
Ketiganya terjatuh, hal itu memberi kesempatan pada Arnould untuk mengambil pistol lain dari dalam jaketnya. Dia berniat menembak Wirya namun,
Dorrr! Dorrr! Dorrr!
Bening menembakkan pistol ke arah Arnould Berkali kali. Dan pria itu jatuh terkapar di tanah.
Arnould memandangi Bening dengan perasaan benci.
__ADS_1
"Sudah ku katakan paman, jangan sakiti Wirya lagi. Kau tidak mendengar ku. Aku selama ini diam karena kakak Kevin. Tapi kini kesabaran ku telah habis, kau jangan bermain main lagi denganku. Aku tidak selemah yang kau fikirkan," kata Bening dengan posisi tangan yang masih menodongkan pistol.
Wirya terkejut melihat kegarangan Bening. Ternyata ada jiwa pembunuh juga dalam dirinya.
"Ha ... ha ... akhirnya kau mengeluarkan wujud Asli mu Bening. Aku tahu jika Kevin mendidikmu sedemikian rupa. Beberapa kali kau lolos dari pembunuhan yang ku rencanakan. Tapi aku juga bingung mengapa anakku itu malah berbalik menolongmu, bukannya membantu ayahnya sendiri,"
"Karena kau bukan ayah yang baik. Selama ini kau hanya memanfaatkan dirinya saja untuk kepentinganmu sendiri," jawab Bening.
"Kenapa kau membunuh ayah, nenek, dan ibu?" tanya Bening pada Arnould.
"Aku hanya memenuhi perintah seseorang, dan satu lagi, bukan aku yang membunuh nenekmu tapi orang lain yang tidak akan pernah kau sangka. Dan ibumu ku bunuh dengan cara menyuntikkan racun di infusnya alasannya karena dia menolak ku, ayahmu kubunuh karena dia merebut ibumu dariku. Bukan sebab harta Bening, bisnis narkoba ku mendunia dan aku punya banyak uang dari sana," kata Arnould memegang dadanya.
"Nenek ... siapa yang membunuhnya Paman, aku tahu kau yang terakhir bertengkar dengannya ... " kata Bening kesal menarik jaket yang dipakai Arnould.
Tapi Arnuold sudah tidak sadarkan diri akibat banyak mengeluarkan darah. Sebuah mobil ambulance datang memberikan pertolongan pertama dan membawa Arnould pergi.
"Sudah Bening ... sudah sebaiknya kita pulang saja biar Zen dan Roy yang mengatasi masalah ini semua dan menutup nya rapat rapat dari dunia luar," kata Wirya memapah Bening.
Roy dan Zen mendekat ke arah Pamannya.
"Kau tidak pernah mengatakan jika Bibik Bening sehebat itu. Dia bahkan memukul tiga penjaga di sekitar mobil kami dan menjadikan ku pengasuh Bayu, seolah aku pria lemah yang bersembunyi di belakang wanita," ujar Roy yang masih menggendong Bayu.
"Makanya kalian harus menghormatinya walau umurnya jauh lebih muda dari kalian karena dia bisa saja menghajar kalian sampai babak belur," kata Wirya. Bening sendiri masih terlarut pada fikirannya sendiri. Sebetulnya siapa yang membunuh neneknya?
__ADS_1