Billionary Married Scandal

Billionary Married Scandal
Rumah impian


__ADS_3

Yang baca masih sedikit sekali...


Ayoo dong kasih semangat makin banyak yg like dan komen makin semangat authornya up lagi. Jangan lupa favoritkan juga.


Abimanyu, Dewi dan Bayu telah sampai di tanah air mereka Indonesia.


"Indonesia aku datang...," teriak Abimanyu meluapkan kegembiraannya. Kelakuannya membuat mata semua orang yang berada di sana melihat ke arahnya. Abi cuek saja. Tapi si kecil Bayu ikut merentangkan tangannya seperti yang dilakukan oleh Abi.


"Indonesia aku datang," kata Bayu dengan lidah cadelnya karena dia hidup di negeri Amerika.


Bening menatap malas dua orang ini. Wanita ini lalu menggelengkan kepalanya.


"Bisakah kau bertingkah yang tidak membuat pusat perhatian banyak orang." kata Bening sembari meletakkan tangannya dipinggang.


"Dan kau Bayu kenapa kau selalu mengikuti tingkah konyol daddymu ini?" kata Bening kesal.


"Jangan marahi dia, dia hanya melakukan yang dia inginkan," kata Abi.


"Daddy adalah panutanku..." kata Bayu polos. Abi yang mendengarnya tertawa bahagia dan mengajak Bayu bertos ria.


"Anak dan daddy sama saja," kata Dewi meneruskan langkahny meninggalkan mereka berdua.


"Jakarta... kali ini berbaik hatilah padaku...jangan menyiksaku lagi dengan rasa kehilangan." gumam Dewi lirih...dia menghirup udara. Dan menahan tangisnya teringat kejadian tiga tahun lebih yang membuatnya bangkit dari keterpurukan.


Abi lalu mendekati Dewi sembari menggendong Bayu dengan satu tangannya. Satu tangannya lagi tersampir di pundak Dewi.


"Jaga tanganmu Abi," lirik tajam Dewi tapi Abi hanya tersenyum tetap merangkul bahu Dewi hingga mereka sampai di luar bandara.


Satu pelayan lelaki yang ikut bersamanya sedang mengambil koper milik mereka. Dan akan pulang menggunakan taksi. Sedangkan Abi dan keluarga kecilnya sedang ditunggu oleh ibunya.


"Abi...anak nakal mommie...akhirnya kau pulang juga ke negara asalmu," kata ibu Abi, Tasya.Wanita itu mengulurkan tangannya memeluk Abi yang sedang menggendong Bayu.


"Eits...ini Bayu kan? Dia sudah besar sekali sekarang... terakhir ibu melihatnya dia baru berumur empat bulan." kata Ibu Abi menjawil pipi Bayu. Sesuatu yang Bayu tidak sukai ketika ada yang menyentuh pipinya yang tembem.

__ADS_1


"Mommie..." kata Dewi mencium punggung tangan Tasya. Ibu Abi menyentuh kepala Dewi pelan.


"Tampaknya hidupmu kini teratur setelah ada Dewi di sisimu ibu harap kebiasaan burukmu juga ikut hilang."


Dewi ingin mengatakan sesuatu namun bibirnya di bekap oleh Abi.


"Aku jadi anak baik, bahkan aku jadi ayah yang baik untuk Bayu. Iyakan Wi?" kata Abi sembari menaikkan kedua alisnya pada Dewi meminta pembelaan wanita itu.


"Yah...sampai saat ini dia menjadi ayah yang baik buat Bayu." kata Dewi.


"Baguslah kalau begitu, lalu dimana barang kalian?" tanya Ibu Abi menengok ke kanan kiri karena dua orang ini terlihat tidak membawakan barang bawaannya.


"Di bawa oleh pelayan yang ikut pulang bersama kami,"


"Ya sudah kita ke mobil kalian pasti lelah ingin segera pulang dan beristirahat di rumah."


Mereka berempat lalu pergi ke mobil yang menjemput mereka dan meninggalkan bandara.


Setelah mereka sampai kekediaman milik Abi, Bayu dibuat takjub oleh rumah besar mereka. Selama ini mereka bertiga hanya tinggal di sebuah apartemen jadi Bayu tidak tahu apa itu rumah.


Bayu kecil langsung turun dengan riang. Sia berlari ke arah kolam ikan.


"Ibu lihat... ada ikannya banyak dan berwarna warni," kata Bayu takjub dengan apa yang dilihatnya.


"Bayu suka rumah omah..." kata Tasya mendekati anak kecil itu. Bayu menganggukkan kepalanya.


"Bayu ikut omah ke dalam dulu, Bayu lihat rumah oma...dan oma juga sudah menyiapkan kamar istimewa untuk cucu oma yang tampan ini." kata Tasya pada Bayu.


"Kamar..." tanya Bayu ragu.


"Hem...kata daddymu kau suka karakter Avanger jadi oma mendesainnya sesuai tokoh yang kau suka." kata Tasya.


"Mom... kau terlalu berlebihan." kata Dewi.

__ADS_1


" Aku hanya ingin kalian bahagia dan juga betah tinggal dirumah ini, aku sangat kesepian sekali semenjak ditinggal pergi oleh kalian berdua. Aku harap kalian mau menemani mommie hingga nafas terakhirku." jawab Tasya oada Dewi.


Jika Tasya sudah berkata seperti ini Abi dan Dewi hanya bisa diam saja. Mereka tidak mau membuat wanita paruh baya ini sedih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kediaman milik Wirya pria itu membuang kertas kertas dia lantai.


"Beraninya kau bohong padaku Kevin Xu... kau katakan aku hanya mengalami kecelakaan tunggal tidak ada orang yang bersamaku, lalu apa arti ingatanku tentang seorang wanita yang ikut bersamaku di hari kejadian itu terjadi."


"Saya hanya ingin membuat anda tidak terpuruk akibat kematian istri anda," kata Kevin membela diri dengan kebohongannya yang lain.


"Istriku....kau tidak pernah mengatakan jika aku sudah mempunyai istri?" kata Wirya melemah. Dia juga sering mendengar nama Bayu di sebut oleh seorang wanita di telinganya, tapi siapa wanita itu dia tidak tahu. Hanya bayangan tubuhnya saja yang diingatnya tidak dengan wajah wanita itu.


"Dia sudah meninggal dan aku menutup rapat masalah ini karena permintaan dari kakak anda dia tidak ingin melihat anda semakin terpuruk," jawab Kevin ragu takut jika Wirya tidak mempercayai perkataannya.


"Kalau istriku sudah meninggal bawakan aku fotonya dan bawa aku ke pembaringan terakhirnya."


Kevin lalu mengambil sebuah foto pernikahan Wirya dengan seorang wanita. Foto yang sudah diedit terlebih dahulu dengan apik dan nyaris tanpa cela.


"Ini foto pernikahan anda dan istri anda tuan Wirya. Dan dia di makamkan di daerah Bekasi utara."


Wirya memperhatikan foto itu, tapi ketika melihat foto itu dia tidak ada perasaan apapun terasa hambar. Dan wanita itu...apakah dia mencintainya, jika iya kenapa tidak ada getaran kerinduan ketika melihatnya. Atau pernikahan ini terjadi karena adanya paksaan.


"Bawa aku padanya.. " kata Wirya tegas. Sembari meletakkan foto itu begitu saja di atas meja kerjanya. Dia memijat pelipisnya yang mukai terasa pening lagi karena ingin mengingat sesuatu yang dirasa penting untuknya.


"Tuan anda harus istirahat dulu, anda baru saja pulang dari perjalanan jauh dan memakan waktu belum lagi anda baru saja melakukan rapat dengan klien."


"Bawa aku padanya Kevin...jika tidak mulai besok jangan datang lagi kemari." Bentak Wirya sembari mendudukkan diri di kursi kebesarannya. Dia memijat sendiri keningnya yang mulai pusing.


"Baiklah jika itu keinginan tuan. Tapi sebelum itu saya akan ambilkan tuan obat terlebih dahulu," kata Kevin berjalan keluar mengambil obat milik Wirya.


Sesampainya di luar Kevin segera mencari tempat aman untuk menelfon Edo.

__ADS_1


"Tuan saya sudah melakukan yang anda perintahkan," kata Kevin pada Edo yang berada dibalik handphone itu.


Bantu favoritkan like dan komen ya...


__ADS_2