
Bening duduk berjongkok di selasar rumah sakit, menunggu tindakan operasi darurat yang dilakukan oleh para dokter. Nampak raut muka kusut dan berantakan, jejak tangis mengiasi wajahnya yang cantik. Mulutnya komat kamit membaca doa sedari tadi. Rasa ketakutan dan keputus asaan menghinggapi hatinya.
Tek....tek...tek... suara tongkat milik seseorang menggema di seluruh koridor ruangan. Bening mengangkat wajahnya dan melihat kakek, Dewinta, dan Bianca berjalan kearahnya.
"Kakek...."gumam Bening, dia ingin memeluk pria tua itu atau seseorang sebagai tempat bersandar dari kesedihan ini, tapi nampaknya mereka hanya datang dan melihat keadaannya.
Dia hanya bisa menangis dan menyeka air matanya.
"Bagaimana keadaan nak Wirya, Bening?" tanya kakeknya.
"Aku belum tahu...dokter langsung membawannya keruang operasi sudah dua jam operasi berlangsung..." kata Bening sembari menyeka air matanya.
Seorang body guard menaruh sebuah kursi untuk kakek. Lelaki tua itu lalu duduk para tantenya hanya berdiri disisi kakek.
Tidak lama datang rombongan dari keluarga Wirya. Mereka setengah berlari ke arah Bening.
Sara yang melihat keadaan Bening yang kacau langsung memeluknya. "Sayang tenangkan dirimu Wirya akan baik baik saja dia itu pria yang tangguh."
"Yah...bahkan hujaman puluhan peluru tidak membuatnya mati. Dia itu seperti punya 9 nyawa cadangan," timpal Zen. Lalu disodok oleh siku milik Lovely. "Aww...sakit sayang."
"Kau tidak apa apa nak?" tanya Edo khawatir. Dia mengusap kepala Bening yang menangis dipelukan Sara.
"Aku baik baik saja...tapi Bayu...dia...menjadikan tubuhnya sebagai pelindungku." tangis Bening.
"Tentu saja dia melakukannya karena dia sangat mencintaimu..." lanjut Sara. Perkataan Sara membuat Bening semakin menyesal karena telah berbuat buruk pada pria itu selama ini.
"Ceritakan apa yang terjadi pada kalian?"tanya Edo.
"Kami sedang menuju kantor kakek tapi di tengah jalan mobil kami di ikuti oleh dua mobil asing, lalu dua mobil itu mengapit mobil kami dan tidak lama sebuah suara tembakan terdengar lalu ban mobil kami meletus, setelah itu semua terjadi dengan begitu cepat. Mobil kami menabrak sebuah truk dan Bayu terjepit oleh badan mobil. Hu...hu..." kata Bening.
__ADS_1
"Zen kau selidiki masalah ini secepatnya, siapa orang orang yang berusaha mencelakai Wirya, apakah musuh kita atau musuh lama Wirya atau juga musuh kalian." kata Edo menatap kepada kakek Bening.
"Aku rasa selama ini keluarga kami baik baik saja, hanya saja orang yang dekat dengan Bening akan menemui kematiannya itu seperti kutukan buat dia." kata Dewinta.
"Dewinta...tidak selayaknya kau memperkeruh keadaan disini."
"Itu fakta yah...ibunya meninggal setelah melahirkannya, ayahnya meninggal setelah dia berumur sepuluh tahun dan ibu celaka karena sedang mengasuhnya kala itu."
"Dewinta...." Bentak Kakek. Wanita itu hanya menatap kesal dan tajam pada Bening. Dan kakek Bening juga merasa marah bila mengingat Bening penyebab orang orang yang dicintainya meninggal dunia.
"Kau tenanglah..." kata Sara mengerti perasaan tertekan yang dialami oleh Bening.
"Kita akan menunggunya hingga operasi ini selesai." kata Edo berusaha agar tetap tenang.
Detik demi detik berlalu, berkali kali Bening menatap jarum jam yang enggan untuk bergerak, setiap.dia menengok baru lima menit saja yang berlalu. Ini seperti sebuah siksaan batin untuknya.Hatinya harap harap cemas menantikan kabar dari dokter yang akan keluar dari ruang operasi.
Sebuah bayangan terlihat di pintu kaca yang buram, seketika semua orang yang duduk berdiri menunggu sebuah kabar baik dari Sang dokter.
"Saya kakaknya dan ini istrinya," kata Edo sembari menyuruh Bening untuk mendekat.
Doktet itu melihat mereka berdua.
"Pasien mengalami trauma pasca kecelakaan, kepalanya terkena pecahan kaca mobil hingga menembus otaknya dan kakinya mengalami patah tulang parah. Dia saat ini masih dalam keadaan koma. Entah kapan dia bisa terjaga dan bangun kembali. Saya juga tidak bisa memastikan keadaannya kedepan. Tapi andaikata sembuhpun dia akan mengalami kelumpuhan bila tidak menjalani operasi untuk perbaikan tulangnya dan juga terapi berjalan."
"Boleh saya menemuinya dok?" tanya Bening.
"Sebaiknya nanti saja kami akan memindahkannya ke ruang ICU disana dia kan mendapatkan perawatan yang intensif."
Wirya telah dipindahkan ke ruang ICU, Bening masuk keruangannya. Dengan berderai air mata dia mendekat ke ranjang milik Wirya. Tubuhnya di penuhi oleh selang dan alat penunjang kehidupan yang lain. Suara layar monitor mengisi kesunyian ruangan ini.
__ADS_1
Bibirnya bergetar, tangannya juga bergetar ketika menyentuh wajah Wirya yang penuh luka. Tubuh lelaki itu dibaringkan miring mengingat luka dalam di belakang kepalanya.
"Maaf....maaf...aku sudah berusaha untuk menjauhimu selama ini...tapi kau tidak mengerti juga...kau tetap mendekat kearahku tanpa mengeluh. Hanya seutas senyum yang selalu kau berikan kepadaku."
"Bayu...baru sehari kita bersama dan kau akan meninggalkanku untuk selamanya... tapi tidak kau tidak boleh mati. Aku berjanji padamu Tuhan jika Kau selamatkan dia kali ini aku akan pergi jauh darinya... dan membawa kenangan indah bersamanya."
Bening mencium kening dan mata Bayu, air matanya jatuh membasahi kelopak mata pria itu.
Bening mendekati telinga pria itu membisikkan kata,"Bangunlah untukku, aku sangat mencintaimu, dan maaf jika ini terlambat untukmu. Jika kau mendengarku bangunlah...demi cintaku padamu..."
"Bila aku pergi jangan cari aku lagi, carilah wanita yang akan mencintai sepenuh hatinya,"
Mendengar kata pergi dari Bening membuat alam bawah sadar Wirya, menyuruhnya untuk membuka mata. Tangannya bergerak, kelopak matanya juga ikut bergerak. Matanya terbuka...
Melihat semua itu membuat hati Bening senang dan sedih. Dia berlari keluar ruangan."Kak Edo, semuanya. Bayu telah sadar...dia telah sadar," kata Bening.
"Terima kasih Tuhan kau masih berbelas hati pada hambamu yang satu itu," kata Edo.
"Alkhamdulillah," kata yang lain. Seketika mereka masuk melihat keadaan Wirya.
Dokter dan perawat mulai datang untuk memeriksa keadaan Wirya tidak ada yang memperhatikan tingkah Bening yang hanya berdiri paling belakang diantara mereka.
Setelah itu Bening menepati janjinya dia pergi dari rumah sakit itu dan berlari menembus malam. Dia lalu pergi ke apartemennya dan mengambil beberapa pakaian juga surat surat penting miliknya.
Tidak lama dia meninggalkan sepucuk surat didalam laci miliknya. Dia ingin melangkah pergi namun kakinya terhenti, dia kembali menuju ruang cuci, mengambil satu kaos kotor milik suaminya yang teronggok di dalam keranjang baju kotor. Dia merasa hanya itu miliknya yang paling berharga diciumnya dan dibawanya pergi.
"Aku mencintaimu..." kata Bening sembari menutup pintu apartement. Dia menyeret kopernya dan berjalan pergi.
Dia tidak sadar seseorang memperhatikannya dari tadi.
__ADS_1
"Tuan dia membawa koper besar mungkin dia akan pergi jauh," kata Pria itu memberi kabar pada bossnya.
"Tetap ikuti kemana dia akan pergi," kata suara di balik handphone milik orang tadi. "Jika dia pergi jauh biarkan dia hidup jika tidak kau bunuh saja anak pembawa sial itu,"