Billionary Married Scandal

Billionary Married Scandal
Bukan lelaki biasa


__ADS_3

Bening masih menatap kaca dihadapannya, ini hari pertamanya masuk ke kantor di Indonesia. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk kuat menghadapi semuanya.


"Bening kau bisa...." kata Bening menyemangati diri sendiri. Dia takut untuk berpapasan atau bertemu kembali dengan orang orang dari masalalunya.


"Bu, aku diajak nenek pergi ke mall hari ini," kata Bayu yang baru saja masuk ke dalam kamar Bening. Anak itu menghampiri Bening dan berdiri di hadapannya.


"Wah...jalan jalan bersama nenek pasti menyenangkan, hanya saja ingat kau harus menurut semua yang dikatakan oleh nenekmu, dan jangan merepotkannya dengan rengekanmu."


"Okey mom aku anak hebat...kau akan lihat aku akan menjaga nenek seperti seorang super hero." kata Bayu sembari mempraktekkan gaya super hero kesayangannya.


"Bagus nak...hari ini ibu akan ke kantor kau baik baiklah jaga diri." kata Bening mencium kening Bayu.


"Apakah daddymu sudah bangun?"


"Dia sedang olah raga di ruang fitness, sedang uh...uh..." Bayu mempraktekkan bagaimana Abi yang sedang push up.


"Ibu akan membuatkan daddymu kopi...apakah kau sudah minum susumu..."


"Aku tidak suka dengan susu buatan suster aku mau ibu yang buatkan," rengek Bayu.


"Ibu akan membuatkan susu untukmu sekarang kita ke dapur terlebih dahulu." kata Bening merengkuh tubuh gempal Bayu dan menggendongnya. Dia mencium tengkuk anak itu.


"Ih ...geli mah..." Bayu menutupi lehernya dengan tangan mungilnya. Dan tertawa..


"Anak ibu masih bau asem belum mandi..." kata Bening.


"Aku mau mandi dengan ibu..." kata Bayu.


"Jika ibu memandikanmu ibu akan terlambat sayang. Jadi kau mandi saja bersama suster Lala."


"Ibu aku maunya mandi bersama ibu..." teriak Bayu.


"Itulah mengapa aku ingin kau dirumah saja mengurus keperluan Bayu. Dia sudah bertambah besar semakin banyak juga permintaaannya untuk diperhatikan. Dia mempunyai hak dari waktumu itu." kata Abi tiba tiba.


"Jika tidak begini dia tidak belajar untuk hidup mandiri, toh aku memberinya waktu dan perhatianku sewaktu aku pulang ke rumah."


"Terserah padamu..." kata Abi lagi.

__ADS_1


"Kau akan mandi Bi...aku akan menyiapkanmu baju." tanya Bening pada Abi.


"Aku akan mandi bersama daddy..."


"Tentu saja sayang kita bisa bermain sembari mandi..." kata Abi lalu mengambil Bayu dari rengkuhan Bening.


"Kau terlalu memanjakannya?"


"Itu adalah tugas seorang ayah bukan...dan aku daddynya.. akan melakukan yang kubisa untuknya." kata Abi.


"Aku tidak bisa membayangkan jika Abi akan jauh dari Bayu, pria itu sangat menyayanginya." batin Bening.


Bening lalu melanjutkan jalannya menuju dapur, disana sudah ada Tasya yang sedang memperhatikan pelayannya yang sedang membuat hidangan pagi untuk penghuni rumah ini.


"Pagi mom..." sapa Bening lalu mendekati rak piring dan mengambil satu cangkir dan tiga gelas berukuran jumbo.


"Kau ingin membuat kopi untuk Abi?" tanya Tasya. Bening menganggukkan kepalanya.


"Kau memang selalu bisa mengurus Abi dengan baik. Hidupnya kini lebih teratur setelah bertemu denganmu." puji Tasya.


"Itu bukan aku yang mengaturnya bu, tapi Abi sendiri yang ingin berubah."


"Aku bertemu dengan wanita itu tadi malam di bar bu."


"Kau bertemu wanita itu...?" kata Tasya mendekati Bening. Bening mengangguk sembari mengaduk susunya.


"Lalu..." Tasya penasaran terhadap lanjutan cerita Bening.


"Aku hanya jadi istri Abi dan membuat gadis itu terdiam tidak bergerak. Seharusnya ibu melihat wajahnya yang kemerahan karena malu dan marah, ha...ha..." kata Bening.


"Itu baru Dewiku...jika kau menantuku yang sebenarnya aku akan sangat bahagia. Menikahlah dengan anakku Dewi...aku akan mati tenang setelahnya,"


"Maaf ibu bukan karena Abi tidak baik hanya saja aku punya masalalu yang tidak bisa kujelaskan saat ini padamu.Masalalu itu membuatku masih terikat sampai sekarang."


"Kau tidak pernah mengatakan jika kau sudah menikah tapi cincin di jarimu mengatakan jika kau sudah menikah dan dia pasti bukan lelaki biasa, berlian biru yang tersemat bukanlah sebuah perhiasan biasa yang murah harganya." ujar Tasya.


Bening hanya diam, menatap jauh kedepan ingatannya kembali pada sosok Wirya yang terbaring lemah di rumah sakit. Buliran air matanya lolos dengan mudahnya tanpa bisa dicegah.

__ADS_1


"Jika kau sudah siap mengatakan siapa ayah Bayu aku akan mendengarkannya," kata Tasya. Namun Bening hanya diam menutup rapat identitas suaminya karena dia tahu jika Wirya adalah salah satu relasi besar perusahaan Abi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bening sedang di lantai tiga untuk meminta laporan kerja pada manager produksi perusahaan. Setelah semua urusannya selesai dia melangkah menuju lift khusus petinggi perusahaan. Lift terbuka dan dia terkejut ketika melihat Wirya bersama sekretaris wanitanya berada di dalam lift itu. Wanita itu serta merta menutup wajahnya dengan map di tangan. Dia ingin menghindar dan pergi dari lift itu tapi satu suara membuatnya diam.


"Masuklah nona lift ini akan segera tertutup."


Mendengar suara itu membuat hati dan tubuhnya bergetar. Nafasnya sesak dan rasa rindu dihatinya membuncah. Dia ingin memeluk pria dihadapannya tapi dia tidak bisa melakukannya. Bening hanya melangkah masuk ke dalam lift. Tombol dipencet liftulai tertutup dan naik ke atas.


Bening tidak berani menatap ke depan wajahnya tertunduk, matanya sudah mulai terasa panas, dan embun membuat penglihatannya mulai kabur. Dia melihat Wirya dari pantulan dinding lift. Dan tatapan mereka bertemu, Bening lalu menundukkan wajahnya lagi. Ini adalah siksaan yang nyata untuknya. Sesuatu yang dihindarinya dan ditakutinya kini berada didekatnya.


"Aku bahagia melihatmu telah pulih dari kecelakaan yang hampir merengut nyawamu,"


batin Bening.


....


Sedangkan Wirya sendiri merasa mengenali aroma tubuh wanita itu yang mengusik hatinya dan membuat penasaran jiwanya. Dia melihat sosok dihadapannya yang terlihat familiar, dia mencoba untuk mengingatnya, namun dia tidak tahu siapa wanita itu, wajahnya ditutupi oleh map seolah wanita itu tidak ingin wajahnya terlihat. Matanya seperti tidak ingin lepas memandangnya.


Tatapan mereka bertemu...deg...jantung Wirya berdetak lebih cepat, mata itu sayu itu...tampak sangat dekat dengannya.


Wirya ingin menyentuh pundak wanita itu namun lift terbuka dan wanita itu berjalan cepat seperti menghindarinya dan hilang di balik tembok.


"Selamat datang ke perusahaan kami tuan Wirya, tuan Abi sudah menunggu anda di ruangannya," kata seorang wanita di pintu keluar lift menghentikan langkah Wirya untuk mengejar sosok tadi, dia lalu membenarkan jasnya yang tidak kusut dan melangkah menuju ruangan Abi.


Bening sendiri berlari menuju toilet wanita dan menutup bilik toiletnya. Tangisnya tumpah ruah disana. Dia rindu pria itu disisi, lain dia teringat janjinya pada tuhan untuk pergi dari pria itu jika Wirya selamat.


"Mengapa begitu sesak disini..." kata Bening sembari memukul dadanya sendiri.


"Oh...tuhan aku merindukannya....sangat merindukannya...jangan siksa aku dengan perasaan ini..." kaki wanita itu lemas dan duduk di toilet, menangisi nasibnya sendiri.


Apakah setelah ini Bening akan bertemu dengan Wirya...?"


Favoritkan


like

__ADS_1


vote dan coment...


__ADS_2