
Wirya terbangun dari koma, dia menatap sekitar bingung atas apa yang telah terjadi. Ingin dia menggerakkan tangannya tapi rasa berat dan sakit menjalar ke semua bagian tubuhnya. Tidak terkecuali kepalanya, terasa sakit bagai ada benda yang menusuk di dalamnya.
"Ekh..." erang Wirya sambil menahan sakitnya.
"Untunglah kau lekas sadar Ya...kami sangat khawatir terhadap kejadian yang menimpamu."
"Apa yang terjadi?"
"Kau tidak ingat yang sudah terjadi...?"
"Aku tidak ingat apa apa? Dan siapa mereka semua?" tanya Wirya menunjuk keluarga Bening yang menunggunya. Tapi seketika lelaki itu meringis sakit lagi, memegang luka di kepalanya. Dokter dengan cepat menyuntiknya lagi dengan obat bius. Agar Wirya bisa kembali tertidur dan lukanya tidak semakin parah karena pergerakan yang Wirya lakukan.
"Apa yang terjadi dok?" tanya Edo pada dokter yang memeriksa Wirya.
"Sepertinya dia mengalami hilang ingatan untuk sementara waktu karena luka di kepalanya. Kepalanya terkena benda tajam tidak terlalu dalam hanya saja kita lihat seberapa parah akibat yang ditimbulkan. Belum lagi keadaan kakinya yang perlu penanganan lebih."
"Apakah sebaiknya kami mengirimnya ke Singapore untuk mendapatkan pengobatan terbaik?"
"Itu baik, tapi di Amerika penanganan terhadap pasien yang menderita akibat kecelakaan lebih baik. Banyak pasien yang dapat sembuh dengan total setelah mengalami kecelakaan parah." saran dari dokter itu.
"Kalau begitu kami akan mengurus keberangkatannya ke sana. Dokter persiapkan saja kondisi fisik dari adik saya ini?" kata Edo.
"Baik pak Edo akan kami lakukan yang terbaik baginya dan juga seorang dokter dan beberaoa perawat yang akan menemani perjalanan itu."
Setelah Wirya kembali tertidur semua keluarga keluar dari ruangan itu.
"Di mana Bening?" kata Sara yang tidak melihat istri Wirya dari tadi.
"Di manakah dia?" tanya yang lain juga sambil celingukan mencari keberadaan wanita itu.
"Mungkin dia keluar mencari sesuatu," jawab Lovely.
"Dia harus tahu keadaan suaminya," kata Sara kesal karena disaat adik iparnya membutuhkan dia malah gadis itu pergi entah kemana.
Dewinta sendiri menutup mulutnya yang sedang tersenyum senang. Dia merasa telah menang karena melihat penderitaan Bening.
"Semoga saja anak itu sadar diri karena selalu membuat sial bagi yang mendekatinya, dia seperti makhluk yang dikutuk oleh Tuhan agar selalu hidup sendiri," batin Dewinta.
Bianca sendiri merasa cemas terhadap Bening. Walau dia menyalahkan Bening atas kematian ibunya tapi bagaimanapun dia itu masih satu darah dengannya.
"Edo...sebaiknya aku pulang kembali ke rumah?" kata Kakek Bening yang berdiri dengan bertumpu pada tongkatnya.
"Tolong beri kabar tentang perkembangan pengobatan Wirya bagaimanapun dia sudah masuk ke dalam keluarga kami." lanjutnya.
"Iya kami akan memberi kabar tentang Wirya, hanya saja jika kau melihat Bening suruh dia kembali kemari, dia harus tahu keadaan suaminya saat ini.''
"Aku akan mencarinya mungkin dia hanya keluar untuk sebentar." kata kakek Bening. Mereka bertiga lalu pamitan ke semua anggota keluarga Wirya yang berada di tempat itu.
Dan pergi meninggalkan ruang perawatan Wirya.
"Kasim, Budi...kalian cari nona Bening saat ini juga di rumah sakit ini. Jika perlu lihat semua cctv yang ada. Aku khawatir dengannya saat ini." insting Edo mulai berjalan.
__ADS_1
"Baik tuan..."jawab dua bodyguard Edo. Mereka langsung pergi mencari Bening.
"Ada yang aneh dan disembunyikan oleh keluarga Bening. Dan mengapa selama ini Wirya rela mati matian menjaga anak itu hingga harus menikahinya masih manjadi pertanyaanku? Satu lagi, hanya Wirya yang tahu dalang semua ini. Sekretarisnya pasti tahu mengenai ini semua."
"Dia sedang di Perancis yah, mengurus proyek milik Wirya. Dia menggantikan keberadaan Wirya disana."
"Suruh dia pulang secepatnya dan menemuiku, kita harus membuka masalah ini. Ini tentang keselamatan adik bungsuku itu."
"Saranku, kita urus saja penyembuhan Wirya hingga dia sadar dari hilang ingatannya dan mengungkap siapa dalang semua ini." ujar Sara.
"Kau benar sayang..." kata Edo.
Tidak lama kemudian Kasim dan Budi menghampiri keluarga Malik.
"Tuan nona Bening sudah meninggalkan rumah sakit sedari tadi. Ini rekaman cctv yang memperlihatkan dia berlari keluar dari rumah sakit ini." kata Kasim menunjukkan video rekaman kepergian Bening.
"Dilihat dari rekaman ini dia lebih nampak seperti gadis yang frustasi...dan perkataan tantenya pasti membuat hatinya terpuruk, jangan jangan...." kata Sara.
"Zen kau dan Lovely pergi ke apartemen Wirya dan cari gadis itu. Apakah dia pulang kesana atau tidak" kata Edo cepat.
"Ya sudah ayah, ibu kami pamit terlebih dahulu." kata Lovely mendekap ayah dan ibu mertuanya.
"Zen cari informasi semua yang terkait mengenai masalah ini. Ayah dan ibumu akan pergi ke Amerika untuk mengantar pamanmu ini. "
"Baik yah...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kevin Xu assistan kepercayaannya ( kalau ada yg tahu nama asistant Wirya, aku baca ulang kok ngggak nemu atau aku belum kasih nama) melihat Wirya yang sedang menjalani terapi berjalannya. Bossnya itu sudah mulai bisa berjalan beberapa langkah sebuah perkembangan yang bagus. Menurut dokter dakam waktu dua bulan ini dia diperkirakan bisa berjalan normal lagi.
Rasa kasihan dan sedih menggelayut di hati Kevin tatkala melihat Wirya yang terjatuh dan berusaha bangkit lagi. Untung saja lelaki itu tidak mengingat sosok istrinya jika dia ingat dan tahu istrinya pergi meninggalkannya dengan seorang pria maka dia akan merasa sangat terpukul dan sedih.
Baru saja bossnya menemukan sebuah cinta dan berakhir dengan nestapa. Kevin Xu mendekati Wirya yang telah menyelesaikan terapinya. Dia langsung berlari membawakan kursi roda untuknya.
"Tuan...." kata Kevin mendekatkan kursi roda itu dihadapan Wirya.
"Kau membuatku nampak seperti pria lemah yang tidak berdaya." kata Wirya sembari mendengus kesal lalu mengambil sebotol air mineral dan menenggaknya hingga habis.
"Aku hanya tidak ingin anda terlalu lelah Tuan." kata Kevin membujuk Wirya agar mau naik kursi roda itu dari pada berjalan menggunakan penyangga tubuh.
"Kakiku juga terasa sakit akibat terjatuh tadi." kata Wirya lalu berjalan menuju kursi itu dan duduk. Sementara itu seorang bodyguard membereskan perlengkapan milik Wirya.
"Kita pulang tuan," kata Kevin sambil melajukan kursi itu.
"Bagaimana perkembangan kasusku?" tanya Wirya. Kevin sendiri bingung menjelaskan karena ini ada hubungannya dengan Bening, sedangkan dia diwanti wanti oleh Edo untuk menutup mulutnya perihal Bening sebelum keberadaan wanita itu ditemukan.
"Tuan Zen telah menangkap beberapa orang yang mencoba membunuh tuan. Nampaknya itu adalah suruhan orang orang yang mempunyai dendam pribadi terhadap tuan."
"Siapa mereka?" tanya Wirya lagi.
"Hanya sekelompok orang orang yang pernah terlibat langsung dengan tuan dahulu. Bukankah tuan dahulu mantan intelegent, pasti banyak sekali orang yang dendam."
__ADS_1
"Yah...kau benar..." kata wirya yang sadar bagaimana masa lalunya yang sering membunuh orang karena pekerjaannya.
Wirya sejenak tertegun mendengar suara bayi bayi yang menangis ketika mereka melewati ruangan khusus bayi.
"Anak!" kata Bening terkejut.
"Yah...umurku sudah tidak muda lagi aku ingin segera mempunyai anak," kata Bayu
Sebuah ingatan kembali, kata kata anak seolah mengingatkannya pada sosok wanita tapi siapa dia Wirya tidak bisa mengingat wajahnya dengan jelas. Melewati beberapa ruangan mereka tiba dia tiba di ruangan bersalin.
"Tuan Abimanyu sedang apa disini?" tanya Kevin pada seseorang di depan ruangan bersalin itu.
Yang di panggil sejenak menatap kedua orang dihadapannya. Seperti sedang mengingat,
"Oh...tuan Kevin dari Malik Corporation." kata Abimanyu maju untuk menyapa mereka berdua.
"Kenalkan tuan Wirya ini tuan Abimanyu salah satu klien kita yang berada di negara ini juga. Dan tuan Abimanyu dia adalah pemilik asli dari perusahaan tempat saya bekerja."
"Abimanyu...sebelumnya saya telah mendengar nama besar anda, tapi sekarang saya beruntung bisa bertemu dengan anda disini." kata Abimanyu sambil menyalami Wirya.
"Ba...yu...." terdengar rintihan seorang wanita yang sedang kesakitan, hati Wirya berdetak dengan kencang. Mungkin nama Abimanyu...sekilas terdengar sama Manyu...Bayu... Tapi panggilan itu seperti akrab ditelinganya.
Tidak lama terdengar bunyi suara bayi yang menangis, Abimanyu mengusap mukanya.
Dia berlari mendekati pintu ruangan. Hati Wirya juga ingin menantikan apa yang terjadi selanjutnya.
Tidak lama kemudian seorang perawat datang dengan menggendong seorang bayi mungil berbalut kain putih yang menutupi tubuhnya.
"Selamat tuan, putra anda telah lahir dengan selamat," kata perawat pada Abimanyu sembari menyerahkan bayi mungil itu pada Abimanyu.
"Dia terlalu kecil dan rapuh aku takut untuk mengendongnya," kata Abimanyu.
"Bolehkah aku melihatnya?" tanya Wirya. Kevin melongo tidak biasanya tuannya suka akan kehadiran seorang anak kecil.
"Tentu saja tuan Abimanyu suatu kehormatan bagi saya jika si kecil bisa di gendong oleh orang sebesar anda," kata Abimanyu.
"Kau terlalu memuji, aku sama seperti kalian,"
"Miss tolong serahkan anak itu pada tuan itu!" kata Abimanyu dalam bahasa Inggris( authornya males translate)
Perawat berambut pirang itu menyerahkan bayi itu pada Wirya. Wirya menyambutnya dan mendekapnya, lalu menciumnya setelah itu dia menyerahkan lagi kepada perawat itu.
"Sekali lagi selamat tuan Abimanyu," kata Wirya.
"Terimakasih tuan Wirya karena menyediakan waktu yang berharga anda." kata Abimanyu.
"Tuan nyonya Dewi menunggu anda didalam," kata perawat yang lain.
"Maaf saya tinggal terlebih dahulu," kata Abimanyu menyalami Wirya dan Kevin lalu masuk ke dalam ruangan itu.
Berat rasanya bagi Wirya untuk meninggalkan tempat itu. Dia memandangi pintu ruangan yang terbuka itu nampak lalu lalang perawat dan dokter di dalamnya. Andai saja dia punya istri pasti dia akan memiliki anak seperti Abimanyu dan hidup bahagia.
__ADS_1
Wirya menghela nafasnya dalam dan melalui isyaratnya dia menyuruh Kevin untuk melanjutkan jalannya lagi.