Billionary Married Scandal

Billionary Married Scandal
Kembalilah pulang


__ADS_3

Hadiah buat kalian yang mendukung karyaku,


Voucher pulsa 100 ribu buat pendukung terbanyak


voucher pulsa 50 ribu untuk 2 orang pendukung ke dua dan tiga terbanyak.


jadi kirimkan dukungan kalian sebanyak banyaknya. sampai tanggal 30 juni 2021 Pengumuman tanggal 1 juli 2021


Ini bentuk terimakasihku buat kalian yang udah baca karyaku dari one night with my CEO.


Kalau karyaku ini masuk rangking lagi nanti ada hadiah lanjutan. Kalau masuk..semua tergantung dari dukungan kalian para readers tercinta


Love you love you semua...


"Om mau ikut makan disini, memang di rumah om nggak ada makanan?" tanya Bayu polos melihat Wirya yang makanan makanannya dengan lahap.


" Uhuk...." Bening yang mendengar perkataan Bayu menjadi tersedak. Wirya dengan cepat menyerahkan segelas air putih pada Bening. Sedangkan Abi menahan tawanya.


"Bukan tidak ada makanan di rumah om, hanya saja disana om tidak punya teman yang menemani om makan. Jadi om kesini ingin ikut makan bersama Bayu,"


"Memang om nggak punya anak yang menemani om, om kan udah kayak bapak bapak harusnya udah punya anak," tanya Bayu lagi. Bening menatap tidak suka atas pertanyaan Bayu.


"Bayu tidak sopan jika bertanya seperti itu?" kata Bening. Wirya menggelengkan kepakanya pada Bening agar membiarkan anak itu bertanya. Bening sendiri hanya bisa menghela nafasnya.


"Anak om sedang tidak ada dirumah, pergi jadi om sendiri di rumah," jawab Wirya.


"Kenapa tidak disuruh pulang untuk menemani om?" tanya Bayu lagi.


"Om juga berharap anak om pulang ke rumah, jika dia pulang pasti rumah om akan ramai, tidak sepi lagi, dan berwarna juga penuh kebahagiaan," jawab Wirya sembari melirik ke arah Bening.


Melihat suasana yang membuat hati Abi menjadi gerah dan tidak nyaman, pria itu menghentikan makannya dan berdiri.


"Aku sudah selesai aku akan berangkat terlebih dahulu. Kau pergi ke kantor bersama sopir saja Dewi." ucap Abi.


Bening ingin menjawab tapi Wirya buru buru memotong.


"Aku ingin meminta ijin pada kalian untuk membawa Bening dan Bayu ke rumahku," kata Wirya sembari tersenyum cerah.


"Terserah pada Bening, jika dia tidak berkeberatan," kata Abi berlalu pergi dengan raut muka yang menunjukkan ketidak sukaannya. Tasya hanya diam mengerti perasaan anaknya yang sedang bersedih.

__ADS_1


"Kita akan pergi ke rumah om bu?" tanya Bayu.


Bening diam tidak menjawab.


"Ayolah bu, om bilang akan memberikan pesawat mainannya untukku," rengek Bayu kecil.


Bening dilema, akankah dia ikut atau tidak. Wanita itu menatap pada Tasya, orang yang sudah dianggap ibunya sendiri. Tasya sendiru mengerti arti tatapan Bening yang ragu dan meminta sebuah jawaban. Wanita separuh baya itu hanya menganggukkan kepalanya agar Bening mau ikut dengan Wirya.


"Baiklah aku akan ikut denganmu," jawab Bening.


"Terimakasih," kata Wirya senang lalu mencium kening Bening tiba tiba. Bening hanya terpaku mendapat serangan tiba tiba dari Wirya.


"Itu ibu Bayu, tidak boleh cium cium cuma Bayu yang boleh," kata Bayu manyun.


"Maaf sayang om hanya meluapkan rasa bahagia om,"


"Om katanya bahagia kalau anak om pulang, kenapa sekarang bahagia?"


"Karena kalian mau ke rumah om, itu merupakan kebahagiaan om."


"Akukan bukan anak om, aku anak daddy..." kata Bayu membuat hati Wirya sakit. Anak sendir memanggilnya om dan menganggap orang lain sebagai ayahnya. Mungkin Bayu butuh waktu banyak untuk mengenalnya. Wirya hanya tersenyum kecut.


"Butuh waktu nak Wirya, Bayu sudah dari bayi bersama Abi, hal ini membuat ikatan tersendiri di dalam hubungan mereka," terang Tasya.


Wirya menunggu Bening yang sedang bersiap. Hatinya berbunga bunga dan bahagia. Pelan namun pasti, itu yang akan dilakukannya. Dia tidak ingin memaksa tapi memastikan bahwa keinginannya tercapai.


Bening berjalan menggendong Bayu dengan tas disampiran tangannya. Wirya yang elihat langsung mendekatinya.


"Bayu om saja yang menggendong ya?" kata Wirya mengulurkan tangannya. Bayu lalu digendong oleh Wirya.


"Aku ingin pamit dulu pada mommie," kata Bening. Berlalu pergi ke halaman belakang rumah tempat biasa Tasya menghabiskan banyak waktu dengan tanaman hiasnya.


"Mom... aku pergi dulu," pamit Bening pada Tasya mencium punggung tangannya.


"Bening dia suamimu dan mom lihat dia pria baik dan bertanggung jawab. Pulanglah kembali padanya Bayu membutuhkan ayahnya kau tidak boleh egois. Tapi semua keputusan ada ditanganmu, mom hanya sebatas memberi saran,"


"Iya mom..aku akan memikirkannya,"


"Bukan kau difikirkan tapi itu kewajibanmu sebagai seorang istri untuk mengikuti suaminya kemana dia pergi," jawab Tasya yang membuat Bening terkejut dan mendongakkan kepalanya.

__ADS_1


"Bukan karena aku tidak suka padamu tapi yang kau lakukan akan banyak melukai orang orang lebih lama lagi. Abi akan sakit melihat kebersamaan kalian di hadapannya dan Wirya juga akan sakit bila kau memisahkannya dengan Bayu, aku akan sakit bila melihat Abi terluka, lalu Bayu akan sakit pula jika tahu bahwa Abi bukanlah ayahnya. Apakah kau berfikir hingga ke sana?"


"Pergilah, Wirya dan Bayu menunggumu," kata Tasya kembali dengan tanamannya. Bening hanya terdiam pergi keluar rumah. Di halaman depan nampak Wirya sudah menunggu di depan mobil. Nampak dua orang itu tertawa dan sudah nampak akrab satu dengan yang lain. Nampaknya ikatan darah membuat mereka akrab begitu cepat.


"Bagaimanapun mereka ayah dan anak, aku begitu egois memisahkan mereka," gumam lirih Bening lalu mendekat ke arah Wirya.


"Kau sudah pamitan selesai, bisakah kita pergi sekarang?" kata Wirya.


Bening mengangguk lalu Wirya membukakan pintu untuk Bening. Bayu sendiri duduk di pangku oleh Bening.


Setelah itu mobil melaju pergi. Sedangkan Tasya melihatnya dari kejauhan.


"Sebuah keluarga yang bahagia. Aku tidak tahu mengapa kau berkeinginan untuk menjauhi suamimu tapi aku melihat ada cinta dimatamu untuknya Dewi. Semoga kau cepat menyadari kesalahanmu itu."


Jarak rumah Wirya dari rumah Abi begitu dekat tidak memakan waktu lama hanya setengah jam saja, itu juga karena kendaraan di jalan liput.


Mereka berhenti di sebuah bangunan yang menjulang tinggi dengan pagar hitam besi dengan logo burung elang berwarna emas didepannya. Wirya membunyikan klaksonnya dan seketika pintu terbuka.


Nampak dua orang satpam menyambut kedatangan mereka dengan sikap hormat.


"Maaf aku belum pernah membawamu ke rumahku sebelumnya,aku hanya membawamu ke apartemen kita saja." kata Wirya sembari memasukkan mobilnya ke dalam halaman luas.


Mereka lalu keluar dari dalam mobil.


"Rumah om besar sekali..." kata Bayu melihat bangunan rumah yang besar dan menjulang tinggi.


"Kau suka..." kata Wirya memandang Bayu.


"Suka om..."


"Kalau kau tinggal disini apakah kau akan suka?" tanya Wirya lagi.


"Aku lihat kalau bagus aku mau ..." kata Bayu polos.


"Katakan pada ibumu kau ingin tinggal dirumah ini,"


"Memang boleh om...?" tanya Bayu lagi antusias.


"Tentu saja boleh. Apa yang om miliki itu semua buatmu?"

__ADS_1


"Boleh tidak bu kita tinggal dirumah ini?" tanya Bayu. Sekali lagi Bening hanya diam membuat Wirya hanya menghela nafas panjang.


"Bayu sudah mau tinggal disini, aku sangat berharap kau akan menurutinya. Hentikan sikap keras kepalamu. Runtuhkan dinding pemisah antara kita Bening," kata Wirya. Bening hanya bisa menahan tangisnya saja. Dia ingin sekali memeluk pria itu dan mengeluarkan semua ketakutan yang ada difikirannya.


__ADS_2