
Votenya masih sepi...
Aku punya hadiah voucher 100k buat kalian yang kasih dukungan terbanyak dan 50k buat dua orang yang kasih dukungan no 2 dan 3 terbanyak.
Notenya nunggu bayarannya keluar dulu dari NT katanya sih tanggal 30 juli udah keluar. Kalau udah kuberi tanggal satu kalau bukan hari libur.
Nah aku males nulisnya karena pembacanya sedikit banget, beda sama ONWM CEO pembacanya banyak, jadi aku up 2 sampai 3 episode perhari.
Tapi aku tetap setia kok di NT karena kalian semua.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bening benar benar takut melihat ekspresi kakak Wirya yang dingin itu. Pria itu menatap Bening dengan tatapan yang mengancam dan membunuh. Membuat wanita itu gentar untuk menampakkan diri. Dia lebih suka bersembunyi di belakang suaminya. Rasa lapar yang menderanya dari tadi mendadak hilang seketika.
"Bukankah itu anakmu!" Tanya Edo dingin.
"Aku bisa jelaskan nanti, tapi kami ingin makan terlebih dahulu. Apakah kau sudah makan kak?" tanya Wirya hati hati melihat suasana hati kakaknya yang tidak mendukung.
Akhirnya mereka bertiga makan di meja makan utama yang panjang. Bening hanya membolak balikkan makannya saja sudah tidak berselera lagi. Sedangkan Bayu minta disuapi oleh Wirya. Sesekali anak itu melirik dua orang tamu yang duduk tidak jauh dari mereka bertiga.
Makan malam telah selesai. Bening di minta untuk menidurkan Bayu terlebih dahulu. Wirya tidak ingin istrinya merasa tidak nyaman akibat keberadaan kakaknya. Jadi dia menyuruh Bening pergi agar bisa berbicara pada kakaknya dengan bebas.
"Kenapa kau membawanya kemari lagi?" tanya Edo pada Wirya dengan nada yang tegas tanpa basa basi.
Wirya mengambil segelas air putih dan meneguknya untuk menetralkan rasa di hati. Bawaannya yang cuek dan santai membuat Edo yang selalu serius kesal. Sara sendiri asik melihat layar hapenya. Dia sedang melihat perkembangan cucunya dari laman publik milik para mantunya yang cantik. Sheryl sendiri jarang suka meng-up load kegiatannya di media sosial.
"Pertannyaanmu itu aneh kak, kau bertanya mengapa aku bawa anak dan istriku kemari?"
"Bukan maksudku seperti itu bukannya istrimu itu telah menelantarkanmu selama ini? Kenapa kau membawanya kemari lagi?"
__ADS_1
"Aku tahu kau marah dan tidak senang atas kehadirannya kembali kemari. Tapi setidaknya dengarkan dulu ceritanya hingga selesai baru berkomentar," ucap Wirya.
"Cerita yang mana jelas jelas dia sudah mengkhianatimu dulu, aku melihatnya sendiri dia bersama pria lain di suatu apartemen."
"Ku kira kau orang yang teliti dan cerdik kak? Tapi memang terkadang orang salah membaca situasi dan keadaan. Mungkin saat itu keadaan emosionalmu sedang tidak stabil sehingga kau bisa langsung saja emosi tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu."
Edo terdiam sembari memainkan cerutu ditangannya.Otaknya mulai berfikir kali ini. Yah dia akui waktu itu dia terlalu emosi mendengar Bening hidup bersama pria lain tanpa meneliti dulu kebenarannya.
Wirya sedang dalam keadaan tidak baik baik saja dan istrinya malah pergi meninggalkannya, kakak mana yang tidak marah melihatnya. Belum lagi perlakuan Bening selama mereka bersama, dia selalu bertindak kasar pada adiknya. Dia sama sekali tidak dapat menerimanya.
"Okey jelaskan padaku mengapa Bening melakukan ini semua,"
Wirya lalu berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya. Beberapa saat kemudian dia keluar dari ruang kerja dengan membawa laptopnya.
"Kau lihat sendiri apa saja bukti yang ada di dalamnya. Tidak perlu banyak bicara karena Bening sendiri tidak tahu akan hal ini. Aku harap kita bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya," kata Wirya sembari memperlihatkan banyak dokumen dan juga rekaman pesan pesan terakhir dari nomer Bening dahulu.
"Nah aku mencari data orang dengan nomer itu. Tapi data itu tidak valid orang yang mempunyai data itu menyerahkan datanya pada seseorang. Dan dia adalah pelakunya, kau kenal orang ini kan kak?"
"Yah...seperti yang kau tahu ini kasus lama yang cukup rumit dan ini juga berkaitan dengan pembunuhan ayah Bening. Dan aku juga curiga bahwa nenek Bening juga meninggal karena di bunuh. Bukankah dia ditemukan sudah tergeletak di bawah anak tangga? Kemungkinan itu disengaja, ada yang membunuhnya." Terang Wirya.
Prang... sebuah guci jatuh akibat tersenggol oleh Bening. Wanita itu hanya diam saja di tempat tanpa ekspresi.
"Bening sejak kapan kau berada disitu?" tanya Wirya khawatir, dia lalu berjalan mendekati istrinya.
"Katakan sejujurnya benarkah nenek dibunuh?" tanya Bening sembari menarik kerah baju Wirya.
"Tenanglah, inilah yang membuat aku tidak mau mengatakan segalanya padamu. Kau begitu rapuh dan kau tidak akan bisa menahan semua ini," kata Wirya.
Kaki Bening lemas dia jatuh terduduk di lantai, dia hanya bisa menangis.
__ADS_1
"Bertahun tahun aku hidup dalam rasa bersalah ini, karena aku semua orang mati mengenaskan. Ibu, ayah dan nenek. Dan kau juga hampir mati karenaku," kata Bening.
"Waktu itu aku dan nenek sedang bermain di kamarku. Terdengar suara orang datang ke atas. Nenek berkata agar aku di kamar saja dan jangan keluar sebelum nenek memanggil. Aku tidak tahu apa yang terjadi hanya saja paman dan nenek terdengar bertengkar. Aku sangat ketakutan waktu itu jadi aku menutup telingaku dengan bantal agar tidak mendengar pertengkaran mereka. Tidak lama kemudian hening seketika. Aku memberanikan membuka kamarku. Berjalan pelan mencari nenek tapi aku melihat nenek yang tergeletak di lantai bawah dengan darah yang mengucur deras dari kepalanya. Aku berlari ke bawah dan berniat menolong nenek. Tapi kakek datang dan melihat keadaan nenek. Kakek sangat marah padaku, dia mengira aku penyebab kematian nenek. Itulah sebabnya aku dibuang jauh ke kota S agar kakek tidak perlu melihatku lagi." kata Bening.
"Dan kau tidak menceritakan apa yang kau dengar pada semua orang?" tanya Sara pada Bening.
"Siapa yang akan percaya padaku. Mereka semua membenciku. Tidak ada yang menyayangiku hanya nenek saja dan tante Bianca tapi itu dulu sebelum nenek meninggal. Setelah kematian nenek, tante tidak mau lagi berbicara padaku." Kata Bening.
"Betapa malang sekali nasibmu, Nak. Di umurmu yang masih muda kau telah mengalami banyak derita hidup. Kau sebenarnya seumuran dengan Sheryl anakku tapi kau malah menikahi bujang tua ini." Ucap Sara pada Bening.
"Dia yang selalu melindungiku dari kecil," kata Bening menatap Wirya.
"Jadi karena balas budi kau mau menikahinya?" tanya Sara lagi.
"Tidak karena paksaan kakek awalnya tapi melihat kegigihannya membuat hatiku trenyuh, mungkin hanya dia satu satunya pria yang bisa mencintaiku sedalam itu." Jawab Bening tersipu. Wirya hanya tersenyum melihatnya. Dan mengelus lembut rambut Bening.
"Kau beruntung memiliki istri cantik dan muda sepertinya Wirya," kata Sara sembari memukul lengan Wirya.
"Niat awalku menikahinya hanya untuk melindunginya karena ayahnya telah rela mengorbankan diri demi untuk melindungiku. Ayahnya menitipkannya padaku sebelum dia menghembuskan nafas terakhir. Oleh sebab itu, aku merasa berkewajiban untuk melindunginya dari kecil. Semua kebutuhannya aku penuhi hingga aku juga memberinya seorang pengasuh untuk menjaganya. Hingga suatu ketika mata mataku memberi tahu jika Bening akan dijebak dengan sebuah kasus agar bisa dijebloskan ke penjara. Aku lalu memaksa kakeknya untuk memberikanku restu agar dapat menikahinya."
"Setelah itu kau jatuh cinta padanya?" kata Edo."Kau itu pandai tapi bertingkah bodoh, kau tidak perlu berpura pura menjadi lelaki miskin untuk mendapatkannya,"
"Aku hanya ingin melihat sifat aslinya dan perangainya saja. Ternyata dia adalah wanita rapuh yang bersembunyi di sifatnya yang angkuh." kata Wirya.
Bening menatapnya dengan penuh seksama, dia bertambah kagum pada Wirya yang cepat tanggap terhadap masalah yang terjadi dan menyelesaikannya sendiri tanpa satu orangpun tahu.
"Aku sedang mengungkap dalang dibalik semua masalah namun kecelakaan itu membuatku lupa ingatan. Sebenarnya bukan kecelakaan itu yang membuatku lupa ingatan tapi seseorang selalu memberikanku obat yang membuatku melupakan semuanya." Perkataan Wirya membuat terkejut semua orang yang berada di tempat itu.
"Siapa dia Wirya?" tanya Edo pada adiknya.
__ADS_1
"Kevin Xu,"