
Wirya memakan buah jambu itu dengan sangat lahap, dia sampai tidak memperdulikan sekitar yang menatapnya tanpa berkedip.
Jambu itu nampak biasa saja, namun cara makan pria itu membuat orang yang melihat tergiur untuk merasakannya.
Zen lalu mau mengambil satu buah jambu air. Namun tangan Wirya menepisnya dengan keras.
"Ambil saja sendiri di atas sana, jangan mengambil punyaku," lontar Wirya.
Zen menarik tangannya lagi. Diiringi tatapan tajam Lovely.
"Sayang aku hanya ingin mencicipinya saja, itu terlihat lezat. Lagian pamanku ini sama keponakan sendiri saja pelitnya minta ampun."
"Wirya, ini masalah serius, kita belum tahu siapa dalang itu dan Arnoult yang harusnya bisa kita mintai keterangan malah sudah meninggal," kata Edo.
"Hemm ... biarkan saja dia mati, besok juga paling-paling dalang semua ini keluar sendiri mencari mangsanya," jawab Wirya enteng.
"Wirya ... kau dan keluargamu itu mangsanya." Sara menggelengkan kepala dan mengelus dadanya melihat ketidak acuhan Wirya pada masalah ini.
"Kakak ipar aku sudah memprediksikan ini dari lama. Aku hanya perlu memancingnya agar kau keluar dari tempat persembunyiannya. Eh ... bukan ... bukan ... .'' ucap Wirya sembari menggelengkan kepala.
Dia memakan satu biji jambu itu lagi, baru meneruskan perkataannya, "Maksudku, agar dia membuka topeng dirinya. Kita jadi bisa melihat siapa sebenarnya dalang pembunuhan ini," kata Wirya.
"Kau berarti sudah mempunyai rencana matang untuk ini?" tanya Edo seksama.
__ADS_1
"Sayang tolong ambilkan aku jus jeruk yang tadi ku pesan, aku haus," teriak Wirya pada Bening yang sedang di belakang menyiapkan makanan dan minuman untuk para tamu.
"Aku sudah menyiapkan semuanya kak, kau tidak perlu cemas. Kau hanya perlu siapkan Raihanna saja," kata Wirya.
"Untuk apa kau membawa Raihanna," tanya Edo tidak setuju jika macannya di bawa keluar dari kandangnya.
"Untuk menakuti bibi Bening, aku mau membawanya ke sana setelah acara pemakaman paman Bening selesai," jawab Wirya enteng.
"Kau ingin menghibur bibi Bening, Om?" tanya Lovely.
Wirya yang pernah menaruh hati pada Lovely sangat tidak suka jika wanita itu memanggilnya Om, bukan karena masih cinta, tapi perasaan sudah berumur menghinggapi dirinya. Dirinya enggan dibilang tua karena istrinya masih segar dan cantik.
"Lov ... jangan panggil aku Om," kata Wirya. Perkataan Wirya sontak membuat semua orang memandangnya penuh selidik, apalagi Zen dia menatap tajam pamannya.
"Apa maksud paman Wirya," selidik Zen yang pernah tahu jika pamannya sempat menaruh hati pada istrinya.
"Kau sudah berumur paman, umurmu saja sudah hampir empat puluh tahun," kata Zen sembari mengambil satu jambu yang terlihat enak di matanya. Tapi tangan Wirya menepisnya dengan cepat.
"Jangan bilang kau juga sedang ngidam Zen, kasihan Lovely jika dia hamil lagi dan Rasha masih terlalu kecil untuk diberikan adik," kata Wirya.
Edo dan Sara melihat ke arah Lovely bersamaan. Lovely hanya mengangkat kedua bahunya.
"Yah, kau benar dia sedang hamil anak keempat kami,'' ujar Zen mengambil satu jambu lagi.
__ADS_1
"Benar itu Love?" tanya Sara terkejut.
"Tidak, bu. Dia hanya mengarang cerita," jawab Lovely malu. Dia sudah punya anak tiga sekarang jika dia hamil lagi anaknya pasti akan bertambah satu. Terlalu banyak fikir nya.
"Sayang kau sudah terlambat bulan satu hari ini," jawab Zen.
"Baru satu hari, ih ... aku belum mau punya anak lagi. Tiga sudah cukup banyak," kata Lovely risih ditanyai soal anak.
"Ibu punya anak lima, tidak masalah? Betul Bu. Dan aku senang jika kau hamil lagi. Paman Wirya pun senang jika punya anak banyak. Itu sebuah kebanggaan buat kami para pria," jawab Zen.
"Bibik Bening jika kau punya anak banyak apakah itu masalah untukmu," kata Lovely mendekati Bening yang sedang memperhatikan pelayannya menyajikan makanan dan minuman. Wanita itu mencari dukungan sesama wanita.
"Dua saja cukup," jawab Bening.
"Kau lihat?" kata Lovely melihat ke arah Zen.
"Sudah ... sudah ... kita kembali ke pembahasan awal. Apa yang akan kau lakukan Wirya?" tanya Edo.
"Aku akan mengalihkan saham kepunyaan almarhum nenek Bening menjadi milik Bening. Pasti mereka akan sangat terluka. Kematian anaknya memukul hati mereka di tambah dengan pengalihan hak waris itu. Itu sama saja memanggil singa keluar dari kandangnya. Dan kita perlu satu lubang saja agar singa itu jatuh ke perangkap kita," rencana Wirya.
"Dengan cara apa kau membuat lubang jebakan itu?" tanya Edo.
"Dengan cara membuka semua tabirnya," jawab Wirya mantap.
__ADS_1
Tiba-tiba seorang pelayan berlari ke arah mereka.
"Tuan ... Tuan muda Bayu baru saja menghilang?" ucap pria itu ketakutan.