
Terlihat seorang anak anak berlari lari dikeramaian bandara. Dia merasa senang karena pertama kalinya dia akan pergi ke rumah neneknya. Nenek yang selama ini hanya dilihat di layar handphonenya saja.
"Bayu...tunggu daddy...?" kata seseorang memanggil anak itu. Namun anak itu tetap berlari dengan riangnya. Hingga dia menabrak seseorang yang berjalan di kawal oleh beberapa orang berpakaian jas hitam lengkap.
"Eits...hati hati anak kecil," kata Pria itu menangkap tubuh kecil tapi gempal itu yang hampir terjatuh karena tertabrak kaki lelaki itu.
Seketika mata kecil itu memandang pria dihadapannya itu. Lalu tersungging senyum polos dan menggemaskan darinya.
"Terima kasih om..." Sejenak Wirya terpana akan wajah yang terlihat tidak asing dihadapannya itu. Wajah siapa itu, dia berusaha untuk mengenalinya tapi otaknya tidak merespon untuk mengingatnya.
"Anda tidak apa apa tuan?" tanya Kevin pada Wirya. Wirya hanya mengedipkan matanya. Tidak berapa lama nampak seorang pria berlari kearahnya dengan tergopoh gopoh.
"Bayu... jangan berlari lagi bagaimana jika kau diculik," kata Pria itu.
"Bayu..." gumam Wirya lirih.
"Bayu sudah bilang Bayu itu kuat, lebih kuat dari daddy tidak ada yang akan berani menculik Bayu," jawab Bayu kecil.
"Tuan terimakasih ka .." kata Pria lalu tertawa, setelah melihat yang berada dihadapannya adalah klien besarnya.
"Ternyata tuan Wirya yang menolong menangkap anak nakal ini," kata Abi sembari menggendong Bayu. Wirya langsung menepuk lengan Abi.
__ADS_1
"Apakah dia yang waktu itu?" tanya Wirya. Dan hanya dijawab anggukan oleh Abi.
"Kau sudah besar rupanya boy.Pantas aku tidak asing dengan wajahmu, boy." kata Wirya sembari mengacak lembut rambut Bayu. Seketika mulut anak itu dikerucutkan dua centi, pipinya yang gembul bertambah mengembung. Matanya menajam. Dia nampak tidak suka jika tatanan rambutnya dirusak oleh seseorang. Tangan Wirya lalu ditepis dengan sikap arrogantnya. Lalu, dua tangannya dilipat di dadanya.
"Daddy...dia membuat rambutku acak acakan, oh...bagaimana jika ibu melihatnya, dia pasti akan mengomel seharian."
"Dia tidak akan marah, nanti biar daddy yang mengatakannya," kata Abi pada Bayu sembari membetulkan tatanan rambut anak itu.
"Anakmu tampan dan sangat menggemaskan sekali?" kata Wirya yang terpana pada ketampanan wajah Bayu kecil.
"Ya, dia juga sangat cerewet sekali sama seperti ibunya."
"Tuan..." kata Kevin menunjukkan jam tangannya. Wirya lalu paham maksud Kevin Xu.
"Berarti kita sama sama akan kembali ke tanah air. Kalau begitu sampai berjumpa lagi di Indonesia." kata Abi.
"Dan untukmu jagoan...om akan menggendongmu lagi jika kita bertemu nanti." kata Wirya mencubit dan mencium pipi gembul anak itu. Dia sangat gemas pada anak kecil itu.
Bayu kecil nampak sangat kesal dia mengusap kedua pipinya dan memandang Abi untuk mengadukan ketidak senangannya atas perbuatan Wirya.
"Daddy dia mencubitku hu...hu..." tangis manja Bayu. "Aku akan mengadukannya pada ibu jika ada om yang nakal padaku..."
__ADS_1
"Aku akan menunggu ibumu datang dan memarahiku..." kata Wirya mengacak lagi rambut anak itu dan berlalu pergi.
Tidak lama kemudian Dewi datang menghampiri keduanya. Anak kesayangannya nampak menangis dibahu Abi.
"Kau kenapa dear...cup ...cup ...cup." kata Dewi sembari mengangkat Bayu dari gendongan Abi dan mendekap anaknya itu.
"Ada om yang nakal kepadaku...dia mengacak rambutku dan mencubit pipiku hingga kemerahan bu. Dia telah melukai pipiku..." Dewi memutar bola matanya malas.Anaknya ini suka sekali membesarkan masalah.
"Oh...mana coba ibu lihat, wah... wah...wah...berdarah...kita harus ke rumah sakit untuk mengobati luka itu." kata Dewi yang tidak kalah lebay.
"Aku tidak kau ke rumah sakit aku mau ibu memukul om itu?" kata Bayu lagi.
"Kau tidak boleh memukul sembarang orang?"
sambung Dewi.
"Ibu...dia mencubitku ibu harus memarahinya,"
"Ibu akan memarahinya nanti dan juga menjewer telinganya sekarang jangan menangis lagi pangeran ibu tersayang."
Setelah mendengar perkataan ibunya Bayu baru berhenti menangis.
__ADS_1
"Kau tahu? Aku baru saja berte..." kata Abi tapu terhenti ketika mendengar panggilan bagi penumpang pesawat tujuan Indonesia agar segera melakukan boarding karena pesawat sebentar lagi akan melakukan penerbangan.
Mendengar hal itu Dewi langsung berjalan ke depan takut ketinggalan pesawat. Abi lalu berjalan disampingnya. Mereka terlihat seperti keluarga yang bahagia.