
🌸
🌸
"Jangan-jangan bos kamu punya anak gadis ya, terus mau di jodohkan sama kamu?" tanya Viona dengan gusar, dia menatap sang suami yang justru tersenyum geli itu.
"Apakah istriku sedang cemburu?"
"Huh, nggak mungkin lah, aku cuma tanya. jangan macam-macam ya, kamu sudah punya istri." tegas Viona, kemudian dia berbalik dan memunggungi Reno.
Reno tertawa geli, hatinya menghangat mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari bibir Viona. Maka tugasnya sekarang adalah bersabar dan berusaha menjadi suami yang bisa di andalkan oleh Viona.
Suatu hari nanti rasa cinta pasti akan tumbuh di hati Viona, entah itu cepat ataupun lambat. tidak masalah kalau dia harus bersabar.
bukankah ada pepatah yang mengatakan sabar pasti akan berbuah yang sangat manis.
"Jangan ngambek, percayalah. suamimu ini bukan tipe pria yang pintar membagi cinta Sayang, pegang saja kata-kata ku," kata Reno, sambil memandang punggung sang istri.
"Memang kamu bisa di percaya? kita baru beberapa hari kenal lho?" Viona membalikkan tubuh lagi, hingga bisa menatap wajah tampan yang sejak tadi tersenyum itu.
"Percaya atau tidak, itu hak kamu. yang jelas suami kamu ini keren, nggak mungkin akan sembarangan mengobral cinta."
"Gombal ... " Viona merona, dia kembali membalikkan tubuhnya, hingga yang bisa dilihat hanya punggung yang terbalut piyama tidur itu.
Reno terkekeh geli, dan dia tak lagi berusaha untuk merayu istrinya, karena dia tahu, Viona bukan tipe wanita yang mudah tunduk hanya dengan rayuan manis.
***
Pagi menjelang, Reno sudah berada di dapur minimalis miliknya, berkutat dengan alat dapur yang sudah biasa dia pegang.
Biarpun dia laki-laki, dia sudah terbiasa memasak sendiri, dia lebih nyaman kalau bisa makan dengan hasil kreasi tangannya sendiri.
sesekali bolehlah, makan di luar, itu juga kalau terpaksa.
"Masak apa, Mas?" suara merdu mendayu menyapa indra pendengarnya, membuatnya yang sedang mengaduk nasi goreng menoleh, dan mendapatkan sang istri yang masih acak-acakan karena baru bangun tidur.
"Nasi goreng, hanya ini yang bisa di masak pagi ini, apa istriku yang cantik mau sarapan yang lain?" goda Reno.
"Masih pagi Mas, jangan menebarkan rayuan pulau kelapa, karena aku tidak akan tergoda," ketus Viona, dia menyandarkan bokongnya pada meja kompor.
__ADS_1
"Kata-kata mana yang menurut kamu rayuan?" tanya Reno, dia mematikan kompor karena nasi gorengnya sudah siap di santap.
"Aku jadi nggak yakin, kalau kamu ini lugu dan polos seperti kata-kata Mama?" mata Viona memicing, mengamati suaminya yang tampan, walaupun dia bukan tipe suami impiannya.
"Oh ya, kenapa?"
Reno segera memindahkan nasi goreng dari wajan ke dalam mangkok besar, dan menatanya di atas meja, bersama dua gelas teh dan telur ceplok.
"Mau sarapan dulu atau mandi dulu?" tanya Reno dengan lembut, dia tidak terpancing dengan segala kecurigaan yang di lontarkan istrinya.
"Mandi dulu boleh nggak?" tanya Viona, tetapi kedua matanya tidak lepas dari nasi goreng yang terlihat menggugah selera itu.
"Mandi aja, aku tunggu, lalu kita sarapan bareng."
"Beneran ya, jangan sarapan sebelum aku kembali," kata Viona.
"Iya, Sayang."
"Ok .. ".
Viona melesat ke kamar mandi untuk mengambil keperluan untuk mandinya, karena disini memang hanya ada satu kamar mandi di belakang, tidak seperti di rumahnya yang ada kamar mandi dalamnya.
"Tunggu aku ya?" Reno tersentak saat mendengar suara Viona, wanita itu melintas dengan handuk yang ada di pundak, bergegas ke kamar mandi.
"Kalau begitu mandinya jangan lama-lama, biar nggak aku habiskan." Reno menggelengkan kepala, melihat tingkah Viona yang menggemaskan.
"Enak aja, awas kalo di habisin." teriak Viona dari dalam kamar mandi, dan Reno hanya bisa tertawa.
Reno kembali fokus dengan ponselnya, memeriksa laporan keuangan bengkelnya. dia tadi sudah mengirim pesan untuk anak buahnya, si Tono, untuk membuka bengkel, karena mungkin dia datang agak siang, atau bahkan tidak datang sama sekali.
Ketiga karyawan bengkelnya sudah tahu kalau sang bos menikah kemarin, cuma memang Reno melarang mereka datang, karena pernikahannya dan Viona hanya untuk keluarga saja.
Mungkin kalo nanti ada resepsi, baru mereka akan di undang. Bengkel yang dia kelola semakin maju, dan berkembang, Reno cukup optimis bisa menghidupi Viona, walaupun istrinya itu tidak lagi membuka butik.
"Ayo sarapan dulu, Mas."
Reno tersentak lagi, aroma sabun yang menguar membuatnya mendongak, dan lebih kaget lagi melihat penampilan sang istri yang hanya berbalut handuk, yang menutupi dada dan setengah pahanya.
"Gan- ganti baju dulu, Sayang." Reno berkata dengan susah payah, kedua matanya yang masih polos dan suci harus melihat pemandangan yang bisa menaikkan adrenalin.
__ADS_1
Reno menelan salivanya, pemandangan di depan mata sungguh membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Kelamaan Mas, perutku sudah kelaparan, memang kamu mau aku pingsan?" kata Viona cuek, dia mengambil beberapa centong nasi dan telur ceplok, mengabaikan tatapan suaminya yang sudah bak serigala melihat mangsanya.
"Makan Mas, jangan melihat aku terus, nggak akan kenyang." Viona melahap nasi goreng buatan sang suami dengan penuh semangat, apalagi masakan Reno memang selalu enak dan pas di lidahnya.
"Aku tersiksa, Sayang." guman Reno, tapi terus saja menatap istrinya yang terlihat begitu seksi itu, apalagi rambut panjangnya yang setengah basah dan tampak berantakan, membuat Reno harus bersusah payah meredam hasrat yang muncul tiba-tiba.
Bagaimana pun dia laki-laki normal, dan baru kali ini melihat pemandangan wanita yang setengah telanjang seperti itu, sungguh meresahkan jiwa.
Bisa saja dia menerkam sang istri, karena wanita itu sudah jadi istrinya yang sah, dan hak nya juga bila ingin bermesraan dengan Viona, tapi dia tidak ingin membuat Viona membencinya, karena sudah melanggar janjinya.
"Jangan berlagak kayak pria polos deh ," kata Viona dengan nada mencemooh.
"Aku memang masih polos," kata Reno, dia menyuap nasi dengan susah payah.
"Huh, sudah setua ini masa iya belum pernah lihat wanita nggak pake baju sih?"
"Memang iya, baru kali ini aku melihat pemandangan seperti ini."
"Amira?"
"Kami tidak pacaran Sayang, hanya pernah dekat, tapi tidak pacaran."
"Hah ... "
"Ya hanya saling suka begitu, terus orang tuanya tidak suka sama aku, jadi, ya bubar deh," kata Reno, dia berusaha untuk tidak terlalu sering menatap tubuh Viona.
"Ciuman?" kejar Viona, mulutnya terus saja mengunyah, sudah dua kali dia nambah tadi.
"Astaghfirullah, nggak lah Sayang, pegang tangan aja nggak pernah kok," kata Reno seraya mengelus dada.
"Hah, terus ngapain aja selama ini?"
*bersambung ...
🌸
🌸*
__ADS_1