Bukan Suami Impian

Bukan Suami Impian
Jangan-jangan, hamil


__ADS_3

🌸


🌸


Viona tampak menelungkupkan wajahnya pada meja kerja di ruangannya. Beberapa hari sudah berlalu sejak keduanya menginap di rumah orang tua Viona.


Sudah dua hari ini dia merasa tidak enak badan. Kepalanya mendadak sering pusing, saat bangun tidur di pagi hari juga merasa mual, dan menjadi pemalas. Reno sudah menyarankan untuk memeriksakan ke dokter, tapi Viona menolak, karena memang dia merasa tidak sakit.


"Kita ke dokter ya, Sayang." Reno menatap sang istri penuh kekhawatiran, apalagi melihat wajah cantik Viona yang terlihat pucat.


"Nggak usah Mas, nanti juga baik. Paling masuk angin aja." Viona menolak, sejujurnya dia tidak begitu suka dengan bau rumah sakit atau bau obat.


"Tapi Sayang, wajah kamu pucat banget, aku khawatir," Kata Reno lagi, melihat wajah cantik istrinya yang terlihat sedikit pucat, membuatnya nyaris tak tenang.


"Sudah Mas, jangan khawatir, mungkin aku kecapekan juga bisa." Viona tersenyum, memeluk tubuh suaminya, dan menghirup aroma tubuh yang sangat dia suka. Apalagi pada saat Reno belum mandi, entah mengapa akhir-akhir ini sangat membuatnya candu.


"Hey, aku belum mandi Sayang." Reno merasa tak enak, saat istrinya malah mengendus lehernya, ah, dimatanya Viona seperti anak kucing yang lucu dan mengemaskan.


"Nggak apa-apa Mas, aku suka baunya, masih tetap wangi kok."


Akhirnya Reno mengalah, membiarkan sang istri mengendus dan menciumi seluruh tubuhnya, sesuka hati, jarang-jarang wanita cantik itu berinisiatif manja kepada dirinya, dan ibarat kata seperti mendapatkan durian yang runtuh.


"Mbak ... " Sebuah panggilan membuyarkan lamunan Viona, dia mengangkat kepalanya dan melihat Rani yang sudah berdiri di depan meja kerjanya.


"Ada apa Ran?" Tanya Viona malas, dia terpaksa mengangkat kepalanya,lalu menyandarkan punggungnya ke belakang.


"Mbak Vio kenapa? sakit ya?" Bukannya menjawab pertanyaan sang Bos, Rani malah balik bertanya. Melihat wajah Viona agak pucat, membuat gadis muda itu khawatir. Hubungan antara dirinya dan Viona sudah seperti sahabat sendiri, alih-alih hubungan antara atasan dan bawahan.


"Hemm, iya Ran. Nggak tahu kenapa, tubuhku beberapa hari ini selalu lemas, sering pusing, dan napsu makan berkurang." Keluh Viona.


" Hah, jangan-jangan ... " Rani menggantung kata-katanya, membuat Viona menatapnya penasaran.


"Jangan-jangan apa, Ran."


"Mbak Vio, sudah datang bulan belum yang bulan ini?" Tanya Rani lagi.


Viona memicingkan kedua matanya, kemudian menggaruk pelipisnya, mengingat bahwa bulan ini dia belum mendapatkan haidnya. Sejak mereka menikah, baru satu kali dia datang bulan, dan belum pernah dapat lagi sampai sekarang.


"Kayaknya belum Ran,tapi memang siklus datang bulanku agak berantakan sih," Ucap Viona, dia masih belum bisa menangkap ke arah mana ucapan Rani.


"Ada baiknya di tes dulu Mbak."


"Tes apa, tes darah?"


"Aduh, mbak. Jangan-jangan Mbak Vio isi," Kata Rani gemas.


"Isi?"


"Iya."


"Jelas isi Ran, tiap hari kan makan." Ketus Viona, mulai kesal dengan Rani yang dari tadi hanya berputar-putar saja.


Rani terkekeh, gadis itu sampai memegang perutnya."Maksud aku, ada kemungkinan mbak Vio hamil."

__ADS_1


Viona tersentak. Sejenak dia tidak bisa berkata-kata, menatap Rani seakan tak percaya.


"Memang kamu pernah hamil?"


"Aduh, mbak Viona, kenapa malah nanya yang nggak-nggak, saya kan masih single, hamil dari mana coba," Jawab Rani, agak kesal sedikit atas pertanyaan sang Bos.


"Kenapa bisa menyimpulkan kalo aku hamil?"


"Aku tahu, karena ciri-cirinya mirip kakak aku waktu hamil dulu Mbak, persis seperti mbak Vio gitu."


"Oh ya." Bola mata Viona berbinar bahagia, membayangkan bila semua itu benar, tentu suaminya akan sangat bahagia.


"Di cek aja dulu mbak, saya doakan supaya positif." Rani tersenyum tulus.


"Baiklah, nanti aku mampir ke apotik, beli tespek nya." guman Viona.


"Iya Mbak."


"Ngomong-ngomong, kamu tadi ke sini mau apa Ran?" Tanya Viona.


"Itu mbak, saya besok mau minta izin, setengah hari kerja, pagi sampai makan siang saja," kata Rani sedikit malu-malu.


Viona mengernyitkan dahinya."Ada apa?"


"Pacar saya mau melamar, Mbak."


"Wow, Alhamdulillah."


"Iya mbak, saya mau bantuin Ibuk menyiapkan makanan untuk menyambut kedatangan calon mertua saya."


"Nggak apa-apa gitu mbak, saya libur dari pagi."


"Nggak apa-apa, Ran."


"Makasih ya, Mbak."


"Sama-sama."


"Ran, tolong belikan bakso urat ya, didepan ada kan?" Kata Viona tiba-tiba, membayangkan semangkuk bakso dengan kuah gurih dan sambal yang pedas, membuat air liurnya hampir menetes.


"Hah, nah, benar kan, mbak Vio ngidam ini." kata Rani.


"Hus, ngidam bagaimana?"


"Ini, tiba-tiba pengen bakso."


"Pengen aja, Ran."


"Siap Mbak, ada lagi?"


"Minumnya es jeruk ya, es batunya yang banyak."


"Ok, laksanakan." Kata Rani.

__ADS_1


"Jangan lupa pesan juga untuk kalian ya?"


"Iya, Mbak."


🌸🌸🌸


Reno tampak merenggangkan ototnya sejenak. Pria muda itu merentangkan kedua tangannya le atas. Rasa lelah dan capek begitu menderanya. Hari ini banyak sekali pelanggan yang datang ke bengkel.


Semenjak menikah, omset bengkel Reno naik drastis, mungkin sudah menjadi rejeki Viona. Bahkan sampai detik ini, wanita cantik itu belum tahu kalo bengkel ini milik Reno.


Yang Viona tahu, Reno hanya bekerja sebagai montir saja.


Mata elangnya melirik jam digital besar yang ada di dinding, pada ruang kerjanya. Saat itu jarum jam menunjukkan angka dua belas. Pantas saja, perutnya sudah berdisco sejak tadi.


Meraih ponsel dan berniat mengirimkan pesan kepada sang istri yang kurang enak badan sejak pagi.


"Assalamualaikum, Sayang. Lagi apa?" Tanya Reno.


Tak lama kemudian balasan dari sang istri masuk.


( Waalaikumsalam, Mas. Ini lagi makan bakso)


"Hemm, pasti enak ya?" Reno menelan salivanya.


(Mas mau)


"Mau dong, suapi aku, Sayang."


(Buka mulut, Mas)


Tanpa sadar, Reno membuka mulutnya sendiri, kemudian menepuk keningnya, saat tersadar dari perbuatannya yang konyol.


"Kamu, sudah nggak apa-apa?"


(Nggak, Mas)


"Alhamdulillah, jangan capek-capek ya, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa."


(Iya, Mas)


"Ya sudah, lanjutin makannya, jangan pedas-pedas Sayang, nanti perutnya sakit."


(Siap, Bos)


Reno tersenyum kecil, menyudahi aktivitas mengirim pesan, kemudian dia beranjak berdiri dan keluar dari tempat itu. Berniat mencari makan siang, sebelum memulai aktivitas lagi.


Terlintas dalam benaknya, tiba-tiba ingin juga makan bakso seperti sang istri.


Membuat air liurnya hampir menetes.


*bersambung..


🌸

__ADS_1


🌸*


__ADS_2