Bukan Suami Impian

Bukan Suami Impian
Cinta tanpa syarat.


__ADS_3

🌸


🌸


"Aku mencintaimu, Mas." Viona mengeratkan pelukannya, menempelkan wajahnya pada punggung kokoh sang suami. Sementara isak tangis terdengar semakin pilu, dan membuat Reno panik serta khawatir.


"Sayang, ada apa? kenapa menangis, apa ada yang menyakiti hatimu, katakan Sayang." Reno memaksa membalikkan tubuhnya.


Kedua telapak tangannya yang besar menangkup wajah yang sudah sembab, tapi masih terlihat cantik itu. Memaksa Viona untuk mau memandang wajah sang suami.


"Ada apa? kenapa menangis, hemm?" Tanya Reno dengan lembut, mencium kelopak mata sang istri dengan penuh rasa cinta.


"Nggak ada apa-apa." Viona menggelengkan kepalanya.


Reno tersenyum." Lalu, kenapa menangis?"


"Aku hanya merasa bahagia, karena sudah di pertemukan dengan dirimu, Mas."


"Aku lebih bahagia lagi, karena sudah mendapatkan istri yang begitu sempurna, cantik, baik, tidak sombong, pandai menyenangkan suami ... "


"Mas ... " Rengek Viona. Bibirnya mengerucut, membuat Reno menjadi gemas, dan seketika mengecup bibir semanis buah Cherry itu tanpa aba-aba.


Viona sontak memukul dada Reno, karena pasokan udaranya hampir habis, ketika ciuman Reno semakin intim dan menuntut.


"Maaf Sayang, suka selalu khilaf, bila sudah berada di dekat kamu." Reno terkekeh, seraya membersihkan sisa saliva,di bibir Viona.


"Dasar, mesum." Kesal Viona, walaupun dalam hati menyukainya.


"Sekarang ceritakan, kenapa menangis?" Reno kembali bertanya. Pria itu belum puas kalo belum mendapatkan jawaban yang pasti dari bibir Viona.


"Nggak ada apa-apa, Mas."


"Bener?"


"Iya."


"Nggak bohong?"


"Nggak, ck, mana tehku, Mas?" Viona berdecak, sedikit kesal dengan Reno yang terus menerus bertanya. Dirinya belum siap untuk membagi kebahagiaan yang baru beberapa menit yang lalu dia rasakan.


Viona masih ingin memastikan lagi, dan besok pagi, saat bangun tidur, dia ingin melakukan tes lagi, dengan beberapa tespek yang masih ada.


Reno tergelak, lalu melepas pelukannya, dan membalikkan tubuh, meraih satu gelas teh hangat dan memberikan kepada sang istri.


"Silahkan, tuan putri." Reno mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


Viona mencebik, sang suami yang dingin dan datar itu, sungguh tidak cocok bila harus mengeluarkan kegenitannya. Pria gagah itu justru terlihat lucu.

__ADS_1


"Kamu tuh nggak pantes Mas, bila genit seperti itu?" Ledek Viona, dia melangkah meninggalkan dapur, diikuti oleh sang suami.


"Oh ya?"


"Heem, malah terlihat lucu." Viona terkikik geli." Mas, aku mau makan nasi goreng seafood, kayak waktu kita pertama bertemu dulu." Tiba-tiba saja sangat menginginkan nasi goreng yang panas dan enak.


Air liurnya seketika hampir menetes, saat membayangkan nya.


"Nasi goreng seafood?" Reno membeo.


"Iya, kita cari makan malam di luar ya?" Viona mengedipkan matanya, menggemaskan.


"Iya,setelah sholat Maghrib, kita keluar." Reno mengacak rambut istrinya dengan gemas, membuat sang empu merajuk.


🌸🌸🌸


Kedua pasangan yang mulai terkena sindrom bucin akut itu sudah berada di sebuah tempat makan yang menyediakan menu nasi goreng seafood, seperti yang di inginkan oleh sang istri.


Sebuah tempat yang menjadi saksi pertemuan pertama mereka, di mana saat itu juga Reno telah jatuh cinta, kepada Viona. Kecantikan, keseksian, dan keangkuhan wanita cantik itu, nyaris memporak-porandakan hatinya saat itu.


Setelah memesan, Reno dan Viona memilih tempat duduk yang sama seperti waktu itu, sambil menunggu pesanan datang, keduanya ngobrol ringan, sesekali di iringi gelak tawa, bila ada salah satu dari mereka yang mengeluarkan kekonyolan.


"Yang, masih ingat nggak, saat kita pertama bertemu?" Tanya Reno, seraya menautkan jemari kirinya, pada jemari tangan Viona, yang bertumpu pada meja.


"Masih." Viona tersenyum, mengingat betapa angkuhnya dia saat itu.


"Hemm, apa ya. yang aku pikirkan saat itu, adalah kamu ganteng." Viona menutup mulutnya dengan kelima jarinya yang lain, wajahnya bersemu merah.


Reno tergelak, hatinya sungguh senang, ternyata Viona juga sudah merasakan ketertarikan pada pertemuan mereka yang pertama.


"Oh ya, kita sama yang, saat pertama melihat kamu dulu, hatiku langsung berdesir." Ucap Reno dengan jujur.


"Kenapa?" Tanya Viona, ingin memastikan, walaupun sudah tahu alasannya seperti apa.


"Wajah kamu yang cantik, seksi, sedikit angkuh, langsung membuatku tertarik." Reno kembali mengulas senyum manis.


"Gombal, aku kan judes waktu itu?"


"Justru itu yang membuat aku langsung jatuh cinta sama kamu." kata Reno lagi.


"Makasih ya, Mas. Sudah bersabar selama ini," Kata Viona tulus.


"Sama-sama, Sayang. Makasih juga, sudah mau menerima perjodohan kita."


"Iya Mas, aku tahu, Mama nggak mungkin nyodorin pria sembarangan untuk putri cantiknya ini."


"Hemm." Reno mengecup punggung tangan Viona dengan lembut, membuat Viona malu, karena beberapa pengunjung saling berbisik-bisik, melihat kemesraan kedua pasangan itu.

__ADS_1


"Mas, malu. Semua orang melihat kita." Bisik Viona, dia menarik tangannya yang sedari tadi di genggam okeh sang suami.


"Biarin aja, toh kita suami istri, yang selingkuh di depan umum aja nggak ada malu sama sekali." Sahut Reno enteng.


"Huh, kenapa jadi bawa-bawa orang lain sih, Mas." Bibir Viona mengerucut.


Kedatangan pelayan rumah makan, membuat obrolan keduanya terjeda. Setelah selesai menata pesanan Reno dan Viona, pelayan laki-laki itu undur diri.


Pasangan suami istri itu langsung saja menyantap pesanan mereka, tanpa banyak bicara.


Begitu selesai makan, Reno dan Viona bergegas pulang, mengingat kondisi tubuh Viona yang masih terlihat pucat. Pria muda yang belum tahu jika sang istri tengah mengandung buah hatinya itu khawatir, melihat sang istri yang seperti sedang sakit itu.


sesampainya di rumah, keduanya membersihkan diri bergantian, setelah itu naik ke ranjang, dan mulai berbaring. Reno mendekap tubuh sang istri, dengan lengan kirinya yang berada di bawah kepala sang istri.


"Selamat tidur, Sayang." Bisik Reno, setelah itu mengecup pipi Viona lembut.


"Selamat tidur juga, Mas." Viona berbaring miring, agar bisa memeluk tubuh suaminya.


"I love you." Bisik Reno lagi.


"Love you, too." Balas Viona."Mas ... "


"Hemm." Reno hanya berguman, dengan mata yang mulai terpejam.


"Beneran langsung tidur?" Tanya Viona ambigu.


"Iya, memang mau ngapain lagi?" Reno membuka mata, lalu tersenyum, saat melihat wajah Viona yang mendongak, menatapnya.


"Ng ... barang kali mau ... " Viona menggigit bibirnya malu.


Reno terkekeh, mencubit pucuk hidung lancip istrinya."Tidurlah, kamu sedang tidak enak badan, tidak mungkin aku memaksa untuk melayani aku," Kata Reno lembut.


Viona melebarkan senyumnya, hatinya begitu membuncah oleh rasa haru, Reno lebih mementingkan kesehatannya, alih-alih menyalurkan hasratnya, padahal Viona tahu, alat tempur kebanggaan suaminya, sudah menegang di bawah sana. Sudah pasti butuh penyaluran.


"Tapi, Mas ... bukannya sudah te ... "


"Sudah tegang maksud kamu? sudah biarin aja, nanti dia juga tidur sendiri, sekarang tidurlah, biar besok bangun tubuh kamu merasa segar lagi." Reno mengeratkan pelukannya.


"Makasih, Mas." Bisik Viona lirih, kemudian mulai memejamkan mata. Dalam hatinya memanjatkan doa dan syukur, karena telah diberikan suami yang begitu pengertian.


Adakah alasan, buatnya untuk tidak jatuh kedalam pesona Reno?


*Bersambung ...


jangan lupa, like, love dan komen ya.


🌸

__ADS_1


🌸*


__ADS_2