
🌸
🌸
"Vio ... "
Ketika Viona sedang menyeruput kopi latte-nya, terdengar panggilan dari seorang pria. Viona sontak mengangkat kepalanya, dan melihat Dewa, mantan cinta monyetnya sewaktu duduk di bangku SMA sudah berdiri di kursi seberang meja.
Pria tampan yang terlihat semakin dewasa itu menatap Viona, dengan binar penuh kerinduan. Tanpa permisi Dewa mendudukkan bokong dikursi seberang Viona duduk.
"Kak Dewa." Viona berusaha tersenyum, biarpun canggung. Bukannya dia masih menyimpan rasa kepada laki-laki tampan yang memakai baju kerja mendominasi warna hitam itu, tapi lebih karena perasaan tak enak, karena posisinya yang sudah punya suami.
"Senang bisa ketemu kamu lagi, Vio. Sebenarnya banyak yang ingin aku bicarakan sama kamu. Terakhir kita ketemu, suamimu menatapku seakan ingin menghajarku." Dewa tergelak.
Mau tak mau Viona ikut tersenyum. Menyeruput lagi latte-nya, yang sudah mulai menghangat. Mata bulatnya memindai sekelilingnya, takut kalo tiba-tiba Reno memergoki mereka sedang berdua.
Walaupun keduanya hanya bercanda, tapi Viona tetap tidak enak juga bila sang suami tahu.
"Perasaan Kak Dewa saja, suamiku bukan pria pencemburu buta, Kak." Viona tersenyum kecil. Mengingat cinta sang suami yang begitu besar kepadanya. Perlahan rasa sesak menyeruak, saat ingat, dia yang merasa kesal karena penolakan Reno semalam.
Padahal Reno sedang berusaha melindungi calon buah hati mereka. Tapi Viona justru marah, dan menyimpan rasa kesal dalam hati.
"Oh ya, kalo aku jadi suami kamu Vio, tak akan aku biarkan laki-laki lain memandangnya." Kata Dewa lagi.
"Untung saja Kak Dewa bukan suami aku." Viona mencebik.
Dewa terkekeh. Mata elangnya sejak tadi bahkan tidak mau beralih dari wajah cantik yang sudah menjadi cinta pertamanya itu. Dalam hatinya tumbuh rasa sesal, mengapa dulu dia memutuskan Viona.
Bahkan wanita itu sekarang semakin cantik. Memang sejak dulu, Viona selalu menjadi idola, karena kecantikan dan juga kepintarannya. Biarpun sedikit angkuh, tapi justru itulah yang membuat setiap pria menjadi penasaran dan ingin mengejarnya.
"Aku nyesel Vio, mengapa kita dulu berpisah." Kata Dewa lagi.
__ADS_1
"Semua sudah berlalu, Kak. Nggak usah di ungkit lagi, semoga Kak Dewa cepat dapat pendamping hidup, yang lebih baik dari aku." Viona tersenyum.
Dewa menghela napas panjang. Menatap Viona lekat-lekat."Aku masih mencintai kamu Vio." Guman Dewa lirih, tapi masih bisa di dengar oleh Viona.
Viona tertegun, ada rasa tak enak begitu dia mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Dewa."Lupakan aku, Kak. Kita nggak mungkin bisa bersama lagi, aku sudah menikah."
"Aku lebih baik dari suami kamu, lho Vio." Kata Dewa dengan pongah.
Membuat Viona tersentak, dan merasa kesal dengan kesombongan Dewa."Aku mencintai suamiku, Kak. Itu yang paling penting, walaupun dia mungkin tidak setampan atau sekaya kakak, yang jelas aku sangat mencintai dia." Viona berdiri, menatap tajam pada Dewa.
"Vio, kamu pasti akan nyesel suatu saat." Dewa tersenyum sinis.
"Bukan urusan Kakak, aku bersyukur, karena tidak ditakdirkan untuk hidup bersama dengan kakak. Permisi!" Viona bergegas pergi meninggalkan Dewa.
Setelah membayar minuman yang dia pesan tadi, Viona bergegas keluar dari kafe. Dan betapa terkejutnya saat di luar, dia melihat sang suami yang berdiri menyandar pada body mobilnya.
Viona berjalan perlahan, mendekati suaminya. Tak ada raut kemarahan yang tersirat pada wajah tampan pria yang akhir-akhir ini semakin dia cintai.
"Sudah selesai, meeting-nya?" Tanya Reno lembut, dia tersenyum manis. Membuat perasaan Viona tidak enak. Wanita cantik yang sedang hamil muda itu hanya mengangguk.
"Ke butik saja, ada yang harus aku kerjakan." Viona berjalan mendekati pintu sebelah kiri, kemudian membukanya dan perlahan masuk ke dalam. Menghempaskan bokong pelan di kursi penumpang.
Bisa dia lihat, suami tampannya itu tampak memutari kap mobil dan kemudian masuk pada pintu pengemudi. Duduk di sebelah Viona yang sejak tadi merasa gugup. Bukan tidak mungkin kalo Reno tidak tahu saat dia dan Dewa ngobrol tadi.
Reno menutup pintu, kemudian menoleh kepada istrinya. Tersenyum lembut, dan mulai mendekati Viona."Ma-mau apa, Mas." Viona terbata-bata, saat jarak keduanya yang semakin dekat, hanya satu jengkal saja jarak yang tercipta.
"Pasang sabuk pengamannya dulu, Sayang." Kata Reno, membuat Viona menahan napas karena malu. Padahal tadi dia sudah berpikir yang bukan-bukan kepada suaminya.
Reno terkekeh, mengelus pipi wanita cantik itu.
"Apa yang ada dalam pikiran kamu?"
__ADS_1
"Nggak."
"Kamu pasti mikir mesum, kan?" Reno menggoda.
"Ayo jalan, Mas " Kata Viona.
Cup.
Reno mencuri ciuman sekilas, pada sudut bibir berwarna pink itu. Membuat si empunya kaget, dan memukul lengan kokoh suaminya kesal.
"Mas." Pekik Viona.
Reno tergelak. Kemudian mulai menjalankan mesin, dan tak lama kemudian mobil itu mulai melaju, membelah padatnya jalan raya.
Satu jam sebelum Reno datang ke kafe....
Reno menghela napas panjang, dia menatap jam di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir satu jam dia berada di dalam kantor istrinya, dan Viona belum juga kembali.
Bahkan nasi goreng yang tadi di belikan oleh Rani, sudah menjadi dingin.
Kemu ke mana sih, Sayang. Jangan bikin aku cemas. Reno mengusap wajah dengan frustasi.
Ting ...
Tiba-tiba notifikasi pesan pada ponsel yang ad di meja kerja Viona berbunyi.Dengan tak sabar Reno membukanya. Dahinya mengernyit saat melihat ada pesan gambar dari nomer Amira.
Kenapa lagi dia. Monolog Reno dalam hati, lalu membuka pesan gambar yang masuk. Sejenak ada rasa cemburu yang menghantam dadanya.
Kedua tangannya mengepal dengan begitu erat. Hingga buku-buku tangannya tampak memutih.
*Bersambung ..
__ADS_1
🌸
🌸*