
🌸
🌸
"Aku juga cinta sama kamu, Mas." Viona mengeratkan pelukannya, rasa bahagia begitu membuncah dihati kedua pasangan suami istri itu. Reno bahkan tidak malu untuk mengeluarkan air matanya.
Mengecup pucuk kepala Viona berulang kali, tanpa henti mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa, atas segala karunia yang diberikan, dengan sangat sempurna.
Seorang istri yang sangat cantik, ekonomi yang cukup, dan sekarang ditambah kebahagiaan yang menyempurnakan semuanya, kehadiran buah hati, yang saat ini sedang meringkuk di dalam rahim sang istri.
"Terima kasih, Sayang. Aku nggak tahu lagi, mesti ngomong apa." Reno mengurai pelukannya, mengecup kening Viona, lama dan lembut. Kemudian pria tampan itu berjongkok, dan memeluk perut sang istri penuh rasa haru.
Membenamkan wajahnya di perut yang saat ini sedang di kontrak oleh calon buah hati mereka.
"Baik-baik di dalam ya Sayang, jangan nakal, jangan nyusahin Mama ya, Papa sayang sama kamu, Nak." Bisik Reno seraya terisak. Sungguh bagaikan mimpi, sebentar lagi dia akan menjadi seorang Ayah.
"Mas." Viona ikut terisak, wanita cantik itu juga masih belum percaya, bila saat ini dalam rahimnya, sudah tumbuh calon buah cintanya dengan sang suami.
"Mulai saat ini, kamu jangan capek-capek ya, kalo perlu tidak usah bekerja, biar aku saja yang mencari uang buat kalian." Reno kembali berdiri.
" Mas, kerjaku hanya duduk saja, nggak akan berpengaruh sama kehamilan ini." Viona tersenyum, dalam hati dia berkata, suami bucin-nya sebentar lagi pasti akan bertambah posesif.
"Sayang, aku takut kalian kecapean."
"Kalo aku capek, aku pasti istirahat Mas. Kasihan anak-anak, kalo aku nggak lagi datang ke butik." Viona berusaha membujuk sang suami.
"Ta-tapi ... "
"Mas, kalo aku cuma diam aja di rumah, aku pasti tambah stress, karena tidak melakukan kegiatan apa-apa."
Reno menghela napasnya panjang, tak bisa lagi membujuk keteguhan hati istrinya.
"Janji ya, jaga calon anak kita baik-baik." Reno mengusap perut Viona yang masih rata itu lembut.
"Sudah pasti, Mas. Aku juga sangat menginginkannya."
"Nanti kita periksa ke dokter kandungan ya?" Kata Reno.
"Iya ,Mas. Aku akan pulang cepat, kita le dokter sehabis ashar ya Mas."
__ADS_1
"Siap, mulai saat ini, aku yang akan antar jemput kamu, biar aku yang nyetir mobilnya." Titah Reno.
Bahu Viona melemas." Baiklah."
🌸🌸🌸
Viona memasuki butik miliknya dengan wajah sumringah, membuat ketiga karyawannya menatap penuh keheranan.
"Pagi semua." Viona terus melenggang, masuk ke dalam ruangannya.
"Pagi, Mbak Vio." Jawab mereka kompak.
"Mbak Rani, Mbak Vio seperti bahagia ya?" Tanya salah satu dari mereka.
"Sepertinya begitu, sudah sana kerja, aku mau ke ruangan Bos dulu, mau laporan." Rani bergegas menyusul sang Bos yang baru saja masuk ke ruang kerjanya.
"Pagi, Mbak." Sapa Rani kepada sang Bos, yang saat itu sedang sibuk dengan laptopnya.
"Pagi Ran, ada apa?" Tanya Viona seraya melirik Rani sekilas, setelah itu fokus lagi dengan layar laptop di depannya.
"Tadi ada telpon dari mbak Natalie, katanya nanti mau ke sini," Kata Rani, gadis itu berdiri di seberang tempat duduk Viona.
"Terima kasih, mbak. Saya berdiri saja."
"Ada apa model itu mau ke sini?" Tanya Viona lagi, kali ini dia mengalihkan pandangannya dari layar laptop yang ada di depan nya.
"Katanya mau di buatkan gaun, untuk acara ulang tahun teman seleb nya."
"Hemm, jam berapa dia mau ke sini?"
"Jam sepuluh, mbak."
Viona sontak memandang jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, saat itu masih pukul sembilan pagi, masih ada satu jam lagi.
"Ok."
"Kalo begitu, saya permisi Mbak." Rani berpamitan.
"Iya Ran, silakan."
__ADS_1
Gadis muda kepercayaan Viona itu bergegas keluar, sebenarnya dia ingin menuntaskan rasa penasaran di hatinya, mengenai idenya kemarin. Tapi, dia tidak punya keberanian untuk membuka mulutnya."
Viona kembali berkutat dengan aktivitasnya, selepas kepergian Rani. Sesekali dia tersenyum, seraya mengusap perutnya yang masih rata.
Sehat-sehat di dalam sana ya, Sayang. Mama dan Papa selalu menunggumu. Kami sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kamu, sayang. Monolog Viona dalam hati.
🌸🌸🌸
Tanpa terasa detik demi detik berlalu, di dalam bengkel miliknya, Reno tampak tergesa ingin segera pulang, dia mengingat janjinya untuk mengantarkan Viona ke dokter kandungan.
Dan saat ini sudah pukul tiga.
"Ton, aku balik dulu ya." Reno memakai jaket kulitnya yang berwarna hitam.
"Ok Mas, memang mau ke mana?" Tanya Tono, saat itu dia sedang membetulkan sebuah sepeda motor.
"Mau antar Istriku ke dokter."
"Mbak Vio sakit apa, Mas?" Tanya Tono dengan khawatir.
"Bukan sakit Ton, Kami mau ke dokter kandungan," Ucap Reno dengan wajah sumringah.
"Wah, Alhamdulillah. Sebentar lagi Mas Reno mau punya momongan." Tono tersenyum senang.
"Iya Ton, seperti biasa, bengkel kamu tutup j empat ya, aku serahkan semua urusan padamu, aku harus segera menjemput istriku, sebelum dia mengeluarkan ultimatum nya." Reno tertawa terbahak, lalu melesat keluar.
"Hati-hati, Mas." Teriak Tono.
"Sip."
Reno menuju mobil mewah milik istrinya, baru saja dia membuka pintu mobil, terdengar panggilan.
"Mas Reno."
*Bersambung ...
🌸
🌸*
__ADS_1