
🌸
🌸
"Siapa lagi dia ,Sayang?" Reno berguman seraya menghempaskan bokongnya di bangku taman dengan nada frustasi. Rasa cemburu kembali mendominasi seluruh hatinya. Mati-matian dia menahan segala emosi, yang bisa kembali melukai hati istrinya, bila saja keluar kata-kata kasar dari bibirnya.
Viona ikut duduk di samping suaminya. Memandang wajah tampan itu lekat-lekat. Kemudian menyunggingkan senyuman manis. Hatinya berbunga-bunga, melihat betapa besar rasa cinta suaminya.
"Cemburu lagi?" Goda Viona.
"Hemm."
"Ayolah Mas, please. Jangan lagi kita berdebat dan akhirnya bertengkar." Viona berdecak kesal.
"Jadi kamu mau, aku nggak cemburu gitu, melihat pria lain begitu memuja istriku, begitu menginginkan istriku, wajar bila aku diam saja." Reno sedikit kesal.
"Mas, kenyataannya, aku sudah menjadi istrimu kan?"
"Hemm."
"Kak Dewa ... "
"Huh, betapa manis kamu memanggilnya, kak Dewa," Keluh Reno.
Viona terkekeh.
"Ya ampun, Mas. Ok, Dewa dia hanya cinta monyetku dulu, sewaktu aku masih labil dan belum dewasa."
"Berapa banyak sih Yang, mantan pacar kamu?" Lirih Reno. Kenyataan bahwa istrinya adalah sosok yang cantik, menarik dan pintar, tak bisa di pungkiri, dan tentu saja menjadi poin kekaguman dari lawan jenis.
"Aku nggak pernah ngitung, Mas." Viona terkikik, seraya menutup mulut dengan kelima jarinya. Wanita itu menambah kadar tawanya saat melihat mata suaminya yang melotot tajam, seakan ingin mencabik-cabik lawan bicaranya.
"Astaghfirullah," Reno mengelus dadanya sendiri.
"Mau di bantuin nggak Mas?" Viona ikut mengelus dada bidang suaminya, yang setiap malam menjadi tempat ternyaman untuk dirinya menyandarkan segala penat.
"Yang." Pekik Reno tertahan, tentu saja elusan jemari lentik itu, sangat dahsyat pengaruhnya, dia merasa sesuatu di bawah sana mulai menegang." Jangan menggodaku." Bisik Reno lirih, menggenggam jemari yang sudah lancang membuat sesuatu yang seharusnya masih tertidur jadi terbangun.
Viona tergelak, bahagia sekali melihat ekspresi kesal pada wajah tampan suaminya.
__ADS_1
"Jadi, aku harus menggoda suami orang lain."
Reno mendelik, lalu mencubit pucuk hidung lancip sang istri."Jangan nakal," Omelnya kemudian.
"Habisnya Mas tuh, ngeselin. Ya udah, kita langsung ke rumah mama aja deh, dari pada aku bete ngeliat wajah tampan suamiku jadi menyeramkan dan menyebalkan." Viona berdiri dengan bibir cemberut.
"Janji ya, nanti ceritakan tentang mantan-mantan kamu." Reno ikut berdiri, menggenggam tangan istrinya, dan mulai mengajaknya berlalu dari taman.
"Ya ampun, Mas. Masa lalu masa iya mesti di ceritakan sih?"
"Harus, aku ingin tahu, Sayang."
"Hemm, baiklah. Tapi, janji jangan cemburu ataupun kesal," Kata Viona.
"Hemm, Insyaallah."
"Mas ... "
"Iya, Sayang."
🌸🌸🌸
"Sayang, kalian datang, Alhamdulillah Mama senang sekali." Pekik Mela, seraya memeluk tubuh putri satu-satunya, setelah cipika-cipiki.
"Iya Ma, Vio dan Mas Reno kangen, pengen nginep disini, boleh kan Ma?" Kata Viona, setelah pelukan mereka terurai.
"Hus, kenapa harus pamitan segala, ini juga rumah kalian, tentu saja kalian boleh menginap semau kalian, malah kalo bisa kalian tinggal saja disini, biar Mama nggak kesepian." ucap Mela panjang dan lebar.
"Assalamualaikum, Ma. Gimana keadaan Mama dan Papa?" Reno mengecup punggung tangan mertuanya takzim.
"Alhamdulillah Ren, kalian juga sehat kan?"
"Alhamdulillah, Ma."
"Ada siapa, Ma!" Terdengar teriakan sang papa dari dalam.
"Ada anak kita Pa, eh, ayo masuk, kita makan malam dulu." Mela menggiring pasangan itu masuk, dan menuju ruang makan. Di sana sudah duduk manis Hardi papa Viona.
"Pa." Viona langsung saja menghambur ke dalam pelukan sang papa, memeluk pria paruh baya, yang menjadi cinta pertamanya itu.
__ADS_1
"Hemm, Sayang. Bagaimana keadaan kalian, sehat-sehat saja kan?" Tanya Hardi, setelah melepaskan pelukannya, menatap penuh haru, wanita cantik di depannya, anak kesayangannya, yang sekarang sudah tidak bisa lagi dia peluk sesuka hati, Karena sudah berganti status menjadi seorang istri.
"Alhamdulillah, Pa. Gimana dengan Papa sendiri?" Tanya Viona.
"Alhamdulillah, duduk gih." Keduanya duduk di kursi yang berdampingan.
Reno mendekati sang mertua laki-laki, lalu mengecup punggung tangannya takzim.
"Pa."
"Hemm, sehat-sehat kan?"
"Alhamdulillah, Pa."
"Kita makan malam dulu ya, kebetulan Mama masak banyak ini, nggak tahu kenapa pengen masak oseng kangkung dan ikan goreng, tidak tahunya akan ada kalian datang." Kata Mela dengan ceria.
Kedua menu itu adalah favorit sang putri. Mela melayani ketiga orang yang ada di meja makan dengan penuh semangat, walaupun sudah di halangi oleh Viona, tetap saja wanita itu mengambilkan makanan buat ketiga orang yang dia cintai.
"Ma, aku bisa ambil sendiri." Kata Viona, dia merasa tidak enak, karena malah di layani oleh Mela.
"Sudah, nggak apa-apa, Mama lagi bahagia, karena kalian datang."
Ada rasa haru yang menyeruak di dalam dada Viona, sejak menikah, dia memang jarang sekali berkunjung ke rumah orang tuanya.
"Nanti setiap weekend, kami akan menginap di sini deh, boleh ya Mas?" Viona menatap sang suami penuh harap.
"Tentu saja Sayang, kita bisa menginap disini, semau kamu." Jawab Reno, seraya memasukkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya.
"Alhamdulillah, Mama dan Papa senang mendengar nya." Ucap Mela penuh syukur, wanita itu melahap makan malamnya dengan penuh semangat.
"Ya, Ma."
"Nanti, kalo Viona sudah hamil, sebaiknya tinggal di sini sama kami ya?" Kata Mela tiba-tiba.
Uhuk ... Uhuk ...
*bersambung ...
🌸🌸*
__ADS_1