Bukan Suami Impian

Bukan Suami Impian
Over posesif


__ADS_3

🌸


🌸


Selepas dari dokter kandungan, Reno dan Viona langsung pulang, sebelumnya Reno sudah memastikan kepada Viona, apakah ada makanan yang ingin dia inginkan malam ini.


"Sayang, apa ada makanan yang kamu inginkan saat ini?" Tanya Reno, sambil fokus dengan kemudinya, saat ini mereka tengah berada di jalan raya, membelah padatnya lalu lintas pada malam itu.


Sepertinya tidak ada bedanya, antara siang ataupun malam, lalu lintas di jalan raya seperti tidak ada surutnya. Entah kemana saja tujuan mereka.


"Kayaknya nggak ada, Mas." Jawab Viona.


"Beneran, mumpung kita masih di jalan, sekalian saja mampir." Kata Reno lagi.


"Saat ini belum ada Mas, nggak tahu nanti kalo udah nyampe rumah," Kata Viona asal, dia tergelak saat melihat Reno meliriknya bingung.


"Hah, sekarang aja Sayang nyidamnya," Kata Reno.


"Mas ngaco ih, mana ada ngidam di paksa."


"Siapa tahu bisa." Reno terkekeh, mengusap perut sang istri lembut.


"Nyebelin."


"Tapi cinta kan?" Reno menoleh, kemudian mengedipkan mata genit, membuat Viona mau tak mau tersenyum malu.


"Huh, sayangnya iya."


"Makasih ya Sayang."


"Sama-sama Mas."


Akhirnya mereka sampai juga di rumah, suasana sudah mulai gelap, maklum sudah masuk waktu Maghrib juga. Setelah masuk ke dalam rumah, keduanya segera menunaikan ibadah sholat Maghrib, biarpun agak terlambat, tapi lebih baik, daripada tidak sama sekali.


Selepas sholat, Reno sudah berkutat di dapur minimalis miliknya, memasak menu simpel buay makan malam mereka.


"Masak apa Mas?" Tanya Viona manja, memeluk tubuh suaminya dari belakang.

__ADS_1


"Cap cay, sama ayam goreng saja, apa ada yang ingin kamu makan lagi?" Tanya Reno lembut, menolehkan kepalanya sekilas ke belakang.


"Nggak ada Mas, ya udah yang Mas masak aja deh " Jawab Viona, mengamati aktivitas sang suami yang begitu lihai memainkan alat dapur, dalam hati seperti tertohok, dia yang wanita kenapa malah tidak bisa memasak sama sekali.


"Mas, makasih ya."


"Untuk ... "


"Sudah jadi suami yang baik, sudah sangat pengertian, biarpun aku nggak bisa masak, Mas nggak pernah protes."


"Sama-sama , Sayang. Bukankah antara suami istri harus saling melengkapi, suatu saat pasti kamu juga pasti bisa memasak." Reno menoleh, dan mencuri ciuman sekilas di pipi istrinya.


"Ih, mencari kesempatan ya." Bibir Viona mengerucut, tapi dalam hati suka sebenarnya.


"Duduk dulu sana, nanti kena minyak panas, soalnya mau goreng ayam." Reno membimbing sang istri, dan mendudukkannya di kursi.


"Mas, aku nggak lagi sakit lho." Protes Viona, karena Reno menuntunnya, seperti orang yang sedang sakit keras saja.


Reno tertawa." Maaf, aku cuma khawatir saja."


"Mas berlebihan."


"Iya deh, terserah."


"Gitu dong, nurut sama suami."


Viona memutar bola matanya sebal.


Setelah Reno selesai memasak, keduanya segera makan malam. Viona sampai nambah dua kali, akhir-akhir ini napsu makannya memang bertambah.


Mungkin karena efek kehamilan juga. Dokter kandungan tadi mengatakan, usia kehamilan Viona memasuki tujuh minggu, dan dokter menganjurkan untuk tidak bekerja terlalu berat, karena masih dalam trimester pertama. Masih cukup rentan.


Bahkan suaminya yang mesum itu dengan tak tahu malunya bertanya yang membuat wajahnya memerah karena malu.


Reno bertanya, apakah masih boleh melakukan hubungan intim dengan sang istri.


Kata dokter boleh saja, tapi jangan terlalu sering, juga lakukan dengan selembut mungkin. Viona merasa sangat malu tadi, tapi suaminya malah bersikap biasa saja, katanya, lebih baik bertanya, karena memang ini adalah pengalaman pertama punya istri hamil.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Selesai makan, keduanya bersantai sejenak, sambil menunggu waktu ISYA tiba, kemudian sholat berjamaah seperti biasa. Begitu selesai, keduanya segera merebahkan tubuh di ranjang. Saksi bisu perjalanan cinta Reno dan juga Viona.


Dari yang awal mulanya Reno harus tidur di sofa, hingga akhirnya bisa tidur di ranjang, dengan memeluk tubuh sang istri.


"Mas, aku tadi malu banget lho." Kata Viona, seraya memainkan jari telunjuknya pada dada Reno. Berbaring didalam dekapan sang suami yang begitu hangat dan nyaman.


"Kenapa?"


"Waktu Mas tanya tentang hubungan intim itu." Viona menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya.


Reno tergelak."Nggak pa-pa Sayang, kan memang aku nggak tahu, daripada berandai-andai."


"Iya, tapi malu banget aku Mas, kesannya kita pecandu anu ... "


"Maksudnya, kalo memang nggak boleh melakukan hubungan **** saat kamu hamil muda seperti ini, aku nggak akan memaksa kamu Sayang." Reno mencubit pucuk hidung sang istri.


"Memang kuat?"


"Kuat dong, hanya berapa bulan sih, trimester pertama, empat bulan kan?"


"Heem."


"Nah, 30 tahun saja aku kuat lho, bukannya aku baru bisa berhubungan intim, saat menikah dengan kamu, jadi kalo hanya nahan beberapa bulan, nggak masalah." Reno mengeratkan pelukannya.


"Makasih ya, Mas."


"Sama-sama Sayang, sudah kita tidur ya?" Reno mulai memejamkan matanya.


"Hemm, langsung tidur Mas?" Viona bertanya ambigu.


Mata Reno sontak terbuka.


"Ya ... "


*bersambung ...

__ADS_1


🌸


🌸*


__ADS_2