
πΈ
πΈ
"Istriku perutnya sakit sejak tadi Ma, mungkin dia mau melahirkan ... " Kata Reno sedikit panik.
"Apa!" Mela membelalak, wanita itu sontak terbuka lebar kedua matanya, padahal tadi masih terasa mengantuk, tapi begitu mendengar sang putri mau melahirkan, jantung nya berdebar kencang.
"Ayo Ma, temani kami ke rumah sakit, kasihan istriku sudah kesakitan." Reno bergegas meninggalkan sang mertua, yang sedang membangunkan suaminya.
Reno kembali memapah sang istri ke mobil, yang sudah terparkir di depan pintu. Reno memang sengaja memarkir mobil di depan pintu, agar Viona tidak terlalu jauh berjalan.
"Tahan dulu ya , Sayang. Kita nunggu Mama sama Papa." Kata Reno, Setelah membantu sang istri duduk di bangku penumpang yang ada di belakang.
"Ssshh... sakit Mas." Bisik Viona, memeluk pinggang suaminya dengan manja. Reno mengelus punggung istrinya dengan lembut. Sembari bibirnya komat Kamit membaca sebait doa. Agar persalinan istrinya berjalan lancar.
Tak lama kedua orang tua Viona keluar. Mela segera masuk di kursi penumpang depan. Sementara Hardi yang akan mengemudi. Karena dalam keadaan seperti ini, sudah pasti putrinya membutuhkan dukungan suaminya.
"Biar Papa yang nyetir, Ren." Kata Hardi kemudian.
"Iya Pa."
Reno bergegas masuk ke dalam mobil, setelah dia masuk, Hardi menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Sang putri memang sedang kesakitan, tapi dia juga tidak ingin ceroboh, memacu mobil dengan kecepatan tinggi, karena keselamatan mereka yang paling penting.
Mereka akhirnya sampai juga di rumah sakit yang dirujuk okeh dokter kandungan Viona. Sayangnya dokter kandungan Viona sedang tidak bisa mendampingi persalinan Viona. Karena ada satu hal yang tidak bisa di tinggalkan di klinik pribadinya.
Viona langsung di bawa ke ruang bersalin, dan di dalam sudah menunggu seorang dokter kandungan wanita, dan dua perawat yang mungkin akan mambantu jalannya persalinan.
Hardi dan Mela menunggu di depan, sedangkan Reno ikut ke dalam, dia inging memberi dukungan kepada istrinya yang sudah sejak tadi kesakitan, demi sang buah hati yang ingin segera menghirup udara segar.
__ADS_1
"Kita lihat dulu ya Ibu, sudah pembukaan berapa." Kata dokter kandungan wanita, yang mungkin sebaya dengan Mela itu dengan sabar.
Viona yang sudah berbaring hanya bisa mengangguk.
"Kakinya di tekuk ya Bu, jangan tegang ya?" Kata dokter itu.
Viona menggigit bibir bawahnya ,saat merasakan sesuatu yang memasuki tubuh inti bagian bawah.
"Wah, sudah pembukaan delapan. kita siap melakukan persalinan ya?" Ucap sang dokter.
Selama persalinan, Reno tak sedikitpun melepaskan genggaman tangan sang istri, dia terus memberi semangat kepada Viona.
Akhirnya setelah berjuang antara hidup dan mati selama dua puluh menit, Terdengar juga tangisan yang begitu keras dari buah hati Reno dan Viona.
"Alhamdulillah, cowok ya Bu, Pak, sempurna." Kata sang dokter.
Air mata Viona dan juga Reno turun tanpa terasa, saat bayi mungil yang masih merah itu di tengkurap kan pada dada sang ibu yang terbuka.
"Iya Mas, Alhamdulillah. Anak kita laki-laki." Kata Viona.
"Iya Sayang. Yang paling penting, kalian sehat semua." Reno mengecup kening Viona begitu lembut dan dalam.
πΈπΈπΈ
Hanya berselang beberapa jam saja, Viona dan juga sang baby sudah di bawa ke ruang perawatan.
Reno sedang menyuapi istri tercinta makan siang, sedangkan Mela dan juga Hardi sibuk dengan cucu pertama mereka. Kehadiran sang cucu memberi kesempurnaan pada kebahagiaan keluarga mereka.
"Pa, mirip Reno ya cucu kita." Kata Mela, dengan sang cucu yang ada di pangkuannya.
__ADS_1
"Masa sih, Ma. Papa kira mirip Viona." Imbuh Hardi.
"Nggak ah mirip Reno." Kekeh Mela.
"Ya sudahlah, toh keduanya memang orang tuanya. Mau mirip siapa juga nggak penting, yang paling utama cucu kita terlahir sehat dan sempurna." Hardi menengahi.
"Iya Pa, Vio... cucu mama ini di beri nama siapa?" Teriak Mela.
Viona menatap suaminya. "Mas Reno yang sudah menyiapkan namanya, Ma."
"Reno tersenyum manis."Namanya Kenan Bagaskara Ma. Panggilannya baby Ken. gimana Sayang, bagus nggak?" Reno menatap sang istri penuh cinta. Jemari tangan mereka saling bertautan.
"Bagus Mas, semoga baby Ken, tumbuh sehat hingga besar dan menjadi anak yang sholeh berbakti kepada orang tua. Aamiin..." Kata Viona.
"Aamiin ... Terima kasih, Sayang sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Teruslah berada di sampingku, apapun yang akan terjadi."
"Iya Mas, insyaallah aku akan terus berada di sampingmu, hingga maut memisahkan kita." Viona tersenyum manis. Reno memeluk tubuh Viona yang tengah duduk menyandar pada kepala ranjang itu.
"Aamiin..."
*The-end
terima kasih bagi para readersku yang sudah berkenan membaca karya receh aku ini.
Kisah Reno dan Viona sudah berakhir bahagia ya.
Sampai ketemu di novel berikutnya. πππ₯°
πΈ
__ADS_1
πΈ*