
🌸
🌸
"Mas."
Reno menatap layar ponselnya, saat pesan kembali masuk, dan dengan kata-kata yang sama, di sepanjang usianya ini, tak banyak wanita yang bisa dekat dengan dirinya, hanya ada satu wanita yang begitu dia damba, lima tahun yang lalu.
Amira namanya, wanita yang lembut, keibuan, cantik dan dia adalah tetangga dekat Reno Usia mereka hanya terpaut tiga tahun, lebih tua Reno tentu saja.
Reno menyukai wanita yang rumahnya hanya berjarak dua rumah saja dari sini, semenjak dia duduk di bangku SMU, Amira adalah anak orang yang cukup terpandang, ayahnya punya toko bangunan yang cukup besar, dan Amira anak tunggal.
Mereka saling menyukai, tapi sayang Amira sudah di jodohkan oleh kedua orang tuanya, dengan anak teman ayahnya, yang juga dari keluarga berada.
Semenjak patah hati saat itu, Reno tidak ingin lagi terjebak rasa suka dengan wanita manapun lagi, hingga akhirnya Bu Mela berniat menjodohkan dia dengan putrinya, dan Reno langsung saja jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Ini siapa?" Tak ingin tergulung rasa penasaran yang tak berkesudahan, Reno membalas pesan dari orang yang belum dia tahu, itu siapa.
"Amira Mas,"
"Oh, ada apa Mir," tanya Reno lagi, dengan dahi berkerut, kenapa Amira menghubungi dia setelah sekian lama.
"Aku jadi tetangga mas Renolagi,"
"Iya kah?"
"Iya Mas, aku baru saja bercerai dengan suamiku."
"Oh ya." Reno sontak kaget, kenapa Amira bisa bercerai, pedahal dia sudah punya satu orang anak kalau tidak salah.
"Iya Mas, suamiku punya istri lagi setelah aku."
"Sabar ya, ini semua ujian, aku doakan agar kamu cepat dapat pengganti yang lebih baik lagi." Reno berusaha memberikan kata-kata semangat, biar bagaimanapun wanita itu dulu pernah menjadi bagian cerita hidupnya.
"Makasih Mas, oh ya aku dengar katanya Mas belum menikah ya?"
"Ya ..."
"Kalau begitu, kita bisa ber ..."
"Maaf Mir, aku akan menikah dua minggu lagi, cerita diantara kita sudah berakhir lima tahun yang lalu, dan tidak akan di ulang lagi, jadi tolong jangan hubungi aku lagi."
Reno menarik nafas lega, dia tak ingin memberi harapan kepada Amira atau siapapun itu, dia sudah bertekad akan menikahi Viona, gadis yang sudah menggetarkan hatinya sejak pandangan pertama.
Reno merebahkan tubuh gagahnya ke ranjang, dan mulai memejamkan mata, tapi malah wajah Viona yang terngiang-ngiang di ingatannya.
__ADS_1
Ahh, Viona. Aku bisa gila bila tidak segera menikahi kamu. Reno terus saja memejamkan matanya, hingga akhirnya dia bisa terlelap juga.
*
*
"Papa belum pulang, Ma." Tanya Viona, sesaat setelah dia Menghempaskan bokongnya di sebelah Mama Mela, yang sedang menonton televisi, saat itu sudah pukul 11.00 siang hari.
Viona baru saja bangun dari tidurnya, dan segera ke bawah. Jemari tangannya yang lentik memegang ponsel pada tangan kiri dan minuman kaleng, pada tangan kananya.
"Belum, baru saja telfon, katanya baru pulang nanti sore, akan ada barang yang datang lagi, jadi Papa menunggu di sana, dari pada bolak-balik." Mama Mela menjelaskan, tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari layar televisi, yang sedang menayangkan acara gosip para selebriti.
"Oh, begitu?" Viona meneguk minuman yang sudah dia buka sejak tadi.
"Iya, kamu nggak makan?" Tanya Mama Mela lagi.
"Nanti saja Ma, masak apa sih?" Viona menyandarkan punggungnya ke belakang.
"Masak sayur asem sama ikan goreng."
"Wah, mantap tuh Ma."mata Viona berbinar, mendengar menu favoritnya di sebut sang Mama.
"Makan gih." Titah Mama Mela.
"Sebentar, Ma."
"Reno?"
" Iya, jangan berlagak lupa."
"Oh, dia baik sih orangnya."
"Kalau nggak baik, mana mungkin Mama merekomendasikan kepada kamu, Mama sudah lama tahu anak itu." Kata Mama Mela.
"Ya ... Ya... Ya ..." Viona memutar bola mata sebal.
"Kalau suka, segera bilang sama Reno, biar cepat di lamar."
"Kenapa sih, mesti buru-buru, saling mengenal aja dulu."
"Kenalan setelah menikah, justru lebih baik, mau ngapain aja tidak takut dosa, Reno anak yang baik, bertanggung jawab, walaupun mungkin penghasilannya tidak sebesar kamu, tapi dia tipe laki-laki yang dewasa."
"Dih, hapal benar Ma."
"Iyalah, Mama sudah survey dia kepada beberapa orang yang bisa di percaya ."
__ADS_1
"Vio takut kecewa nantinya Ma, 'kan belum saling mengenal betul-betul."
"Terus mau kamu, bagaimana? Ingat, usia kamu sudah tidak muda lagi, dua tiga tahun lagi, kamu sudah tidak bisa memilih calon pendamping hidup, karena usiamu sudah expired." Omel Mama Mela.
"Enak saja, anaknya di doakan expired. Kejam banget sih." Viona cemberut, dia merasa kesal juga, walaupun sebenarnya kata-kata sang Mama ada benarnya juga.
"Mama bicara kenyataan, Sayang."
Kembali Viona memutar bola matanya sebal, meneguk minumannya sampai tandas, dan segera beranjak bangun." Ayo makan, Ma."
"Mama masih kenyang, kamu duluan saja." Mama Mela menoleh sekilas kepada putrinya yang berjalan menuju ruang makan.
"Nggak enak makan sendiri, Ma." Teriak Viona.
"Haish, sudah cepat makan, jangan teriak-teriak kayak tarzan."
"Vio bawa makan ke situ ya?"
"Terserah."
Viona datang tak lama kemudian, dengan piring yang terisi penuh, nasi sayur dan ikan goreng, tak lupa sambal yang menjadi menu wajib bagi Viona, karena dia penyuka makanan pedas.
"Makan Ma,"kata Viona sambil mulai menyuap makanan nya." Mama kok bisa enak begini sih kalau masak?"
"Mama dulu juga nggak bisa masak, karena Papa paling suka makanan rumahan, mau tak mau, Mama harus belajar memasak, karena cinta bisa datang dari perut juga."
"Untung saja Reno mau mengerti, aku sudah jujur bilang kalau tidak bisa masak, kata dia tidak masalah, nanti dia yang akan memasak."
"Berarti kamu juga harus belajar memasak nantinya, belajar masak yang simpel-simpel aja dulu, seperti sayur asem, sayur bayam dan sayur sop, paling mudah, kalau lauk 'kan tinggal goreng saja, beli bumbu racik yang sudah siap saji."
"Nanti deh di pikirkan, belum tentu aku menikah dengan dia." Viona terus saja menyantap makan siangnya, yang sudah hampir habis, dia kalau sang Mama sudah memasak menu favoritnya, bisa kalap saat makan.
Untungnya tubuhnya tetap ideal, langsing dan seksi. Walupun makan dengan porsi yang banyak tidak membuat tubuhnya gendut.
"Mama tidak mau tahu ya, pokoknya kamu harus mau!" Ultimatum dari kanjeng Ratu.
"Lho, yang menjalani siapa Ma?" Viona meletakkan piringnya yang sudah kosong di meja yang ada di depannya. Meraih gelas yang berisi air putih, dan meneguknya hingga habis.
"Sudahlah Vio, dua minggu lagi, kamu menikah, Mama dan Papa sudah menyiapkan semuanya, sudah cukup bermain-main nya."
Viona terdiam, dia tak bisa berkata apa-apa lagi, hanya menarik nafas berat"ya sudah, terserah Mama."
"Begitu 'kan bagus, jalani saja. Reno adalah laki-laki yang terbaik untuk kamu."
Bersambung ...
__ADS_1
🌸
🌸