
🌸
🌸
Reno memutuskan untuk menyusul sang istri ke kafe yang tadi sudah di share oleh Amira. Entah apa yang dilakukan oleh wanita itu, hingga dia bisa melihat Viona sedang berduaan dengan pria yang menurut istrinya adalah cinta monyetnya.
Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kafe yang di singgahi sang istri.
Reno yang saat itu lebih memilih naik taksi online, turun dari taksi. kemudian mendekati mobil sang istri yang terparkir dengan manis di depan kafe.
Reno kemudian berjalan menuju ke pintu kafe, berniat untuk masuk kedalam. Tapi, belum sempat dia masuk, dia melihat sang istri yang duduk berhadapan dengan pria yang sudah membuat Reno cemburu itu.
Pria tampan itu mengurungkan niatnya untuk masuk, ketika melihat sang istri yang sepertinya berdebat dengan Dewa. Ya, Reno mengingat pria itu, yang bernama Dewa. Mereka pernah bertemu di taman.
Sang istri tampak begitu kesal, dan kemudian berdiri, pada saat itu Reno memutuskan untuk kembali ke mobil sang istri.
Tak lama Viona keluar dan tampak terkejut melihat sang suami yang berdiri menyandarkan punggung pada body mobil.
"Mas ..."
***
"Kenapa pergi nggak pamit sama aku?" Tanya Reno, dia menoleh kepada sang istri sekilas.
"Aku buru-buru tadi, Maaf." Guman Viona lirih, tapi masih bisa di dengar oleh Reno.
"Masih marah sama aku?" Tanya Reno lagi.
__ADS_1
"Nggak."
"Maafkan aku, bukan maksudku untuk menolak kamu Sayang... "
"Jangan di bahas lagi, hanya membuat aku merasa rendah, sudah seperti wanita murah*an saja." Sergah Viona dengan cepat.
Reno tersentak, dia kemudian membelok mobil ke arah samping, dan menghentikan laju kendaraan roda empat itu.
"Sayang ... "
Reno menangkup kedua sisi wajah Viona. Menatap manik mata bulat yang berkaca-kaca itu, hatinya seperti tersentil. Tidak mengira bila penolakan yang dia lakukan, melukai hati sang istri begitu dalam.
"Maafkan aku, sudah membuatmu sedih, sungguh aku tidak bermaksud untuk menolak kamu, Sayang. "Bahkan kalo bisa, aku ingin setiap hari bisa memadu cinta dengan kamu."
Viona terisak, tak mampu memandang wajah tampan yang merasa bersalah itu."Sudahlah Mas, nggak usah di bahas lagi. Aku janji, tidak akan meminta darimu lagi." Viona memalingkan Wajahnya.
"Aku nggak mau di tolak lagi, mas. Cukup sekali, aku baru hamil beberapa minggu saja suami aku sudah tidak mau menyentuh ku, apalagi kalo nanti, tubuh aku sudah tak berbentuk lagi, mungkin dia akan jijik melihat aku." Viona tersenyum sinis.
Reno menghela napas yang terasa berat. Sudah tak mampu lagi mengeluarkan kata-kata, saat ini sang istri masih di penuhi rasa emosi yang cukup tinggi. Jadi, percuma saja bila dia membela diri.
Reno kemudian segera melajukan mobil itu kembali, menuju ke butik sang istri. Dan keheningan yang menyelimuti keduanya saat itu, Reno fokus dengan jalan di depannya, sedang Viona lebih memilih menolehkan pandangannya ke samping.
🌸🌸🌸
Begitu tiba di butik, Reno bergegas kembali ke bengkel milihnya. Dengan mengendarai motor matic-nya, dia meninggalkan sang istri yang lebih memilih tetap membisu dan bersikap datar kepadanya.
"Mbak, sudah balik?" Rani menyambut kedatangan sang bos yang tampak lemas dan tidak bersemangat.
__ADS_1
"Hemm "
"Tadi Mas Reno nunggu Mbak Vio lama banget lho, bahkan belum sarapan, katanya nunggu Mbak Vio kembali." Kata gadis cerewet itu lagi, dia mengikuti langkah Viona hingga sampai di depan ruang kerja Viona.
"Kenapa mengikuti aku?" Viona berbalik dan mengerutkan dahinya, menatap Rani.
"Eh, maaf. nggak sadar Mbak." Rani buru-buru berlalu dari hadapan Viona, tak mau menambah rasa kesal yang mungkin di rasa oleh wanita cantik yang selalu membuatnya iri di setiap saat.
Begitu sempurna hidup yang kini di jalani Viona. Kecantikan sudah tidak bisa diragukan lagi, karir bahkan sangat bagus yang bisa di perhitungkan, pasangan, bahkan mempunyai suami yang tampan dan begitu perhatian sekali kepada sang istri.
Rani kadang mengeluh di dalam hati, kenapa nasibnya sangat jauh di banding Viona. Dia tidak cantik, tidak pintar, tajir juga sangat jauh dari genggamannya, dan jodoh, bahkan hingga detik ini dia masih saja menyandang gelar jomblo akut.
Sangat memprihatinkan bukan. Tapi kemudian dia segera tersadar, bahwa garis nasib setiap manusia itu berbeda-beda. Harusnya dia banyak bersyukur, sudah di berikan tubuh yang sempurna.
Punya dua mata, dua tangan, dua kaki, dia juga bisa melihat dengan baik, bisa mendengar. Kurang apa lagi.
Sementara di bengkel milik Reno, pria itu tampak sedang melamun di kursi kerjanya. Menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
Tanpa terasa sudut matanya berair, hatinya begitu nelangsa, membayangkan sang istri yang lebih memilih bersikap dingin kepada nya.
Kamu memang bodoh, Reno.
**Bersambung...
🌸
🌸**
__ADS_1