
🌸
🌸
"Wah, dia siapa Bos?" Tanya Tono dengan penasaran, selama ini yang dia tahu Reno tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun, sekalinya dekat malah dengan wanita secantik bidadari, di mana-mana orang tampan dan kaya selalu lebih beruntung.
Tono mendesah dalam hati, memandang penuh rasa iri kepada sang Bos dan wanita cantik yang bergelayut di lengan Reno.
"Dia calon mama-nya anak-anak ku, Ton." Reno tersenyum tipis, seraya menatap anak buahnya yang tampak kaget.
"Wah, selamat ya Bos. Cepat di tarik ke pelaminan Bos, keburu di sambar orang nanti." Goda Tono.
Reno tertawa, sementara Viona hanya memutar bola mata sebal."Ayo, aku sudah lapar." Rengek Viona.
"Iya, Sayang. Ton, aku perge duli ke depan, titip bengekl ya?" Kata Reno, dan segera berjalan menuju ke restoran yang ada di depan bengkel.
"Siap, Bos." kata sang anak buah seraya menaik turunkan kedua alisnya, menggoda sang Bos.
Reno hanya menggelengkan kepala melihatnya.
***
Reno dan Viona sudah sampai di restoran yang ada di seberang bengkel, ada bermacam-macam menu yang terlihat begitu menggiurkan.
Setelah memesan menu yang mereka inginkan, keduanya Keduanya segera mencari tempat duduk, rumah makan yang tidak begitu besar tapi cukup nyaman dan bersih itu terlihat masih sepi.
Mungkin Karena belum waktunya makan siang.
"Bagaimana, kita jadi menikah kan?" Tanya Reno tak sabar, dia menatap wajah Viona yang sedang fokus dengan ponselnya, seperti sedang membalas chat.
"Sayang," usik Reno, dia mendekatkan wajahnya dan melongok ke arah layar ponsel, sedikit mengintip, siapa gerangan yang sedang berkirim pesan dengan calon istrinya.
"Ya ... " Viona mendongak, dan menabrak mata elang Reno mereka bersirobok mata dalam beberapa detik, hingga akhirnya Viona membuang muka, tak ingin larut dalam pesona pria yang semakin di lihat semakin memesona ini.
"Kamu mau aku lamar kapan?" Tanya Reno seraya tersenyum, dia sudah tidak sabar ingin segera memiliki wanita cantik yang akhir-akhir ini berani mengusik hatinya.
"Terserah saja, mungkin lebih cepat lebih baik." Viona menyapukan pandangannya ke sekeliling. Karena dirasakannya jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, hanya karena pria itu terus menerus memandangnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, bagaimana kalau langsung menikah, tidak perlu lamaran," usul Reno
"Hah! Masa nggak ada lamaran sih?"
"Memangnya harus ya ,ada lamaran? Bukankah yang penting kita sah, secara agama dan negara?"
"Terserah kamu deh, aku terima beres saja."
"Baik, kurang dari satu minggu kita menikah, aku akan segera mengurus surat-surat yang di perlukan," kata Reno dengan wajah sumringah.
"Hemm."
"Setelah menikah, kita langsung pulang ke rumah aku, ya?" Reno tersenyum menatap Viona.
"Kenapa buru-buru, nggak nginep dulu sehari atau dua hari?": tanya Viona, sepertinya gadis cantik itu agak keberatan, kalau harus meninggalkan rumah orang tuanya, mau bagaimana lagi, dia memang anak tunggal, jadi belum pernah tinggal jauh dari orang tuanya.
"Namanya pengantin baru, pasti ingin di rumah sendiri, Sayang. Biar tidak ada yang mengganggu." Reno tersenyum menggoda.
"Memang mau apa! Ingat perjanjian kita ya, jangan sentuh aku, tanpa persetujuan dari aku, mengerti." Viona menatap galak pada pria di depannya.
"Tidak boleh."
Reno melemas, tapi sedetik kemudian dia tersenyum, tak masalah, pasti lama-lama dia akan bisa menerima aku. Anggap saja sekarang lagi pacaran. Monolog Reno dalam hati.
Pelayan datang membawa pesanan mereka, dan keduanya segera menyantap tanpa banyak bicara, hanya sesekali mereka saling mencuri pandang, dan jika saling kepergok, keduanya terlihat salah tingkah.
***
Seminggu berlalu, akhirnya hari yang bersejarah bagi Viona dan Reno tiba, pukul 10.00 pagi, acara ijab kabul pun berlangsung dengan khidmat dan lancar.
Meskipun ada sedikit kegugupan, saat Reno mengucap ijab Kabul, tapi tetap berjalan lancar dan tepat pada waktunya. Setelah acara ijab kabul terlaksana dengan lancar, acara selanjutnya adalah pemberian ucapan selamat dari saudara dan juga teman terdekat mereka.
Viona memang belum menginginkan acara resepsi, karena mereka menikah juga bukan atas dasar cinta, untuk saat ini cukup sah di mata hukum dan Agama saja.
Acara demi acara berjalan dengan lancar, tepat jam dua siang selesai juga. Reno mengajak sang istri untuk langsung pulang ke rumah nya, saat berpamitan dengan kedua orangtuanya, terjadi drama yang menguras air mata, di mana Viona dan sang Mama malah saling bertangisan, sudah seperti akan berpisah beda benua saja.
Papa Viona menenangkan Mama Mela, sedangkan Reno tampak menghibur sang istri.
__ADS_1
Pengantin baru itu pulang ke rumah Reno dengan mengendarai mobil sedan mewah milik Viona, sepanjang perjalanan hanya ada kebisuan yang mencekam. Viona menutup mulutnya rapat-rapat, dan Reno yang sedang menyetir hanya sesekali menoleh kearah wanita yang menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi itu.
Akhirnya mereka sampai juga di rumah mungil milik Reno, setelah tiga puluh menit menyusuri jalan raya. Abizard memilih turun duluan, lalu berjalan memutari mobil mendekati pintu penumpang, dan membukanya.
"Ayo Sayang, kita sudah sampai." Usik Reno, Viona yang sedang melamun tampak kaget, dia menatap rumah yang sangat jauh dari kata mewah, sangat berbeda dengan rumah yang selama ini dia tinggali bersama orang tuanya.
"Ini rumah kamu?" Tanya Viona, dia turun dari mobil.
"Iya, kenapa?" Reno menutup pintu mobil, lalu berjalan ke arah bagasi untuk mengambil tas milik istrinya.
"Nggak apa-apa," jawab Viona malas, hatinya masih begitu sedih, karena harus meninggalkan tempat yang sudah dia tinggali selama hampir 25 tahun itu.
"Jelek ya, kamu nggak suka?" Reno menggandeng tangan Viona dengan mesra, keduanya masuk setelah Reno membuka kuncinya.
Viona menghempaskan bokongnya di sofa runag tamu yang berwarna maroon itu, menyandarkan punggungnya yang terasa lelah.
"Istirahat di kamar saja, Sayang." Suara Reno menginterupsi Viona yang baru saja memejamkan mata.
"Sebentar."
"Mau aku gendong?" Tawar Reno dengan tak tahu malu, dia berdiri di depan sang istri, dan tersenyum mesum.
"Jangan macam-macam." Ancam Viona, mata bulatnya seakan siap memangsa lawan bicara.
"Macam-macam apa sih Sayang, aku hanya menawarkan diri untuk menggendong kamu," kata Reno sambil tertawa kecil." kamu pasti capek, 'kan?"
"Dasar mesum, aku mau istirahat dulu sebentar di sini," kata Viona, kedua mata bulatnya terpejam rapat, membuat Reno tersenyum kecil dia bahkan seperti enggan pergi dari hadapan Viona, tampak begitu mengagumi wajah cantik yang begitu memesona itu.
"Kenapa belum pergi juga?" usik Viona dengan mata yang masih terpejam.
Reno tersentak, bagaimana dia bisa tahu!
Bersambung ...
🌸
🌸
__ADS_1