Bukan Suami Impian

Bukan Suami Impian
Cemas


__ADS_3

🌸


🌸


Tono menahan napas, saat melihat tatapan mata Reno yang begitu tajam, seakan ingin mencabik-cabik lawan bicaranya. Pria menuju 40 tahun itu merasa heran. Dalam hati bertanya, ada apa gerangan yang menimpa sang Bos, tidak biasanya mendengar kata Viona langsung berubah masam.


"Ma-maaf Mas." Tono mengguman lirih. Reno tidak membalas permintaan maaf dari anak buah kepercayaannya itu, dia melangkah keluar dan meninggalkan Tono yang masih dalam mode bingung.


Tono menoleh kepada sang istri, yang juga sedang menatapnya heran."Kenapa Mas?"


"Nggak tahu, Mas Reno kok jadi sensitif gitu, aku keluar dulu ya? kalo anak kita sadar, panggil aku di luar." Tono kemudian pergi, setelah sang istri mengangguk patuh.


Reno terlihat duduk melamun, di bangku yang ada di depan kamar anak Tono, menyandarkan punggungnya ke belakang, dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"Aku pikir Mas tadi langsung pulang," kata Tono sembari Menghempaskan bokongnya di sebelah kanan Reno.


"Sebentar Ton, aku mau nenangin diri dulu disini." Reno memejamkan mata, sementara suasana sudah mulai gelap gulita, hanya cahaya lampu yang menerangi malam ini.


Mungkin saat ini sudah pukul tujuh malam, dan Reno belum berniat untuk pulang sama sekali. Rasa kecewa dan kesal masih begitu mendominasi hatinya.


"Ada masalah apa Mas, siapa tahu aku bisa ngasih saran?" tanya Tono hati-hati. Tak ingin lagi menambah kekesalan di hati Reno, apalagi sampai pria itu murka, bukankah nasibnya bagaikan telur di ujung tanduk.


Reno menghela napas yang terdengar begitu berat. Masih diam, dan belum ingin menjawab ucapan Tono.


"Setiap rumah tangga selalu ada ujiannya sendiri-sendiri Mas,ada yang di uji ekonominya, ada yang di uji pasangannya, ada juga yang diuji oleh keturunannya, semua pasti mendapatkan ujian masing-masing." Tono berkata begitu bijak.


Tentu saja Tono sudah cukup lama berumah tangga, pasti dia sudah banyak makan asam garam.


"Kita sebagai manusia, harus bijak menyikapinya Mas, jangan hanya mengedepankan emosi semata, bila ada masalah, sebaiknya di bicarakan berdua, di cari solusinya, jangan malah menghindar, tidak baik membiarkan masalah berlarut-larut." Tono menambahkan lagi, karena Reno hanya diam tak memprotes, dia berani untuk menasehati sang Bos yang lagi galau akut itu.


"Hahhh ... " Reno mendesah, lalu menoleh kepada Tono, yang terlihat sedang menatap ke arah langit.

__ADS_1


"Aku bingung Ton ... " Kata Reno akhirnya, tak ada salahnya juga sih curhat sama Tono, dia kan udah pengalaman, siapa tahu bisa ngasih solusi yang tepat.


"Ada apa sih Mas?"


"Tadi siang, aku kan ke butik istriku, sampai di sana aku melihat insiden yang nyaris membuat ku naik darah ... " Reno mengeraskan rahangnya, emosinya meledak kala mengingat Viona yang sedang berpelukan dengan mantan pacarnya itu.


"Ya ... " Tono menatap Reno penasaran, seakan tak sabar menunggu kelanjutan cerita yang akan di ungkapkan oleh Reno.


"Aku melihat Viona sedang berpelukan dengan mantan pacarnya Ton, saat itu aku langsung marah, kesal, kecewa dan aku pergi begitu saja."


Tono terdiam. Tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dia masih menunggu kelanjutan cerita yang akan keluar dari bibir Reno.


"Menurut kamu, apa yang harus aku lakukan Ton?"


"Mas cinta Mbak Viona?"


Reno melotot." pertanyaan macam apa itu Ton, tentu saja aku mencintai istriku, karena itu aku sangat cemburu, aku kesal, marah sekaligus takut."


"Aku takut, kalo Viona terjebak lagi dalam pesona mantan pacarnya itu." Tangan Reno mengepal.


"Salah kalo mas merasa takut."


"Hah."


"Posisi Mas lebih unggul dari dia, Mas saat ini adalah suami mbak Vio, sedang laki-laki itu, cuma mantan Mas." Tono menggelengkan kepala, heran dia melihat sang Bos yang seperti orang bodoh dalam masalah cinta.


"Aku kesal Ton, kenapa Viona mau di peluk mantannya itu, kan bukan mahram nya?"


"Mas udah nanya alasannya belum?"


"Belum lah, kan aku udah bilang, kalo aku langsung pergi saat itu juga."

__ADS_1


Tono menepuk keningnya sendiri. Gemas rasanya melihat Reno.


"Mas jangan langsung cemburu dan maraj, dengar dulu penjelasan dari mbak Vio."


"Hhhhh." Reno menghela napas lagi, kemudian dia beranjak berdiri."Aku pamit ya Ton, besok libur aja kalo masih repot." katanya kemudian.


"Iya Mas, terima kasih. Semoga masalah Mas cepat selesai ya." Doa tulus terucap dari bibir Tono.


"Aamiin, makasih Ton." Reno melesat pergi meninggalkan Tono, dan kemudian pria itu segera beranjak masuk ke dalam, menemani sang istri yang sedang menunggu buah hati mereka.


🌸🌸🌸


Viona mondar mandir dengan gelisah di ruang tamu rumahnya. Sesekali kepalanya melongok ke luar rumah, siapa tahu Reno pulang.


Kamu kemana sih Mas, ayolah pulang. Kita bicara baik-baik, Jangan ngambek kayak gini. Bikin aku cemas saja..Viona bermonolog dalam hati.


Setelah kepergian Reno tadi siang, dia tidak bisa lagi fokus dengan kerjaannya, yang ada di benaknya hanya suaminya. Ada rasa takut, cemas dan juga sedikit kesal, karena Reno pergi begitu saja, tanpa mendengar penjelasan darinya.


Viona menghela napas, lelah menunggu sang suami, dan saat itu sudah hampir pukul sepuluh malam. Viona mendekati pintu, dan berniat menutup nya, tepat pada saat itu terdengar suara motor yang masuk ke halaman.


Senyum Viona timbul, wajahnya sontak berseri-seri saat melihat sang suami yang memarkir motor di teras. Pria itu turun dalam diam. Lalu melangkahkan kaki, mengabaikan Viona yang sedang mematung di depan pintu.


"Assalamualaikum."


Bersambung..


Jangan lupa klik like, love dan komen..


🌸


🌸

__ADS_1


__ADS_2