
🌸
🌸
Pria itu tengah menatap mereka dengan kilatan amarah dan juga kecewa, yang begitu kentara di raut wajahnya. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya.
"Mas ... " Viona tersentak, sontak melepaskan pelukannya, dan berjalan pelan menghampiri suaminya, yang masih mematung di tengah pintu.
"Ini nggak seperti yang Mas pikirkan."
"Memang apa yang sedang aku pikirkan sekarang?" Reno balik bertanya, dan tersenyum sinis. Viona mengentikan langkah tepat di depan suaminya.
"Aku hanya ... "
"Sebaiknya aku pulang, tadinya ingin mengajak kamu makan siang, tapi ternyata kamu sedang sibuk." Reno membalik tubuhnya dan berlalu pergi.
"Mas ... " Teriak Viona, air matanya turun tanpa permisi.
"Semua ini gara-gara kamu, Lex. Kalo sampai suamiku tidak mau memaafkan aku, kamu harus bertanggungjawab, aku tidak akan memaafkan kamu seumur hidupku!" Viona berteriak untuk melampiaskan emosi dan rasa kesalnya.
Alex membeku, sungguh tidak ada niatan untuk membuat rumah tangga Viona berantakan seperti ini, walaupun dalam hati dia cukup senang, tapi melihat Viona begitu terluka, membuatnya mencelos.
Ternyata Viona begitu mencintai suaminya, dan apakah memang dia harus mundur. Mengikhlaskan semua, walau begitu berat rasanya.
"Maafkan aku Vio, aku tidak bermaksud seperti itu."
"Cukup Lex, pergilah. Jangan pernah temui aku lagi." Viona berjalan ke arah kursi kerjanya, lalu mengehempaskan bokongnya dengan kasar.
Terbayang wajah suaminya yang biasa lembut dan penuh senyum, tampak memerah menahan amarah." Pergi Lex."
Alex yang masih saja betah mematung itu terperanjat, tak ingin menambah emosi Viona, dia segera melesat pergi dari hadapan Viona.
🌸🌸🌸
Sementara itu di bengkel, Reno tampak menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, masih terngiang-ngiang bagaimana Viona berpelukan dengan laki-laki yang dia pikir mantan pacarnya dulu.
__ADS_1
Rasa cemburu dan Amarah begitu mendominasi seluruh hatinya, hingga mengalahkan rasa cintanya yang begitu besar untuk istrinya.
Siapa kiranya suami yang tidak cemburu, melihat istrinya begitu mesra dengan pria lain.
Sedangkan aku yang hanya ngobrol dengan mantan saja dia sudah begitu marah, apalagi aku, yang melihatnya berpelukan dengan mata kepalaku sendiri.
"Mas ... " Tono masuk, menginterupsi lamunan Reno, dia menatap pria yang sudah lama bekerja di bengkelnya itu, dari sebuah bengkel kecil, hingga sekarang yang sudah menjelma menjadi bengkel yang cukup besar.
"Ada apa?"
"Aku mau minta izin pulang." Tono terlihat resah dan gelisah.
"Hah, ada apa?" Reno bertanya heran, karena Tono adalah sosok pekerja keras, dan bahkan tak pernah izin tidak masuk, bila tidak ada urusan yang sangat mendesak.
"Istriku baru saja telpon, anakku yang sulung terserempet motor, dan luka cukup lumayan." Tono terlihat sedih, tentu saja, anak adalah harta yang paling berharga. Sebagai seorang ayah, tentu dia merasa takut jika buah hatinya kenapa-napa.
"Astaghfirullah, terus bagaimana keadaannya, di rawat dirumah sakit mana Ton, nanti sepulang dari bengkel, aku akan ke sana." Reno ikut panik, dia bisa merasakan bagaimana kesedihan Tono, biarpun dia belum pernah punya anak.
"Di rumah sakit XX Mas, kalo begitu aku permisi dulu ya?" Pamit Tono.
"Ton, sebentar ... " Reno merogoh kantong celananya, lalu mengambil dompet warna hitam miliknya. Membuka dan segera mengambil semua uang yang ada di dalamnya.
"Ta-tapi Mas ... "
"Sudah bawa aja, ini aku kasih sama kamu, bukan hutang. Cepat, temui istri kamu, pasti dia sangat bingung dan takut di sana sendirian."
"Iya Mas, makasih." Tono melesat pergi, setengah berlari meninggalkan Reno yang mematung menatapnya.
Kembali hatinya merasa sesak dan marah, di saat sendiri seperti ini dia kembali teringat insiden tadi, bahkan dia sudah tak lagi mau mendengarkan penjelasan dari Viona, karena hatinya sudah sangat di penuhi oleh rasa cemburu buta.
🌸🌸🌸
Reno melangkah menyusuri koridor rumah sakit. Setelah menutup bengkel, dia segera menepati janjinya untuk menjenguk anak dari Tono. Reno pernah beberapa kali bertemu dengan putra sulungnya, saat bertandang ke rumah Tono.
Reno sempat bertanya ke bagian petugas yang berjaga, kamar yang di tempat i oleh anak Tono sebelah mana.
__ADS_1
Hingga sampai juga dia di depan sebuah kamar yang ada di ujung, tampak lengang, dan Reno melongok ke dalam, melihat Tono dan istrinya yang duduk termenung di sisi ranjang, di mana buah hati mereka tampak pulas, dengan infus di lengan kanan.
"Gimana Ton?" Tanya Reno, setelah dia masuk dan mengagetkan kedua manusia yang sedang melamun itu.
"Mas, Alhamdulillah tidak ada luka dalam, cuma luka luar saja Mas." Tono berdiri.
"Sabar ya Mbak." Reno menenangkan istri Tono, yang terlihat begitu terpukul.
"Iya Mas, terima kasih perhatiannya." Lirih istri Tono. Wanita yang berhijab maroon itu tersenyum tipis.
"Sama-sama mbak." Reno mendekati ranjang, dan mengelus lengan pria kecil yang tampak begitu tenang tertidur itu.
"Semoga cepat sembuh ya nak, dan bisa bermain lagi." Kata Reno, entah kenapa hatinya berdesir saat mengucapkannya, mungkin karena dalam hatinya, dia sangat ingin punya anak.
"Makasih Mas, semoga Mas dan Mbak Viona cepat di beri momongan." Doa Tono dengan tulus, keduanya berdiri bersisian di sebelah ranjang.
"Aamiin, lalu anak kamu yang bungsu?"
"Dititipkan sama neneknya, tidak mungkin membawa ke rumah sakit." Jelas Tono.
"Iya, benar juga."
Keheningan tercipta beberapa detik kemudian, Reno dengan segala beban pikirannya, Tono yang sedang memikirkan anaknya juga istri Tono yang juga tampak melamun, masih terbayang sang anak terserempet motor, di depan matanya sendiri.
Karena itu dia merasa begitu bersalah, merasa tidak becus menjaga anak. walaupun sebenarnya juga bukan salah dia sepenuhnya.
Anak sulungnya yang sudah duduk di bangku kelas tiga SD memang sangat aktif, setiap hari bermain sepeda tak kenal lelah, hingga akhirnya terjadi insiden tadi.
"Mas, sudah larut malam, sebaiknya pulang saja, nanti Mbak Vio cemas." Tono tiba-tiba berkata.
Reno tersentak, lalu menoleh pada Tono dengan wajah datarnya. Membuat Tono merasa seperti tercekik tenggorokannya.
"Ma-maaf."
*bersambung...
__ADS_1
🌸
🌸*