
🌸
🌸
Beberapa hari berlalu, hubungan Viona dan Reno kian hangat, Viona tak lagi menolak setiap sentuhan yang di berikan oleh Reno, dan tentu saja pria muda itu bahagia, dia merasa sebentar lagi Viona pasti akan menyerah seutuhnya kepada dirinya.
Pagi hari yang cukup cerah, Viona sudah rapi dengan setelan kerja seperti biasa, gaun warna peach selutut dan blazer senada, rambut panjangnya terurai, menambah kesempurnaan penampilannya pagi ini.
Setelah menyemprotkan parfum mahalnya, dia segera menyambar tas, dompet dan juga ponselnya. keningnya berkerut saat mendapati sang suami sedang duduk di santai, dia pikir Reno sudah berangkat ke bengkel sejak tadi.
"Lho Mas, belum berangkat?" tanya Viona heran.
"Belum, si merah lagi ngambek, nggak mau di ajak jalan." Reno tersenyum, terpesona melihat kecantikan sang istri, yang begitu kelewatan.
Si merah adalah motor matic-nya yang berukuran cukup besar. Viona semakin heran, masa iya seorang montir nggak bisa betulin motor sendiri.
"Memang parah?"
"Belum sempat buka, nanti aja sepulang kerja."
"Mau bareng aku?" tanya Viona, bergegas mengunci pintu, karena hari sudah beranjak siang, walaupun butik itu miliknya, tapi dia tidak mau memberi contoh yang jelek buat ketiga karyawannya.
"Memang itu maksud aku, makanya aku nungguin kamu." Reno berdiri, lalu meraih pinggang ramping istrinya.
"Mas, ini di teras lho " Viona kaget karena tiba-tiba saja Reno mendekapnya, kedua matanya celingukan melihat ke sekeliling, takut kalo ada tetangga yang melihat keintiman mereka.
"Memang kenapa, istri aku sendiri ini." dengan tak tahu malu, Reno malah mencium bibir yang sudah di poles lipstik warna pink itu. sejak Viona menurunkan bendera perang, Reno semakin berani dalam hal menyentuh sang istri.
Hanya saja, untuk soal penyatuan seutuhnya, belum bisa dia lakukan, karena sang istri sedang dalam masa haid, dan dia semakin tersiksa saja jika harus setiap hari menahan gejolak hasrat yang terkadang susah di bendung.
"Iya, tapi ini di luar Mas, lagian aku juga harus kerja, sudah sana minggir." dengan kesal Viona mendorong tubuh besar suaminya.
Reno terkekeh, lalu meraih pinggang istrinya, berjalan menuju mobil.pagi ini Reno yang akan memegang kemudi, setelah Viona masuk ke dalam dan duduk di kursi penumpang, Reno bergegas masuk ke mobil juga, kemudian mobil mewah milik sang istri melaju ke jalan raya, yang sudah agak sepi itu.
🌸🌸🌸
Viona beranjak dari duduknya, karena kesibukannya di butik, hingga tanpa terasa sudah masuk jam makan siang. Saat ini sudah hampir pukul 12.00, dan wanita cantik itu bermaksud membawakan makan siang untuk suaminya.
Memang bukan masakan sendiri, tapi setidaknya dia sudah mulai memberikan sedikit perhatian kepada suaminya.
"Ran, kalo mau makan gantian seperti biasa ya, aku mau makan di luar dulu." pamit Viona, begitu dia sudah keluar dari dalam ruangannya.
"Baik, mbak. nanti balik lagi atau langsung pulang, mbak?" tanya Rani, sang karyawan senior, yang sudah sangat di percaya oleh Viona.
__ADS_1
"Kayaknya balik lagi, cuma makan siang saja sebentar." Viona memasukkan ponsel dan juga dompet ke dalam tasnya.
"Ng, pasti dengan Mas Reno," Kata Rani, dan gadis itu segera menutup mulutnya yang sudah begitu kurang ajar menggoda sang Bos.
Viona malah tertawa kecil." tau aja sih, Ran siang-siang kayak gini, enaknya makan apa ya?" tanya Viona, seraya menatap Rani.
"Karena cuaca cukup panas, enaknya makan yang seger-seger, Mbak. misalnya sop daging, atau soto mungkin."
"Ah, benar juga ya, aku beli soto saja deh, aku jalan dulu May. Titip butik ya."
"Siap, Mbak."
***
Viona turun dari mobil, dengan menenteng paper bag yang berisi makanan. di tengah jalan tadi dia berhenti untuk membeli dua porsi soto daging lengkap dengan nasinya, dan Viona minta di buatkan terpisah, antara nasi dan juga kuah soto.
Senyumnya mengembang sempurna, saat membayangkan reaksi terkejut daru sang suami. Viona memang tidak memberi tahu sebelumnya, kalo siang ini dia mau makan siang di bengkel tempat suaminya bekerja.
"Siang Mas Tono." Viona tersenyum kepada pria yang mungkin berusia 40 tahun yang sedang menikmati makan siangnya.
"Siang Mbak Vio, pasti mau nyari Mas Reno?"
"Iyalah, masa nyari Mas Tono sih," kata Viona seraya tertawa kecil, dalam hati menyesal, kenapa tadi tidak sekalian membawakan makan siang untuk teman-teman Reno.
Mata bulatnya melirik ke arah kotak bekal yang berada di atas meja.
"Iya, masakan bini, saya dilarang jajan di luar." Tono nyengir.
"Oh ya, kenapa? bukannya disini ada uang makan juga ya?"
"Iya sih mbak, kata istri sayang uangnya kalo buat makan di warung, sudah pasti nggak kenyang, kebersihan juga masih perlu dipertanyakan lagi." Tono memasukkan lagi sesendok nasi beserta lauk ke dalam mulutnya.
"He, iya sih. ya sudah, selamat makan Mas, aku ke Mas Reno dulu ya?" pamit Viona, dia kemudian mencari Reno ke dalam, meninggalkan Tono yang masih sibuk dengan makan siangnya.
Mata bulat Viona membelalak saat menemukan suaminya sedang duduk di sebuah ruangan, bukan itu yang membuatnya kaget, tapi lebih kepada teman ngobrol Reno, seorang wanita yang memakai dress warna putih.
Meskipun posisi wanita itu membelakangi dia, tapi dia bisa menebak, kalo dia adalah Amira, janda yang menjadi mantan sang suami.
Kedua tangannya mengepal, dadanya bahkan berdegup kencang menahan emosi, kilat amarah meletup-letup di dadanya. Berani-beraninya mereka berduaan di belakang aku, Kurang ajar!
Hampir saja Viona melempar paper bag yang dia bawa ke arah mereka, tapi otak waras nya segera melarang. Viona bergegas membalik badan sebelum kedua orang yang sudah membuatnya geram itu menyadari kedatangannya.
"Lho, kok balik lagi Mbak?" tanya Tono heran, karena baru sebentar Viona ke dalam.
__ADS_1
"Reno sedang sibuk kayaknya, aku takut mengganggu. Tolong kasihkan makan siang ini kepada dia ya Mas," kata Viona dengan memohon, menahan rasa sesak di dalam hati, bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
Tono menatap heran, kenapa Viona terlihat seperti akan menangis, Hah, Shi*** ... tentu saja Mbak Vio pasti melihat wanita yang bersama Reno tadi.
"I-iya Mbak, akan aku berikan kepada Reno." Terbata-bata Tono menjawab, dan menerima paper bag yang di ulurkan oleh istri Bosnya itu.
"Kalo dia sudah makan, buat Mas Tono saja. Permisi Mas." Viona bergegas keluar sebelum tangisnya benar-benar tumpah.
***
Reno tetap fokus dengan layar laptop di depannya, tanpa mempedulikan kehadiran Amira, sudah sejak tadi dia mengusir wanita itu, tapi dia tetap bergeming dan tak mau pergi.
"Pergilah, Mir, aku mau keluar cari makan." Reno akhirnya tidak tahan, dia geram setengah mati dengan Amira.
"Kita bisa makan siang bareng Mas." Amira tersenyum, tingkahnya sudah seperti wanita yang tidak tahu malu.
"Aku sudah menikah, jadi aku harap berhenti mengejar ku." kata Reno kesal.
Tok ... Tok ... Tok
Reno kaget, dan menoleh ke arah pintu, mendapati Tono yang berdiri di tengah pintu, dengan sebuah paper bag ditangan kanannya.
"Ada apa, Ton?" tanya Reno.
"Bisa keluar sebentar?"
"Ah, iya." Reno beranjak, dan mendekati Tono.
"Nih, makan siang dari Mbak Vio," kata Tono, seraya menyerahkan paper bag kepada Reno.
"Hah, Vio?" ada rasa terkejut dari diri Reno, perlahan perasaan tidak enak, entah karena apa.
"Iya, tadi dia kesini, nyari kamu, katanya mau makan siang bareng, tapi hanya sebentar dia balik lagi, bahkan hampir menangis." kata Tono lagi.
Bahu Reno melemas, dia mengusap wajahnya kasar, rasa takut kini menderanya.
"Apa Viona melihat Amira tadi?"
*Bersambung ..
Jangan lupa klik like, love dan komen
🌸
__ADS_1
🌸*