Bukan Suami Impian

Bukan Suami Impian
Kerja sama yang menyenangkan.


__ADS_3

🌸


🌸


"Kalo Vio hamil, kalian harus tinggal di sini," Kata Mela tiba-tiba, di saat mereka sedang fokus dengan makanan di piring masing-masing.


Uhuk ... Uhuk ...


Dengan kompak Reno dan Viona tersedak makanan mereka masing-masing. Lalu keduanya saling berpandangan.


"Ha-hamil Ma?" Tanya Viona polos.


"Iya, jangan bilang kamu KB ya?" Mata Mela seketika melotot, menatap tajam sang putri.


Reno juga melakukan hal yang sama, menolehkan pandangannya pada sang istri.


"Yang."


"Hey, kenapa semua melotot kepadaku," Kata Viona seraya cemberut, hatinya kesal, karena seolah-olah dia melakukan kesalahan saja.


"Mama cuma tanya, kamu nggak KB kan?"


"Nggak Ma, memang belum di kasih aja, lagian kami juga baru dua bulan menikah kan?"


"Iya sih, makanya Mama pengen cucu secepatnya, kalo bisa satu besok sudah ada," Kata Mela konyol.


"Hiss, Mama ini, apa-apaan sih, memang bisa di beli online apa?" Kata-kata Viona sontak membuat mereka tergelak.


"Sudahlah Ma, jangan terlalu mendesak, mereka masih muda juga." Hardi membela anak kesayangannya, yang terlihat terpojok.


"Nah, itu Papa aja ngerti lho, Ma."


"Iya, soalnya Papa nggak tahu, gimana Mama setiap hari kesepian di rumah sendiri," Mela merajuk, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan segar itu cemberut.


"Ya udah, Papa bikinkan lagi aja adik bayi buat Mama," Ucap Viona asal.


"Sayang." Reno menyentuh lengan istrinya, dan menggelengkan kepalanya.


"Iya Maaf."


"Doakan saja Ma, Pa, supaya kami cepat di beri momongan." Kata Reno seraya tersenyum. "Kami akan bekerja lebih keras lagi, biar keinginan Mama cepat terkabul."


Uhuk ...


Viona tersedak lagi, dia bahkan hampir menyemburkan air minumnya saking kagetnya mendengar kata-kata Reno yang begitu mesum.


"Mas, ngomong apa sih?" Bisik Viona kesal, dan Reno hanya tersenyum, sambil menaik turunkan kedua alisnya.

__ADS_1


Nggak ngomong apa-apa," Elak Reno.


"Mas."


"Sudah-sudah, nggak usah berdebat lagi, Papa doakan rumah tangga kalian rukun selalu, kalo ada apa-apa, di bicarakan dengan kepala dingin, jangan pernah bertengkar." Kata Hardi, pria paruh baya itu memang jarang sekali mengeluarkan suara, berbeda sekali dengan Mela yang cenderung cerewet.


Bukankah itu adalah perpaduan yang sangat pas, seperti halnya Reno dan juga Viona, Reno mempunyai sifat pendiam sedangkan Viona lebih ceria dan banyak bicara.


"Aamiin."


Selepas makan malam, mereka masih menyempatkan ngobrol ringan di ruang keluarga, karena besok Reno dan juga Viona sudah pulang lagi ke rumah mereka sendiri.


🌸🌸🌸


Viona duduk di depan kaca rias yang ada di kamarnya, sedang Reno baru saja masuk ke kamar mandi. Wanita cantik yang sudah berganti piyama tidur itu sedang mengoleskan krim malam pada wajah mulusnya.


"Kalo capek tidur saja dulu, Mas." Viona berkata, saat melihat suaminya sudah keluar dari kamar mandi. Kamar Viona memang mempunyai kamar mandi di dalam, berbeda dengan rumah sederhana Reno, yang hanya ada satu kamar mandi, itu juga ada di belakang.


Sejauh ini, Viona tidak ada masalah sama sekali menyelesaikan diri di sana, selama sang suami masih sangat mencintainya, mau tinggal di mana saja juga boleh.


"Tidur? aku belum mengantuk." Reno mendekati sang istri, lalu mengambil sisir yang ada di meja rias, dan mulai menyisir rambut hitam nan lembut istrinya. Menyisirnya lembut dan sangat pelan.


"Mas nggak capek?" Tanya Viona, menatap wajah tampan suaminya dari balik pantulan cermin.


"Nggak, aku lagi memikirkan kata-kata Mama tadi."


"Mama yang pengen cucu."


"Mas pasti mikir yang mesum ini."


"Sama istri sendiri, nggak apa-apa, Sayang." Reno meletakkan sisir pada tempatnya lagi, lalu memeluk sang istri dari belakang. Memberikan kecupan basah pada bahu mulus sang istri yang terekspos, karena memakai gaun tidur model tali spageti.


"Mama ternyata bohong ya selama ini," kata Viona sinis, dia memutar tubuhnya hingga menghadap kepada sang suami.


"Bohong kenapa?"


"Mama bilang, Mas itu orangnya pendiam, nggak banyak bicara, kenyataannya. Mas bahkan mesum sekali."


Reno tergelak, dia membantu Viona berdiri, lalu melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping Viona, menariknya hingga posisi Mereka begitu dekat dan intim.


"Kenal sama kamu, membuat aku jadi mesum Sayang." Reno membawa tubuh istrinya pada pelukannya.


"Kenapa jadi nyalahin aku?" Kata Viona tak terima, walaupun begitu, dia juga membalas pelukan suaminya, yang begitu hangat dan nyaman.


"Masa nyalahin Amira atau Alex?" Reno mengurai pelukannya, agar bisa menatap wajah cantik istrinya.


"Jangan bikin kesal Mas."

__ADS_1


"Hemm."


"Jangan bahas masa lalu lagi."


"Baik."


"Mas."


"Iya Sayang."


"Ih, Mas nyebelin." Viona merajuk, lalu melepas diri dari dekapan sang suami, Menghempaskan tubuhnya pada ranjnag empuknya.


"Ya, ngambek lagi." Menepuk keningnya pelan, Reno lalu menyusul istrinya ke ranjang.


"Memang Mas sudah pengen punya anak?" Tanya Viona.


"Tentu saja, aku pengen segera punya anak dari kamu, Sayang." Mengelus lembut kepala istrinya. Viona terdiam, memeluk pinggang suaminya yang sedang bersandar pada kepala ranjang.


"Kalo kamu belum siap, aku nggak akan maksa." Ucap Reno akhirnya, pria itu berpikir, mungkin Viona masih berat dengan karirnya.


"Aku siap Mas. Kenapa harus menunda."


"Benarkah?"


"Hemm."


"Kamu tidak terpaksa kan?"


"Tidak."


"Kalo begitu, bisa kan kita mulai kerja sama mulai saat ini." Kata Reno mesum.


"Hah."


"Kita harus lebih bekerja keras lagi, Sayang." bisik Reno.


Membuat wajah Viona memerah seketika. Memukul lengan Reno kesal. Tidak pernah berpikir, kenapa suaminya sekarang begitu mesum."Mesum."


"Kerja sama kali ini, pasti sangat menyenangkan Sayang." tambah Reno.


"Mas!"


*bersambung...


🌸


🌸*

__ADS_1


__ADS_2