Bukan Suami Impian

Bukan Suami Impian
Mengalah saja


__ADS_3

🌸


🌸


"Mas ... " Reno yang tengah memejamkan mata, tersentak saat mendengar panggilan dari Tono. Pria itu membuka kedua matanya, lalu menatap pria sawo matang yang juga sedang menatapnya.


"Ada apa?" Tanya Reno dingin.


"Sudah jam satu, Mas Reno nggak makan siang?" Tanya Tono dengan sabar.


"Hah!" Reno melongo, sudah jam satu, berarti dia sudah cukup lama tertidur dengan posisi duduk di kursi kerjanya.


"Malas Ton." Guman Reno, dia menghela napas dengan tanpa semangat sama sekali.


"Nanti sakit lho, kasihan Mbak Vio." Ucap Tono lagi.


"Huh, dia sedang marah sama aku, Ton." Keluh Reno, menyandarkan punggungnya ke belakang.


"Aduh, ada apa lagi memangnya, Mas?" Tanya Tono sedikit penasaran.


"Kamu sudah makan Ton?" Reno malah bertanya.


"Sudah, Mas."


"Duduk dulu, Ton." Titah Reno kemudian, tak ada salahnya meminta pendapat dari seniornya itu, bukannya Tono sudah banyak makan asam garam, pahit manis kehidupan ini.


Tono duduk dengan patuh, memandang sang Bos dengan hati bertanya-tanya.


"Ada apa lagi sih, Mas?"


"Istriku marah lagi, Ton."

__ADS_1


"Memang ada masalah apa lagi sih, Mas?"


"Istriku sedang hamil, Ton."


"Alhamdulillah, selamat ya Mas." Ucap Tono dengan tulus, tersenyum sumringah, mendengar kalo sang Bos sebentar lagi akan di karuniai momongan.


"Makasih, Ton." Reno tersenyum kecil."Wanita kalo sedang hamil, apa memang sensitif Ton?"


"Iya Mas, wanita kalo lagi hamil, sangat sensitif. Bahkan dalam beberapa menit, mood nya juga bisa berubah-ubah. Sebaiknya banyak ngalah dan sabar saja Mas. Demi kesejahteraan bersama." Kata Tono bijak.


"Iya sih, hanya karena masalah sepele, istriku marah Ton, bahkan sampai saat ini dia masih marah sama aku." Reno menghembus kan napas.


"Mengalah saja Mas, minta maaf walaupun kita tidak berbuat salah. Pada dasarnya, wanita itu hanya ingin di perhatikan. Di mata mereka, salah ataupun benar, mereka pasti akan selalu menganggap dirinya benar." Ucap Tono lagi.


"Aku sudah minta maaf berkali-kali, Ton. Tapi, dia masih saja ngambek." Reno mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sabar saja mas, nanti pasti akan baikan sendiri, hanya saja Mas jangan ikut-ikutan ngambek, bisa tambah runyam nanti semuanya."


"Iya Ton, aku mana bisa marah sama dia? Aku sangat mencintainya Ton."


"Semoga Mbak Vio cepet luluh ya, Mas " Doa Tono dengan tulus.


"Aamiin, iya Ton. Bisa gila aku lama-lama, di diamkan seperti ini."


Tono beranjak berdiri, sudah terlalu lama dia bersantai siang ini, biarpun atas permintaan sang Bos sendiri, tetapi Tono juga merasa tidak enak dengan kedua temannya yang lain.


"Aku permisi dulu, Mas. Kasihan anak-anak aku tinggal ngobrol." Pamit Tono.


"Makasih, Ton." Kata Reno seraya tersenyum.


"Sama-sama, Mas. Permisi." Tono bergegas pergi, meninggalkan Reno yang sudah sedikit baikan kondisi hatinya.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Amira mengulas senyum tipis, sudut bibirnya membentuk lengkungan samar. Melangkah masuk ke rumah dengan hati yang berbunga. Keberuntungan menghampiri dirinya pagi ini.


Ketika tanpa sengaja dia melihat Viona, wanita yang sangat dia benci, sedang duduk berduaan dengan laki-laki. Amira dengan sengaja memotret Viona dan laki-laki itu, kemudian mengirim foto itu kepada Reno.


Saat ini Amira sedang menunggu berita baik, yang akan terjadi beberapa hari ke depan. Semoga saja mereka bertengkar, dan akhirnya bercerai. Aku sudah tidak sabar ingin menikah dengan Mas Reno. Begitu kata hati Amira.


Dahinya berkerut saat melihat suasana rumah yang amat sepi. Tak terdengar celoteh sang putri, yang sudah pasti akan berteriak senang bila melihat sang ibu pulang.


"Kok sepi Bu?" Tanya Amira.


"Tita sedang di ajak papanya jalan-jalan."Jawab Ibu Amira, yang sedang menonton TV diruang tengah.


"Kok ibu izinkan sih?" Tanya Amira dengan gusar, dia Menghempaskan bokong di sofa, sebelah sang ibu duduk.


"Biarkan saja, walau bagaimanapun dia ayah dari anakmu, Mir. Jangan egois, Tita terlihat sangat bahagia bisa bertemu dengan papanya." Kata ibu Amira lagi.


"Tetap saja bu, aku nggak suka."


"Lagi pula, kenapa sih kalian nggak rujuk saja, aku lihat Hendra masih mencintai kamu."


"Nggak akan Bu, lebih baik aku jadi janda seumur hidup, dari pada harus balikan dengan dia."


"Jangan bicara sembarangan, nanti kalo jadi kenyataan, kamu beneran mau jadi janda sampai tua!" Sergah sang Ibu kesal. Rasa kecewa masih saja menggelayut di hati wanita paruh baya itu.


Mengapa Amira malah bertindak bodoh, bercerai dengan suaminya, laki-laki yang sudah dia pilihkan untuk jadi pendamping hidup. Hendra sangat royal sekali kepada mertuanya.


"Biar saja Bu, aku nggak akan rujuk lagi sama dia, kayak nggak ada laki-laki lagi di dunia ini." Amira beranjak, lalu pergi meninggalkan sang ibu yang hanya bisa mengelus dada, melihat tingkah laku sang anak.


***bersambung...

__ADS_1


🌸


🌸***


__ADS_2