
🌸
🌸
"Hah, terus ngapain aja kamu selama ini Mas, sama Amira? masa iya jalan bareng diam-diam begitu?" tanya Viona tak percaya, sungguh geli membayangkan gaya berpacaran Reno yang sangat kuno, tapi, bukannya dia juga seperti itu, selama berpacaran dengan mantan-mantannya, Viona tidak pernah membiarkan mereka menyentuh dirinya di luar batas.
Paling juga cium pipi, dan pegang tangan, selebihnya, Viona sangat membatasinya, karena alasan itu juga Alex memutuskan dia, dan berpaling dengan wanita lain.
"Ya ngobrol aja Sayang, memang kamu kalo pacaran seperti apa?" Reno balik bertanya.
"Aku? ya jalan aja, terus makan, nonton ... " jawab Viona.
"Ciuman juga?" tanya Reno hati-hati, dia takut menyinggung perasaan Viona.
"Iya lah ... "
"Hah ... " Reno langsung lemas, membayangkan Viona pernah berciuman dengan pria lain, kenapa dadanya terasa sesak.
"Jangan berpikiran buruk, aku tidak seperti yang kamu pikirkan." Viona menatap pria hang duduk di seberangnya sinis.
Reno tersenyum geli, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali itu."memang tau apa yang aku pikirkan?"
"Pasti mikir kalo aku gaya pacarannya ekstrim kan?"
"Ng ... nggak begitu Sa ... "
"Aku memang punya beberapa mantan Mas, tapi aku juga bisa menjaga diri, aku tidak pernah membiarkan mereka menyentuh aku terlalu jauh."
"Alhamdulillah ... " Reno memegang dadanya lega, meneguk air putih untuk membasahi kerongkongan yang kering,
"Kalo ciuman pipi sih pernah, kalo bibir belum, dalam arti kata, bibirku masih perawan," kata Viona, dia beranjak berdiri, karena sarapannya juga sudah selesai.
"Hemm ... " tiba-tiba saja ada rasa kesal di hati Reno, karena Viona yang bilang pernah ciuman pipi itu.
"Kenapa cemberut kayak gitu, Mas?" tanya Viona heran, karena tiba-tiba wajah Reno berubah masam.
"Nggak apa-apa."
"Jangan bilang Mas cemburu ya?" Viona mendekati Reno yang justru bertambah gelisah, Viona memang dasar ya, tidak peka. senang sekali menyiksa batin Reno.
__ADS_1
"Sudah sana, ganti baju dulu Sayang. nanti masuk angin." Reno membuang pandangannya, ke sembarang arah, dari pada memandang tubuh seksi yang menggiurkan itu semakin menambah siksaan batinnya.
"Ok, aku ke kamar dulu deh." Viona bergegas masuk ke dalam kamar, meninggalkan Reno yang tak henti memegang dadanya yang berdegup dengan kencang.
Ya Allah, semoga aku bisa manahan godaan ini, monolog Reno dalam hati.
****
Reno masuk ke dalam kamar satu jam kemudian, dia melihat Viona yang sedang menelungkup di ranjang, dan sibuk dengan ponselnya.
"Sayang ..." Sapa Reno, entah kenapa dia lebih suka memanggil Viona dengan panggilan 'sayang'.
"Ya .. " Viona mendongak, menatap suaminya yang sudah rapi dengan jeans dan kemeja warna biru, terlihat begitu tampan dan memesona. sejenak Viona terpana, baru sadar kalo suaminya begitu tampan.
"Kamu di rumah aja atau ada rencana keluar?" tanya Reno lembut.
"Kayaknya di rumah saja Mas, mungkin besok aku baru ke butik," jawab Viona setelah cukup lama termangu.
"Aku tinggal sebentar, nggak pa-pa kan?"
"Mau ke mana?" tanya Viona heran, karena tadi Reno bilang kalau hari ini di rumah saja mau menemani sang istri.
"Ada barang masuk di bengkel, dan hanya aku yang bisa menanganinya, hanya sebentar, aku janji."
"Sayang ... "
"Apalagi Mas!" kesal Viona. dia kaget waktu Reno mengulurkan tangan kanan di hadapannya."apa?" tanya dia tidak mengerti.
"Salim Sayang, biasakan cium tangan suami saat akan pergi atau saat suami pergi, biar berkah ... " Reno menjelaskan dengan lembut.
"Harus ya?"
"Iya, harus Sayang."
Akhirnya Viona meraih tangan yang sudah lama terulur itu, mencium punggung tangan dengan takzim."Assalamualaikum ... " salam Reno.
"Waalaikumsalam," jawab Viona. "Mas ... " teriaknya saat Reno sudah di tengah pintu.
"Boleh nggak minta tolong, belikan bakso urat nanti pulangnya." Viona turun dari ranjang, berjalan mendekati Suaminya.
__ADS_1
"Boleh dong, apa lagi?"
"Itu saja Mas." Viona tersenyum manis.
"Ok, duduk manis di rumah ya, pesanan akan segera datang." kata Reno. dia sudah keluar dari rumah, dan Viona mengikuti dari belakang."atau kamu mau ikut ke bengkel?" tanya Reno di atas jok motornya.
"Ngapain Mas aku di sana, mending aku rebahan di kamar."
Reno tergelak, tak lama kemudian dia sudah melesat dengan motor matic besarnya. Viona duduk di kursi yang ada di teras, menghirup udara yang masih cukup segar, karena hari juga belum terlalu siang.
Viona memperhatikan lalu lalang di jalan depan rumahnya, ada dua ibu-ibu yang berjalan beriringan, menoleh ke arah Viona, dan bergegas masuk ke halaman rumah Reno yang cukup luas itu.
"Assalamualaikum, mbak," Kedua ibu-ibu yang kira-kira seusia Mama Mela itu mengucap salam berbarengan.
"Waalaikumsalam, Bu." Viona membalas salam keduanya dengan sopan dan tersenyum. wanita cantik yang memakai dress sederhana tanpa lengan itu berdiri.
"Kalau boleh tahu, mbak siapanya mas Reno ya?" tanya ibu yang memakai kerudung warna biru tua." nama saya Ida ya mbak, rumah saja hanya berjarak beberapa rumah saja." jelas wanita yang mengaku bernama Ida itu tanpa ditanya.
"Ah, iya. nama saya Viona Bu, saya istri Mas Reno," kata Viona lagi." mari , Bu, silahkan duduk dulu."
" Terima kasih mbak Vio, saya Rahma, saya Bu RT sini Mbak." kata wanita berkerudung maron yang mengaku bernama Rahma itu ramah.
"Oh, iya Bu. maaf, belum sempat melapor, karena saya juga baru tinggal kemarin, insyallah nanti sore Mas Reno pasti ke rumah Bu RT."
"Iya mbak, nggak apa-apa."
"Cantik banget ya Bu istri Mas Reno, pintar sekali dia mencari istri." kata Bu Ida, dilihat dari wajahnya, Viona bisa menilai, bu Ida adalah tipe tetangga yang cukup rempong. berbeda dengan Bu Rahma yang justru terlihat tenang dan sabar."
"Iya, Mas Reno ganteng kok, jadi istrinya sudah pasti cantik." Sahut Ibu Rahma.
"Ibu-ibu bisa aja sih, saya jadi malu lho." Viona tersenyum canggung, kedua wanita itu malah terus memujinya, entah tulus atau tidak, tapi semoga saja mereka berdua tulus.
"Beneran Mbak, kami nggak bohong kok, bahkan lebih cantik dari Amira."
"Amira!"
*bersambung ..
jangan lupa, klik like, love dan komen...
__ADS_1
🌸
🌸*