
🌸
🌸
"Mas, Reno!" Baru saja Reno akan membuka pintu mobil, sudah di kagetkan dengan teriakan wanita yang sangat dikenalnya. Reno mendesah kesal.
"Ada apa?" Tanya Reno datar, seraya memegang daun pintu yang tadi sudah sempat dia buka.
"Mas mau pulang?" Amira malah balik bertanya, membuat Reno berdecak sebal, dalam hati berkata, bagaimana aku dulu bisa tergila-gila dengan wanita yang ternyata begitu cerewet ini.
"Iya, maaf. Aku buru-buru." Reno bersiap masuk ke dalam mobil, tapi di tahan oleh Amira.
"Sebentar, Mas. Ada yang mau aku bicarakan," Kata wanita yang memakai dress warna biru muda itu.
"Tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, Mir. Diantara kita sudah lama berakhir, aku tidak mau membuat istri ku bersedih."
"Dia tidak akan tahu, Mas."
"Oh ya, aku tahu persis, bagaimana sifat kamu, Mir." Kata Reno sinis.
"Mas, aku rela jadi yang kedua, asal bisa bersama kamu lagi," Kata Amira dengan tak tahu malunya.
Membuat Reno semakin sebal, karena waktunya sudah terbuang sia-sia, hanya karena Amira."Jangan ngaco kamu."
"Mas, aku sungguh-sungguh." Amira megang pintu yang nyaris ditutup oleh Reno.
"Maaf, aku tidak tertarik, satu istri saja sudah cukup."
"Aku tahu, kamu masih memintai aku, kan Mas." Kata Amira lagi.
Brak ....
Reno membanting pintu mobil dengan kencang, tak lagi menghiraukan ocehan Amira, dia sudah cukup kesal dengan wanita di masa lalunya itu.
Tidak akan bertindak bodoh, jatuh ke pelukan Amira yang sungguh licik, hatinya sudah sepenuhnya dimiliki oleh Viona, istrinya yang cantik dan sempurna.
Mobil mewah itu segera melesat meninggalkan Amira yang terus saja berteriak, memanggil nama Reno.
🌸🌸🌸
Dua puluh menit kemudian, mobil itu sampai juga di depan butik milik sang istri, dan senyumnya mengembang begitu melihat sosok cantik dalam balutan dress motif floral, menunggunya di depan butik.
__ADS_1
"Maaf, aku telat Ya?" Kata Reno, begitu dia sudah turun, dan mendekati sang istri.
"Belum, Mas. Aku saja yang sudah tidak sabar ingin segera melihat dia." Viona mengelus perutnya lembut.
"Sama, Sayang. Aku juga sudah tidak sabar, kita pulang dulu atau langsung ke dokter?" Tanya Reno.
"Pulang dulu saja, Mas. pengen mandi dulu, rasanya gerah banget."
"Ya sudah, kita pulang ya?"
Dengan sabar Reno menggandeng tangan Viona, mengajaknya masuk kedalam mobil. Setelah itu, Reno segera memacu mobilnya dengan kecepatan yang sedang, menuju ke rumah.
"Gimana hari ini?"
"Baik, Mas."
"Dia tidak rewel, Kan?" Tanya Reno lagi.
"Hemm, tidak. Hanya saja, tiba-tiba dia ingin makan sop iga mas." Viona tersenyum.
"Wah, sudah beli tadi?"
"Alhamdulillah, sekarang anak papa mau makan apa lagi?" Reno mengelus perut Viona, dengan tangan kirinya yang bebas.
"Belum ad yang di inginkan Mas, memang ini semua bisa di planning apa?" Viona mencebik.
"Eh, nggak kah?"
"Dasar, nyebelin."
Reno terkekeh. Tanpa sengaja tangannya mengacak rambut sang istri gemas.
🌸🌸🌸
Sampai di rumah, Reno dan Viona mandi bergantian, setelah selesai, keduanya segera meluncur ke tempat dokter kandungan, yang di rekomendasikan oleh salah satu teman Viona.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai di sana, dan sudah ada beberapa pasangan yang mengantri. Ada yang sudah hamil besar, ada juga yang masih belum terlihat seperti Viona.
Viona dan Reno segera mendaftar, untuk mendapatkan nomor antrian, dan kebetulan Viona mendapatkan nomor antrian empat, dan mungkin tidak terlalu lama untuk menunggunya.
"Kita duduk di sana, Sayang." Dengan penuh cinta, Reno memeluk pinggang ramping sang istri, hingga menimbulkan bisik-bisik pada pasangan yang lainnya.
__ADS_1
"Mas, mereka melihat kita," Bisik Viona, saat keduanya baru saja Menghempaskan bokong pada kursi tunggu, yang berderet di depan ruang praktek dokter.
"Biar saja, istri aku sendiri kok." Jawab Reno cuek.
"Huh, memang mau meluk istri orang lain?" Mata bulat Viona melotot, membuat Reno seketika menelan salivanya.
"Ya nggak lah Sayang. Buat apa coba, istriku saja sudah sangat cantik, baik, sempurna, kesannya kok aku nggak bersyukur sama sekali ya, kalo harus memikirkan wanita lain," Reno menggaruk dagunya, seraya menatap sang istri mesra.
"Kamu semakin pintar menggombal, Mas. Membuat aku curiga saja." Viona mencebik.
"Hanya bisa menggombal sama kamu, Sayang." Jemari Reno tanpa malu menyibakkan anak rambut yang nakal, dan mengganggu mata Viona, menyelipkan di belakang telinganya.
"Hiss, bicara sama kamu, nggak akan bisa menang Mas." Viona cemberut.
Reno tergelak, hingga tanpa terasa nama Viona akhirnya di panggil juga. Tanpa banyak bicara keduanya segera masuk ke dalam ruang praktek sang dokter.
"Selamat sore Ibu, Bapak." Sapa dokter cantik yang mungkin berusia beberapa tahun lebih tua dari Reno.
"Sore dokter ... "Viona menjawab dengan penuh semangat.
"Mari silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu?" Tanya dokter yang bernama Rena itu ramah.
"Begini dok, kemarin saya sudah melakukan tes kehamilan, dan Alhamdulillah dari empat tespek yang saya pakai, semua muncul dua garis." Kata Viona.
"Baik ibu, sekarang kita periksa ya, silahkan berbaring di sana ya, suster tolong di bantu."Dokter Rena memberi titah kepada perawat yang memang ada di ruangan itu.
Viona berbaring di ranjang, dan bersebelahan dengan sebuah layar monitor yang sudah menyala.
"Permisi ya bu," Perawat itu menaikkan ujung dress Viona hingga sebatas dada, setelah sebelumnya menutupi tubuh bawah Viona dengan selimut.
Perawat muda itu mengoleskan gel yang terasa dingin saat menyentuh permukaan kulitnya." Sudah siap, Dok." Kata perawat itu.
Dokter Rena tersenyum dan mulai menempel kan sebuah alat yang sudah terhubung dengan layar monitor."Nah, Ibu, Bapak, itu yang berupa bulatan kecil, calon baby-nya ya, masih kecil ya, sebesar biji kacang polong, detak jantung juga bagus."Dokter Rena terus memutar alat itu pada perut Viona.
Penuh Rasa takjub, pasangan muda itu berkaca-kaca seraya terus menatap layar monitor, meskipun tidak begitu paham, yang jelas saat sang dokter mengatakan ada calon buah hati di dalam Rahim sang istri.
Bersambung ...
🌸
🌸
__ADS_1