
🌸
🌸
"Ton, kamu urus bengel ya, aku harus pergi." Reno bergegas masuk ke dalam ruangannya, mengambil dompet dan juga jaket yang tadi pagi dia pakai. tak dia hiraukan Amira yang menatapnya heran.
"Mas, mau kemana?"
"Pulanglah Mir, dan jangan pernah temui aku lagi. aku nggak mau istriku berpikiran aneh-aneh." Reno bergegas keluar.
"Ton, aku pinjam motor kamu ya. Nanti kamu pulang naik taksi saja." Reno mengeluarkan dompet dan menarik satu lembar uang merah, menyerahkan kepada Tono yang masih bengong.
"Eh, iya Bos, Siap." Tono mengambil kunci motor di kantong celana, lalu mengulurkan pada Reno.
"Makasih Ton." Teriak Reno seraya berlari keluar, hatinya terasa kacau bukan main, bahkan lebih kacau dari pada saat balon hijau meletus.
Baru saja hubungan mereka membaik, dan Viona tak lagi membentang jarak kepada dirinya, sekarang dia harus merasakan salah paham lagi. Bukan salah Viona juga, dia yang terlalu lemah dan bodoh dalam bersikap, harusnya bisa tegas kepada Amira.
Walaupun tidak ada yang terjadi di antara mereka tadi, tetap saja dia salah.
Reno ingin berteriak sekeras-kerasnya, jika saja urat malunya sudah putus. Segera di pacunya motor matic milik Tono, menuju butik Viona.
Reno harus kecewa saat tak menemukan sang istri di butik."Mbak Vio belum balik Mas, sejak keluar untuk makan siang dengan Mas tadi, memang ada apa?" tanya Rani penasaran.
"Vio tadi tidak ketemu aku, Ran kebetulan aku lagi keluar bengkel." mau tak mau Reno harus berbohong, tak mungkin juga dia berterus terang bahwa terjadi kesalahpahaman antara mereka.
Akhirnya Reno keluar dari butik dengan kecewa, pria muda itu segera memacu lagi motor matic milik Tono yang sudah dia sabotase tadi menuju ke rumah, siapa tahu Viona sudah pulang.
Lagi-lagi dia harus menelan pil kekecewaan saat mendapati rumahnya masih lengang dan sepi. Reno mengehempaskan bokongnya di kursi teras, meremas rambutnya dengan gusar.
Harus kemana lagi mencari sang istri.
***
Sementara itu di sebuah rumah berlantai dua, tepatnya di kediaman orang tua Viona, wanita muda yang di cari oleh sang suami, ternyata malah tengah mengobrol dengan sang Mama.
Setelah pulang dari bengkel Reno dengan rasa kecewa dan sakit hati tadi, dia memang mengarahkan mobil ke arah rumah Mama Mela.
"Ada apa? tumben siang ke sini?" tanya Mela, begitu dia menemani sang putri yang baru satu bulan menjalani biduk rumah tangga itu makan.
Karena hati yang sedang diliputi rasa kesal dan juga perut yang memang lapar, Viona menyantap makan siang yang di sediakan oleh sang Mama. sayur asam dan ikan goreng, ditambah sambal terasi favoritnya.
__ADS_1
"Nggak ada." Viona tetap melahap makanannya.
"Jangan bohong, kamu tidak bisa membohongi Mama." Mela terus memandang putri satu-satunya itu.
"Aku lagi kesal sama Reno, Ma." Akhirnya Viona membuka mulut. kebetulan makannya juga sudah selesai. Dia meneguk air putih yang sudah di tuang oleh sang Mama.
"Kenapa? apa yang dia lakukan kepada kamu?" tanya Mela, dengan dahi berkerenyit. Agak heran dia dengan pernyataan Viona, karena selama ini yang dia tahu, Reno sosok pria yang baik, sabar dan juga bertanggung jawab.
"Berani-beraninya dia masih berhubungan dengan mantan pacarnya di masa lalu, bahkan tadi aku memergoki mereka berduaan di bengkel." Mata Viona tampak berapi-api. Ada kilatan amarah yang terlihat.
"Apa yang mereka lalukan?" kejar sang Mama.
"Nggak tahu, Ma. Aku segera pergi dari sana tadi."
"Seharusnya kamu jangan pergi tadi, itu sama saja kamu memberikan kesempatan untuk wanita lain masuk ke dalam rumah tangga kalian. Mungkin wanita itu merasa menang dan puas, melihat kamu meradang dan cemburu." Nasehat Mama Mela.
Viona terdiam, dia menunduk seraya mengetukkan jarinya ke meja.
"Apa kamu sudah menjadi istri yang baik?"
"Hah." Viona mendongak, menatap sang Mama tak berdaya, memang dia belum menjadi istri yang baik, dan dia baru saja belajar untuk bisa pantas bersanding dengan Reno.
"Viona sedang belajar, Ma."
Viona terdiam, ucapan sang Mama begitu menohok hatinya, dan dia merasa bersalah.
"Berusahalah untuk menjadi istri yang baik, walau karir kamu lebih bagus dari Reno, tetap saja kamu istrinya, kewajiban kamu adalah mengabdikan diri kepada suamimu. Jangan mempertahankan ego kamu, itu hanya akan membuat hubungan semakin jauh." Tambah Mela lagi.
"Vio juga lagi belajar jadi istri yang baik, Ma." lirih Viona.
"Kalau begitu tunjukkan kepada wanita itu, jika kamu lebih baik dari dirinya, bahwa kamu memang pantas untuk di perjuangkan."
"Iya, Ma."
"Atau jangan-jangan ... kalian belum." Mata Mela memicing, dan itu membuat wajah Viona memerah karena malu, tentu saja dia mengerti arah pembicaraan sang Mama.
Viona menggelengkan kepala pelan, dan sontak membuat Mela kaget, dan seketika mengehempaskan punggung ke sandaran kursi.
"Vio ... apa yang kamu inginkan? kalian sudah menikah satu bulan, dan selama itu kamu membiarkan Reno memendam hasratnya sendiri, kejam sekali kamu, nak?" Mela menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan kelakuan sang putri.
"Aku hanya ingin melakukan itu, di saat hatiku sudah mantap, Ma. Tidak mudah menjalin rumah tangga dengan pasangan yang benar-benar tidak aku kenal sebelumnya, aku belum tahu siapa Reno sebenarnya." Viona membela diri.
__ADS_1
"Apa Reno jahat?".
Viona menggeleng.
"Kejam?"
"Tidak, Ma."
"Tidak bertanggung jawab?"
Kembali Viona menggeleng, sebagai sosok suami, Reno mendekati kata sempurna, dan tipe suami idaman. tapi, tetap saja bagi Viona dia bukan suami impiannya.
"Lalu?"
"Vio hanya belum siap saja, Ma."
"Tetap saja, itu dosa Sayang. cinta tidak cinta, kewajiban kamu adalah melayani suami. Apalagi Reno bukan suami yang dzalim, apa lagi yang kamu tunggu?"
"Vio sudah sadar Ma, makanya ingin belajar menjadi istri yang baik."
"Itu harus, kasihan Reno. selama itu memendam keinginan ingin bermesraan dengan istrinya sendiri, bisa saja dia memaksa menggauli kamu, tapi tidak dilakukan bukan?"
"Iya, Ma."
"Kamu harus berubah, belajar menjadi istri yang baik, layani semua kebutuhan dia, dan jangan beri celah untuk wanita lain masuk ke dalam rumah tangga kalian."
"Iya, Ma. Vio akan menyerahkan diri seutuhnya kepada Reno, setelah ini."
"Menunggu apa lagi?" geram Mela, andai saja sang putri masih kecil, tentu saja akan dia jewer telinganya jika nakal, tapi ini lain lagi ceritanya. Wanita itu menggelengkan kepala, tak mengerti.
"Dua hari lagi, Ma."
"Kenapa lagi, masih belum yakin dengan Reno?"
"Vio lagi dapat, Ma."
"Hah."
*Bersambung.
klik like love, dan komen.
__ADS_1
🌸
🌸*