
🌸
🌸
Reno menyuapi Viona makan dengan sabar dan telaten, wanita muda itu sebenarnya Viona tidak mau makan, karena merasa perutnya semakin melilit, tapi dengan sabar Reno membujuknya, akhirnya dengan susah payah dan penuh drama, sepiring nasi goreng tandas dan berpindah ke dalam perut Viona.
Viona semakin terharu dengan kasih sayang dan perhatian yang diberikan oleh suami yang tak pernah dianggap olehnya.
Bahkan tadi Reno juga bersikeras untuk menggendongnya ke dalam kamar mandi untuk memakai pembalut, bukankah dia akan di katakan sebagai wanita keras kepala dan tahu malu, bila terus membangun benteng diantara dia dan Reno.
Mungkin sudah saatnya dia menerima semua taqdir yang datang, berusaha menerima Reno menjadi suami sepenuhnya, dan memantaskan diri sebagai pendamping pria muda dan tampan itu.
Apalagi Amira masih saja terus berusaha mendekati Reno dengan berbagai macam cara dan alasan. jangan sampai karena dia terus menghindar dari Reno, membuat pria itu lelah dan berpaling kepada wanita lain.
"Sekarang istirahat ya?" kata Reno lembut, membantu istrinya merebahkan tubuh, setelah meminum obat anti nyeri.
"Baru saja habis makan, Mas." Viona mengeluh, tapi dia juga menuruti titah sang suami, merebahkan tubuh dengan nyaman di ranjang besar yang selama ini dia kuasai, bahkan sang empu harus rela mengalah tidur di sofa yang sudah pasti tidak nyaman untuk di tiduri.
"Nggak apa-apa, kamu sedang sakit kan,? memang mau apa lagi?" tanya Reno lembut, dia duduk di sebelah sang istri yang berbaring terlentang.
"Belum ngantuk ... "
"Ya sudah, aku temani ya, tadi aku sudah telpon Rani, kalau kamu sedang tidak enak badan."
"Makasih, Mas."
"Hemm."
"Kamu nggak kerja kan?" tanya Viona lagi, dia menatap suaminya yang duduk menyandar pada kepala ranjang, dan kaki berselonjor diatas ranjang.
"Tentu saja, mana mungkin aku bisa kerja kalo istriku sedang sakit, aku bukan suami yang dzalim ya."
"Maaf ya Mas, aku banyak ngrepotin kamu." Viona tersenyum tulus.
"Sudah kewajiban aku, disaat kamu sakit aku yang wajib merawat kamu, nanti kalo aku sakit, kan kamu juga yang akan repot, memang seperti ini Sayang, kehidupan rumah tangga, harus saling bahu membahu dalam segala hal."
__ADS_1
Viona meraih tangan kanan Reno, lalu membawanya ke bibir pucat nya, mengecupnya lembut dan dalam, bahkan kedua matanya terpejam."maafkan aku, Mas ... " Viona merebahkan kepada di paha suminya, dan memeluk pinggang pria itu dengan erat, membuat Reno membeku.
Jantungnya bertalu-talu dan hati yang membuncah karena bahagia, akhirnya Viona menurunkan bendera perang mereka, dengan kesabaran dan rasa cintanya yang begitu besar kepada wanita itu akhirnya mampu meluluhkan hati yang membeku.
"Sayang, kenapa minta maaf," kata Reno, tangannya membelai rambut panjang Viona yang berantakan karena tidak sempat menyisirnya tadi.
"Aku istri yang durhaka, Mas." isak tangis Viona semakin menyayat hati, dan membuat Reno panik, dipalingkan nya wajah yang bersembunyi di perut liatnya.
"Ssstt, jangan bicara seperti itu, kamu istri yang terbaik bagiku." kata Reno, mengusap air mata yang membasahi pipi mulus Viona, wanita yang sekarang duduk di depan Reno menatap wajah suaminya sendu.
"Aku belum bisa jadi istri yang baik."
"Kita punya banyak waktu untuk belajar saling memahami satu sama lain."
"Aku tidak bisa memasak."
"Sudah aku katakan dari awal, aku yang akan memasak untuk kita."
"Tapi itu kan tugas istri, Mas." dengan pasrah Viona memeluk tubuh kekar sang suami yang hampir satu bulan ini dia tolak, Viona memejamkan kedua matanya, ternyata senyaman ini berada di pelukan suaminya.
Sementara Reno tersenyum bahagia, dia balas memeluk tubuh ramping istrinya tak kalah erat.
Lebih bahagia dari mendapatkan undian Hadiah utama, lebih bahagia dari mendapatkan warisan bernilai tinggi.
"Siapa bilang, sebenarnya itu tugas suami, tugas istri hanya membantu, karena itu aku tidak memaksa untuk kamu harus bisa memasak."
"Mas ... "
"Maaf, aku belum mandi." Viona menyembunyikan wajahnya pada dada nyaman Reno, membuat pria itu mencium pucuk kepalanya dengan gemas
"Kamu masih tetap wangi, biarpun nggak mandi satu bulan." gombal Reno.
Viona menjauhkan wajahnya, agar bisa menatap suami tampannya tanpa ada penghalang.
"Gombal."
__ADS_1
"Benar, Sayang."
"Masih tetap mencintai aku?" tanya Viona, manik matanya menabrak mata elang milik Reno, membuat pria itu tersenyum.
Mendekatkan wajahnya pelan-, pelan, dan tanpa diduga mengecup bibir pucat milik Viona sekilas, tapi mampu membuat keduanya seperti terkena sengatan listrik bertegangan tinggi.
"Rasa cintaku semakin besar kepada dirimu, Sayang. jangan pernah tanyakan lagi, apalagi sampai meragukannya." Reno memegang bibir yang baru saja dia kecup dengan gemetar, seumur hidup baru kali ini dia mencium wanita, dan Alhamdulillah itu dia lakukan pada pasangan halalnya.
"Makasih, Mas. aku akan berusaha menjadi istri yang baik buat kamu, aku akan belajar masak juga, biar kamu semakin sayang dan cinta sama aku."
"Jangan memaksakan diri."
"Tidak apa, memasak bukan pekerjaan yang berat kan?"
Reno tertawa kecil, binar bahagia yang terpancar dari wajah Viona membuat hatinya menghangat. kesabarannya selama ini sebentar lagi akan berbuah manis. melihat senyum tulus dari wanita cantik itu membuat cinta dalam hatinya semakin berkobar dan membuncah.
"Kalo kita melakukan dengan ikhlas dan tulus, aku rasa akan lebih menyenangkan." Reno merebahkan tubuh sang istri ke ranjang, lalu dia ikut berbaring di samping Viona, keduanya berbaring miring dan saling berhadapan.
"Ajari aku ya?"
"Tentu saja, apapun akan aku lakukan buat tuan putri cantik ini."
Plak ...
Viona memukul lengan Reno dengan gemas, pria dingin dan datar itu ternyata juga jago menggombal."dasar Gombal." bibir Viona mengerucut, membuat Reno gemas, dan kembali mengecupnya. kali ini Viona tidak hanya diam, dia menyambut ciuman Reno dengan senang hati, bibirnya terbuka dan membiarkan lidah suaminya masuk ke dalam dan menjelajah seisi rongga mulutnya.
Keduanya saling membelit lidah, saling mengecap, dan bertukar saliva. biarpun mereka masih amatir, dan melakukan berdasarkan insting saja, tak membuat ciuman mereka menjadi hambar, justru semakin panas dan menuntut.
Untung saja Viona saat itu sedang mendapat tamu bulanan, kalo saja tidak, mungkin dia akan habis di terjang oleh pria yang sudah cukup lama berpuasa itu.
Setelah keduanya hampir kehabisan napas, Reno baru melepaskan tautan bibirnya, dia bagai musafir yang sudah lama tidak bertemu dengan sumber air, dan ketika sudah menemukan membuatnya ingin meminumnya seolah akan menghabiskan saat itu juga.
Reno menempelkan keningnya pada kening Viona, lalu tertawa bahagia, membuat Viona larut dalam kebahagiaan sang suami.
*Bersambung ..
__ADS_1
🌸
🌸*