Bukan Suami Impian

Bukan Suami Impian
Jangan marah lagi.


__ADS_3

🌸


🌸


"Apa!" Mata Reno melotot, mendengar permintaan Viona yang tidak masuk di akal. Bagaimana bisa, wanita itu meminta berpisah, hanya karena masalah yang bisa dikatakan sepele, hanya karena salah paham saja.


"Tidak usah memaksakan diri, untuk menerima aku Mas. Aku memang seperti ini, manja, pemalas, dan masih banyak lagi keburukan aku." Bahu Viona masih saja terguncang, dia juga masih betah memunggungi suaminya.


"Jangan bicara seperti itu Sayang, sejak awal kamu sudah tahu kan, kalo aku sudah tertarik kepada mu," Kata Reno, dia bangkit dan duduk di bibir ranjang. Menatap punggung istrinya.


"Aku merasa menjadi istri yang durhaka sama kamu, sebelum terlalu jauh, tidak apa-apa kalo mau mundur." Viona bangun, lalu menyandarkan punggung di kepala ranjang.


"Mas bisa cari lagi istri yang lain, yang bisa membuat Mas bangga." Air mata Viona turun tanpa terasa.


Reno mendekat, dan seketika memeluk tubuh ramping yang bergetar itu, memeluknya dengan erat, seakan takut terpisahkan.


"Jangan bicara seperti itu Sayang, bagiku, kamu yang terbaik. Aku mencintaimu apa adanya," Kata Reno, seraya mengecup pucuk kepala istrinya lembut.


"Maafkan aku Mas, jangan abaikan aku lagi, bika tidak suka, kamu boleh marah atau memaki aku, tapi tolong jangan seperti itu lagi sama aku." Viona semakin terisak, membalas pelukan hangat suaminya.


Sejatinya, dia juga sudah mulai merasakan benih-benih cinta di hatinya untuk Reno. Sifat reno yang begitu sabar, baik, penyayang dan dewasa, dalam hitungan hari sudah mampu membuatnya jatuh cinta.


"Iya Sayang, aku juga minta maaf ya, sudah membuat kamu sedih, aku hanya tidak bisa menahan rasa cemburuku, itu saja. Aku marah, saat melihat kamu dalam pelukan pria lain, yang bukan mahram kamu." Reno menjauhkan tubuhnya, agar bisa memandang wajah sembab yang anehnya semakin menawan itu.


"Antara aku dan Alex, sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, dia hanya masa lalu. Sama seperti kamu dan Amira. Waktu itu, dia ingin aku memeluknya untuk yang terakhir kalinya, sebelum dia benar-benar move on dati aku Mas, hanya itu saja."


Reno menghela napas." Iya Sayang, aku tahu. Tapi alangkah baiknya, tidak perlu sampai pelukan, itu tidak baik." Nasehat Reno.


Viona tersenyum, dia lupa kalo suaminya tipe pria yang alim."Iya Mas, maaf. Nggak akan diulangi lagi."

__ADS_1


"Memang mau mengulang lagi dengan Alex?" Reno mencubit pucuk hidung Viona gemas.


"Ih, ya nggak lah, mending aku peluk suamiku yang ganteng, tapi cerewet ini," Goda Viona, segera menghambur ke dalam pelukan suaminya.


"Hemm,nakal ya sekarang." Hidung Reno kembang kempis, karena pujian dari istrinya, membawa tubuh Viona berbaring, dengan saling berpelukan. Hatinya merasa lega, karena sudah tidak ada beban lagi.


"Mas." Usik Viona.


"Ya."


"Sebesar apa cintamu kepada aku?" Tanya Viona, seraya memainkan jarinya di dada bidang Reno.


"Tidak bisa di lukiskan Sayang, yang jelas, aku mau hidup bersama kamu selamat, sampai kakek nenek, sampai ajal menjemput kita nantinya."


"Apa yang membuatmu jatuh cinta sama aku?" Viona mendongak.


"Semua yang ada pada dirimu, membuatku terpesona."


"Beneran, Sayang."


"Aku sama Amira, cantik siapa?"


"Cantik istriku dong, tidak ada wanita yang bisa menyamai kecantikannya." Reno begitu lihai mengeluarkan pujian dan rayuan yang membuat wajah Viona memerah.


"Kalo kamu mujinya kayak gitu, aku malah curiga sama kamu, Mas." Mata Viona memicing, menatap sinis pada suaminya yang tersenyum.


"Curiga kenapa?"


"Sepertinya kamu sudah terbiasa mengucapkannya untuk gadis lainnya."

__ADS_1


"Hah, nggak ada Sayang, sudah aku bilang, aku nggak pernah pacaran."


"Amira, siapa dong dia?"


"Mantan, tapi aku nggak pernah pacaran seperti pasangan lainnya." Reno membela diri.


"Huh, mana aku percaya Mas." Viona mencebik. Membuat Reno gemas, sontak mengecup bibir yang mengerucut itu dengan gemas.


"Sudah ah, nggak usah ngomongin masa lalu, ujung-ujungnya kita malah bertengkar, aku nggak mau Sayang." Reno memeluk tubuh istrinya, dan tiba-tiba saja dia sudah mengungkung Viona, dengan senyum devil nya.


"Mau apa Mas," Viona kaget.


"Mau apa ya, enaknya ngapain?" Reno malah menggoda istrinya.


"Kamu nggak capek?" Tanya Viona lembut, sudah pasti dia tahu, apa yang diinginkan suami mesumnya itu.


"Tentu saja tidak untuk urusan yang satu ini, biar kita cepat di beri momongan, dan kamu nggak usah kerja lagi, cukup layani aku dan anak kita." Reno mengecup bibir Viona lembut.


Kemudian ciuman itu berubah jadi ******an yang panas dan menuntut.


"Mas, kamu tadi dari mana saja, kok pulangnya malam banget?" Sempat-sempatnya Viona bertanya, saat Reno melepaskan ciumannya, membuat pria yang sudah di selimuti hasrat itu menggeram.


"Sayang, bisa nggak itu dibahas nanti, ada yang harus kita selesaikan dengan segera saat ini." Bisik Reno, seraya menggigit daun telinga Viona, membuat wanita muda itu menggeliat.


"Aahh ... " Desa*an lolos begitu saja dari bibir Viona, saat tangan nakal Reno sudah bermain di dua aset kembarnya yang kenyal dan sudah di klaim Reno, menjadi favoritnya itu.


Keduanya akhirnya melebur dalam buaian hasrat dan cinta, bertukar peluh mengejar puncak kenikmatan duniawi, berharap benih yang sudah tertanam suatu saat bisa menjelma menjadi calon generasi penerusnya.


*bersambung...

__ADS_1


🌸


🌸*


__ADS_2