
🌸
🌸
Reno sedang asyik berkutat di dapur pada hampir malam hari itu. Saat ini sudah pukul enam malam, setelah menuaikan sholat Maghrib, Reno memutuskan untuk le dapur, membuat makanan untuknya dan sang istri.
Bahkan hingga saat ini belum ada tanda-tanda Viona akan pulang, sudah berulang kali mencoba menghubungi sang istri, tapi tidak ada jawaban. Reno juga sudah menelpon Rani, tapi kata gadis itu Viona sudah keluar dari butik sejak sore.
Tak ingin berburuk sangka, Reno berpikir mungkin Viona sedang ke rumah orang tuanya. Dan Reno tak ada keberanian untuk menyusul ke sana. Bukan tidak mungkin istrinya bertambah kesal kepadanya.
Reno membalik ayam yang tengah dia goreng, malam ini dia membuat menu simpel saja, oseng kangkung dan ayam goreng. Berharap sang istri akan segera pulang, dia sudah sangat merindukan Viona.
Kesalahpahaman yang nggak jelas, membuatnya sulit untuk mendekap sang istri. Jangan kan mendekap, menatapnya saja Reno merasa takut.
Reno menarik napas lega, ketika telinganya mendengar suara mobil yang berhenti di halaman rumah nya. Siapa lagi kalo bukan sang istri.
Reno lebih memilih menyelesaikan masakannya yang tinggal satu gorengan lagi, alih-alih menyambut sang istri. Seraya dalam hati berdoa, semoga hati Viona malam ini bisa melunak, dan tidak marah lagi.
Pria yang baru saja mengangkat ayam goreng yang sudah berwarna kuning keemasan itu tersentak, saat merasakan dua tangan mungil yang tiba-tiba melingkar di perutnya.
Reno membeku, tanpa menoleh dia sudah tahu, siapa wanita yang tengah memeluknya. Sang istri sudah kembali, ah, tanpa terasa sudut matanya berair. Entah kenapa, sejak menikah, Reno berubah menjadi lebih melankolis.
"Assalamualaikum, Mas." Bisik sang istri, di balik punggungnya. Reno bisa merasakan, wajah sang istri yang menempel pada punggungnya.
"Waalaikumsalam, Sayang. Alhamdulillah, kamu sudah pulang." Kata Reno seraya mengelus lengan yang tengah melingkar di perutnya itu.
"Aku merindukanmu, Mas." Viona mengeratkan pelukannya, tubuhnya terguncang karena tangis yang tiba-tiba datang.
__ADS_1
Pria muda itu segera mematikan kompor, lalu meniriskan ayam goreng yang sudah matang. Kemudian membalikkan tubuh, dan menangkup wajah sang istri yang sembab. Mengecup bibirnya sekilas, lalu menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, Mas." Bisik Viona, tangisnya tumpah tanpa terkendali. Sang suami mengelus punggungnya dengan mesra dan lembut. Memang dia sebaik itu, dan dia masih saja sering marah tidak jelas.
"Sstt, aku yang harusnya minta maaf, sudah menyakiti hati kamu. Aku sudah membuatmu kecewa, sesungguhnya aku sangat mencintai kamu Sayang." Kata Reno. Mengurai pelukannya, agar bisa memandang wajah cantik sang istri.
"Aku yang kekanak-kanakan, Mas. Malah marah nggak jelas hanya karena masalah sepele." Ucap Viona.
"Sekarang kita baikan saja ya, aku nggak bisa tidur bila istriku yang cantik ini sedang ngambek." Goda Reno.
Viona tertawa kecil, membuat Reno terpesona. Bahkan dalam keadaan wajah yang begitu sembab pun, tak mengurangi aura kecantikan wanita muda yang tengah hamil itu.
"Bohong, bahkan Mas mendengkur tadi malam." Viona mencebik.
"Eh, masa iya. Itu aku baru bisa memejamkan mata Sayang, pada dini hari. Aku nggak bisa tidur bila tidak memeluk tubuh seksi istriku ini." Reno menarik pinggang sang istri, hingga keduanya saling berdekatan.
"Eh, memang bolehkah? Aku takut kamu tambah marah, bila aku menyentuh mu." Reno tersenyum manis.
"Bahkan sudah ingin memaafkan kamu lho Mas, kalo saja kamu semalam mau memelukku, tapi kamu malah menjauhi aku." Bibir tipis itu cemberut.
Membuat Reno gemas, dan segera mengecupnya tanpa permisi. Viona malah mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya, dan Reno berpikir itu sebuah lampu hijau, dan tak membuang waktu lagi, Reno langsung menggendong tubuh sang istri dari depan.
Menggendong bak bayi koala Membuat Viona tertawa kecil. Memeluk erat leher suaminya, yang sudah membawanya masuk ke dalam kamar mereka.
"Mas, mau apa?" Tanya Viona basa-basi, padahal dia juga sudah tahu, apa mau seng suami.
"Mau kamu."
__ADS_1
"Aku belum mandi Mas."
"Biara saja, kamu masih wangi kok." Kata Reno sambil tersenyum.
"Ta-tapi ... " Viona memekik saat Reno melempar tubuhnya pelan ke atas ranjang. Kemudian pria itu mulai melepaskan satu persatu pakaiannya sendiri, hingga polos. Membuat Viona harus menelan salivanya melihat alat tempur sang suami yang sudah menegang.
"Kamu sudah siap, Sayang." Ucap Reno, dia merangkak ke atas tubuh Viona dan mulai mengungkung tubuh mungil itu.
"Hah .. "
"Apa dia rewel hari ini?" Tanya Reno, tangan nya mengelus perut rata sang istri, yang terbalut gaun yang dia buat kerja tadi.
"Alhamdulillah, nggak Mas."
"Baiklah Sayang, papa mau mengunjungi kamu ya, tolong kerja sama nya Sayang "Bisik Reno konyol, membuat Viona terkekeh sendiri.
Kemudian keduanya memulai perjalanan cinta di atas ranjang mereka, menyebrangi lautan cinta yang begitu panas membara, mendaki kenikmatan duniawi yang membuat candu pada setiap pasangan di dunia ini.
Hingga akhirnya keduanya sampai juga di puncak kenikmatan yang begitu indah. Saling memeluk dan mengucap kata cinta, setelah sesi percintaan itu berakhir.
"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu." Bisik Reno, seraya mengecup dahi sang istri yang berkilat oleh keringat.
"I love you, too. Mas."
*bersambung
🌸
__ADS_1
🌸*