
🌸
🌸
Beberapa minggu berlalu tanpa terasa, hubungan antara Reno dan Viona masih dititik yang sama, walaupun antara keduanya sudah terjalin komunikasi yang cukup dekat, tapi untuk hal pribadi yang menjurus kepada hubungan antara suami istri, masih belum ada perkembangan.
Viona masih menerapkan peraturan yang sama seperti saat mereka awal menikah, tak ada sentuhan fisik, dan Reno mau tak mau harus bisa menerimanya.
Biarpun setiap hari harus tersiksa, melihat pemandangan didepan mata, saat Viona setengah polos mondar-mandir menggoda jiwa kelelakiannya, dan Reno harus menahan perasaan itu kuat-kuat.
Bisa saja dia bersikap seperti pria brengsek yang memaksa kehendaknya, toh, semua yang ada pada diri Viona adalah miliknya seutuhnya.
Tapi dia tidak melakukannya, Reno hanya ingin menyentuh Viona atas ijinnya.
Suatu saat masa itu pasti akan datang. dia akan sabar menanti, walau harus berapa lama.
Pagi sudah disempurnakan oleh sinar mentari yang menerobos pada celah-celah pada rumah Reno, dia sudah sibuk sejak tadi di dapur, sejak selesai shalat subuh, dan sang Istri tercinta Masih terlelap setelah selesai shalat.
Pria muda yang tampan itu tampak fokus dengan aktivitas yang di lakukannya, pagi ini dia memasak nasi goreng seafood favorit sang istri. tak ketinggalan telur ceplok yang akan menjadi teman nasi goreng.
Akhirnya selesai juga, sempurna. Reno berguman, seraya menatap hasil karyanya, dua piring nasi goreng dan dua telur ceplok begitu menggugah selera.
Setelah menata di meja makan, Reno bergegas menuju ke kamar, bermaksud membangunkan Viona.
"Sayang, sudah siang. bangun yuk," kata Reno sedikit keras, karena dia tidak bisa menyentuh Viona, maka jalan satu-satunya sewaktu membangunkan adalah berteriak.
Reno tersenyum kecil, melihat Viona yang masih meringkuk di dalam hangatnya selimut warna biru muda, warna favoritnya.
Hening, tak ada pergerakan, membuat Reno semakin mendekat pada Viona, lalu mengehempaskan bokongnya di bibir ranjang.
Viona tampak mengerjab, manik matanya menatap Reno sayu, lalu terlihat meringis kecil.
"Mas, perutku sakit ... " Rintihan kecil keluar dari bibir yang merona itu, entah karena sisa lipstik atau karena wajahnya yang memucat, hingga membuat bibirnya terlihat memerah.
"Sa-sakit? mana yang sakit?" tanya Reno panik, dia tersentak kaget mendengar rintihan sang istri yang terlihat seperti kesakitan itu.
"Perutku, Mas." Viona meringis lagi, membuat Reno semakin cemas dan bingung, apa yang harus dia lakukan, sedang menyentuh saja dia tak berani.
"Apa yang bisa aku lalukan, Sayang?" tanya Reno dengan raut iba.
Viona meraih tangan kanan Reno, lalu mengarahkannya pada perutnya yang tersembunyi di balik piyama satin.
__ADS_1
"Ah, ... " Hati Reno berdesir, saat telapak tangannya menyentuh permukaan kulit perut sang istri yang lembut dan hangat.
"Sakit, Mas ..." Viona merintih lagi, dia meringis sembari meringkuk, sementara Reno masih menenangkan debar hatinya yang mendadak menggila hanya karena sentuhan kecil itu.
"Kemarin kamu makan apa?" tanya Reno telapak tangannya mengelus perut yang sakit itu dengan lembut, Viona memejamkan mata, menikmati sentuhan yang nyatanya bisa mengurangi kadar sakitnya.
Hampir setiap bulan, saat mendapatkan haid nya, dia selalu merasakan sakit perut di awal haid seperti sekarang, biasanya dia minum obat pereda nyeri haid yang berupa jamu, tapi dia lupa untuk membelinya kemarin.
"Aku sedang datang bulan."
"Hah, datang bulan?" Reno membeo, dahi berkerenyit berusaha memahami kata-kata itu, lalu tersenyum kecil, dia tahu apa yang di maksud datang bulan.
"Mas, bisa minta tolong belikan pembalut nggak? juga obat nyeri haid." Viona meraih tangan yang masih di perutnya, lalu berganti meletakkan pada pipi kanannya, matanya terpejam saat telapak tangan yang hangat itu menyentuh kulitnya.
"Biasanya di mana adanya?" Reno semakin berdebar, memberanikan diri mengelus pipi putih yang sudah sejak lama ingin dia sentuh.
"Cari saja di minimarket yang buka 24 jam, pasti ada."
"Kamu nggak apa-apa, aku tinggal?" tanya Reno cemas, ingin rasanya mengecup bibir yang sudah berubah pucat itu.
"Nggak apa-apa, aku masih bisa menahannya." Viona memaksa tersenyum, untuk meyakinkan sang suami bahwa dia baik-baik saja.
"Bener?"
Reno berdiri dengan berat hati, seperti tak rela bila harus meninggalkan istrinya yang sedang sakit, tapi lebih takut lagi melihat Viona yang terus menerus merintih kesakitan.
"Ya sudah, aku pergi ya?"
Viona mengangguk, menatap kepergian suaminya, dalam hati dia menyesali semua keegoisan yang dia pertahankan. Reno adalah suami yang baik dan sabar, dia begitu sabar menghadapi istri yang tidak becus apa- apa seperti dirinya.
Reno yang mengerjakan semua pekerjaan rumah, mulai dari memasak, membersihkan rumah, bahkan dia juga tak segan untuk mencuci semua pakaian Viona.
Sedangkan apa yang dia lakukan, tak ada, beruntung karena Reno tipe pria yang punya stok sabar yang melimpah, kalo saja pria lain, dia tak yakin masih bisa selamat hingga detik ini, dalam arti dia masih virgin.
Mungkin kalo pria lain, sudah sejak jauh hari sudah memaksanya untuk melayani, dengan dalih kewajiban. Reno tidak pernah menyentuh dirinya, dan dia tidak pernah mengeluh.
Mata Viona berkaca-kaca, di saat sakit seperti ini, dia seakan tersadar, bahwa Reno adalah suami yang terbaik.
Maafkan aku, Mas. aku janji, akan belajar menjadi istri yang lebih baik, mungkin rasa cinta itu belum tumbuh sempurna, tapi percayalah, aku tidak akan pernah mau berpisah dengan kamu, sampai kapanpun.
Monolog Viona dalam hati.
__ADS_1
🌸🌸🌸
Reno tampak melayangkan pandangan ke seluruh minimarket itu, sekali-kali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sungguh bingung dia, mencari apa yang di pesan oleh istrinya.
"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" seorang pelayan wanita mendekat, mungkin karena sedari tadi melihat Reno yang mondar-mandir seperti orang bingung.
"Eh, iya mbak, bisa minta tolong?" tanya Reno sungkan.
"Iya Mas, mau nyari apa?" tanya pelayan yang memakai baju seragam warna biru dan berjilbab senada itu.
"Bisa ditunjukkan, pembalut ada di sebelah mana ya?" tanya Reno sedikit malu, apalagi saat melihat pelayan itu tampak mengulum senyum.
"Ada di sebelah sana Mas, mari saya antar."
Reno mengikuti langkan pelayan itu, yang menunjukkan tempat pesanan sang istri berada. Reno menepuk kening, dia bahkan dua kali mondar-mandir di deretan ini, tapi memang karena dia tidak pernah tahu bentuk pembalut seperti apa, jadi dia bingung.
"Mau yang biasa apa yang sayap, Mas?"
"Hah,ada sayapnya juga?" Reno kaget, memang seperti burung ya, kok punya sayap.
Mbak pelayan tersenyum kecil, dalam hati memuji pria tampan yang terlihat bingung dan kaget itu.
"Iya Mas, biasanya wanita suka yang ada sayapnya, karena tidak mudah berkerut dan bergeser." jelas pelayan itu.
Otak Reno sudah terbang ke mana-mana, berkerut dan bergeser. guman Reno dalam hati.
"Yang itu saja deh, pilih yang merk terbaik."
"Baik, obat nyeri haid nggak sekalian, Mas?" tanya pelayan itu, sesudah membawa pesanan Reno ke kasir.
"Ah, iya, yang bentuk jamu ya?" kata Reno, mengikuti langkah pelayan yang menuju ke kasir.
"Buat istrinya, Mas. wah, beruntung sekali mbaknya, punya suami yang pengertian seperti Mas."
Reno tersenyum kecil, aku yang beruntung mbak, punya istri seperti Viona, yang sungguh sempurna, beruntung aku karena dia mau menerima aku menjadi suaminya.
Sesudah selesai membeli pesanan Viona, Reno bergegas pulang, karena takut meninggalkan Viona terlalu lama.
*bersambung ..
jangan lupa klik like, love dan komen ya ..
__ADS_1
🌸
🌸*