Bukan Suami Impian

Bukan Suami Impian
Jangan memberi harapan.


__ADS_3

🌸


🌸


"Ikhlaskan, mir."


"Nggak bisa Buk, dulu aku berpisah karena Ibuk yang memaksa kami berpisah, kali ini aku harus bisa dapetin Reno, bagaimanapun caranya." Amira terlihat mengepalkan tangannya, raut wajahnya terlihat begitu mengerikan, membuat sang Ibu bergidik ngeri.


"Mir, jangan ungkit lagi masa lalu, itu harus bisa kamu jadikan pelajaran dan pengalaman," kata Ibu Amira, sesungguhnya wanita itu sangat menyayangkan, kenapa Amira memilih bercerai dengan Hendra suaminya, padahal Hendra tipe laki-laki yang baik, dia juga sopan, terlebih karir juga cukup mapan.


Hendra bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang kontruksi, walau hanya sebagai staf, paling tidak ada gaji bulanan yang diterima, dari pada Reno yang waktu itu hanya punya bengkel kecil.


Mana tahu kalo sekarang dia bisa jadi sukses, kalo saja tahu, sudah pasti dia dan suaminya akan merestui hubungan mereka, tanpa ada drama.


"Ibu nggak usah ikut campur, ini urusan aku!" teriak Amira.


Sang Ibu hanya bisa diam, tak mau memancing emosi sang putri lagi, sejak bercerai dari Hendra, Amira berubah menjadi lebih temperamental.


🌸🌸🌸


Malam menjelang, di rumah kecil Reno.


Pria muda itu tampak sibuk di dapur, dia memang sedang memasak untuk makan malam mereka. kali ini ada menu semur daging dan cap cay.


"Hemm, kayaknya enak Mas." Viona datang, dengan hidung yang kembang kempis, mencium bau masakan yang sedang di oseng oleh Reno.


Reno terkekeh geli, dia gemas melihat ekspresi sang istri yang sedang mencium bau masakannya."sudah pasti, siapa dulu yang masak." Reno bangga.


"Dih, Sombong."


"Bukan sombong, Sayang. tapi percaya diri."


"Sama saja."


"Beda."


"Sama, Mas!" Viona melotot galak, membuat nyali Reno seketika menciut, dan tak lagi mendebatnya.


"Terserah istriku deh."


Viona tersenyum penuh kemenangan, dia menatap opor ayam dengan air liur yang hampir menetes."Belum selesai, Mas?" tanya Viona tak sabar.


"Sudah, tinggal mindahin ke mangkok, dan kita makan." Reno tersenyum manis.


Kemudian keduanya makan malam dengan di selingi obrolan ringan, Viona makan dengan lahap, membuat Reno tersenyum puas, karena sang istri cocok dengan masakan yang dia buat.

__ADS_1


Setelah itu keduanya memilih duduk santai di teras rumah, sambil mengobrol santai.


"Mas ... " usik Viona, setelah beberapa menit hanya keheningan yang menyelimuti keduanya.


Reno menoleh kepada wanita cantik yang memakai piyama satin, di sebelahnya itu.


"Ya ..."


"Mas masih suka sama Amira?" tanya Viona, dia juga menatap wajah pria tampan yang bergelar suaminya itu.


"Hah, kenapa jadi membahas Amira sih?"


"Sudah jawab aja dulu." desak Viona.


"Nggak ada Sayang, sejak aku memutuskan untuk mengenalmu, maka yang ada dalam hatiku hanya dirimu, tidak ada wanita yang lain."


"Jadi, kalo disuruh memilih antara aku dan Amira, Mas milih siapa?"


"Sudah pasti milih kamu, Sayang."


"Bener ... "


"Iya, Amira hanya masa lalu," kata Reno.


"Kamu adalah masa sekarang dan masa depan aku, sayang. jangan pernah membahas masa lalu lagi, hanya akan membuat kita saling berdebat saja."


Viona diam, manik matanya terus memandang Reno, yang begitu tampan saat menebarkan senyuman mautnya.


"Saat ini, yang harus kita lakukan adalah saling mengenal dan memahami satu sama lain, agar hubungan kita bisa lebih dekat lagi, nggak perlu bahas yang tidak penting seperti itu, hanya buang-buang waktu saja."


Viona masih diam, tapi manik matanya tak bisa lepas dari wajah Reno, seakan terhipnotis oleh segala tutur kata yang keluar dari bibirnya.


"Saat aku mengucapkan ijab Kabul, saat itu pula aku hanya akan jadi milik kamu, begitu juga kamu, hanya aku yang berhak memiliki nya," kata Reno lagi.


"Kalo begitu, bisa kan nggak ngasih harapan kepada Amira?"


"Tentu saja."


"Jangan beri dia kesempatan untuk mendekat."


"Siap, tuan putri."


"Mas, aku serius."


"Aku lebih serius Sayang, nggak akan ada Amira atau juga wanita lain yang bisa mendekati aku, hanya Viona... "

__ADS_1


"Baiklah, aku pegang janji kamu ya, kalo sampai aku tahu kamu masih saja bertemu dengan dia di belakang aku, awas saja," ancam Viona.


"Hemm, kayaknya menakutkan ya ancaman kamu, Sayang." Reno tersenyum geli, tingkah Viona sudah seperti seorang istri sungguhan yang takut suaminya mendua, dan itu membuat hatinya tiba-tiba menghangat, bagaikan ada sejuta kupu-kupu yang hinggap di hatinya.


"Tadi dia kesini." kata Viona lagi, matanya mengarah ke jalan yang mulai sepi, karena malam sudah semakin larut.


"Hah, Amira!" Reno kaget, dia sontak menoleh kepada sang istri.


"Iya, siapa lagi memang," jawab Viona sinis.


"Mau apa dia?"


"Hanya ingin mengenal aku katanya, dan dia bilang aku bukan saingan dia, huh, tentu saja sua sudah janda sedang aku kan masih single, mana bisa di saingkan, yang benar saja."


Reno menelan salivanya takut, dalam hati merasa takut kalo Amira akan berkata yang tidak-tidak dan menyudutkan dia.


"Aku rasa, istriku wanita yang tangguh, dan tidak mudah terintimidasi oleh ancaman bentuk apapun," kata Reno.


"Tentu saja, Amira bukan level aku untuk bersaing, kecuali memang kamu masih ada rasa dengan dia."


"Tidak Sayang, aku berani bersumpah bah ... "


"Jangan asal mengucap sumpah, takutnya kalo nanti kamu langgar malah jadi ... "


"Sayang, tolong, percaya sama aku ya, tidak akan ada wanita lain yang yg bisa masuk ke dalam hati maupun hidupku, terutama Amira, kisah kami sudah lama berakhir, jauh sebelum aku mengenal kamu."


"Sekarang hanya ada kita, aku dan kamu, juga anak-anak kita nantinya." Reno tersenyum genit, membuat wajah Viona merona.


"Apaan sih?"


"Kamu mau kan, jadi ibu dari anak-anakku?"


"Hemm, lihat nanti aja Mas."


"Baiklah, aku akan sabar menunggu, sampai waktu itu tiba." Reno tersenyum, menatap langit yang di taburi oleh bintang-bintang, begitu indah, tapi jelas lebih indah wanita cantik yang ada di sampingnya itu.


"Jangan pernah beri kesempatan Amira untuk mendekati kamu, Mas."


"Iya, Sayang."


*bersambung...


🌸


🌸*

__ADS_1


__ADS_2