
🌸
🌸
Viona membuka pintu dan sontak kaget, melihat wanita yang di bencinya berani muncul didepannya."Kamu! mau apa datang ke sini?" tanya Viona ketus, menyandarkan bahu kanan pada bingkai pintu, dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
Amira menatap sinis, memindai tubuh istri dari mantan kekasihnya dari atas hingga ke bawah, jujur dalam hati dia mengakui pesona wanita muda itu.
"Aku ingin bertemu Mas Reno," Kata Amira tanpa merasa canggung atau malu.
Viona tertawa geli, kok ada wanita yang begitu tak tahu malu, mencari suami orang sampai ke rumahnya." Kamu nggak lagi mabuk kan?" Dahi Viona mengernyit.
"Apa maksudmu?"
"Apa urat malu kamu sudah benar-benar putus, hingga begitu tak tahu malu, mencari laki-laki yang sudah beristri?"
"Tutup mulut kamu." Muka Amira memerah, tangannya meremas paper bag yang berisi makan siang untuk Reno itu.
"Aku tidak akan berhenti bicara, sampai kamu sadar dan menjauhi suami aku!" Geram Viona.
"Kamu takut bersaing dengan aku?" Amira tertawa sinis, kepercayaan dirinya membumbung tinggi, menatap dengan pongah sang lawan bicara.
"Aku takut bersaing dengan kamu?" Viona tertawa keras, dan mengundang Reno untuk berteriak dari dalam.
"Ada siapa Sayang?" Teriak Reno keras, dan cukup di dengar oleh Amira, membuat dadanya tiba-tiba berdenyut sakit, mendengar betapa manis dan mesra Reno memanggil istrinya.
"Nggak ada apa-apa, Mas. Hanya ada kuman bandel yang harus segera di basmi." Teriak Viona.
"Kurang ajar." Amira menarik tangan Viona dengan penuh amarah, dan membuat Viona meringis menahan sakit.
"Mas, tolong aku ... " Viona pura-pura menangis, membuat Amira ketakutan dan melepaskan cengkeraman tangannya.
"Ada apa Sayang?" Reno muncul dari dalam dengan wajah panik, pria muda itu kaget melihat sang istri menangis tersedu.
__ADS_1
"Kenapa Sayang, kenapa menangis?" tanya Reno, dan Viona segera menghambur ke dalam pelukan Reno.
"Mantan pacar kamu menarik tanganku Mas, lihat, lenganku sampai memerah." Viona mengeratkan pelukannya.
Reno menatap Amira dengan tajam, andai saja dia laki-laki, sudah dia ajak baku hantam sejak tadi, sayangnya dia perempuan. Reno pantang menyakiti perempuan, walau dalam keadaan semarah apapun itu.
"Ti-tidak Mas, ini cuma salah paham, dia yang mulai duluan." Amira terbata-bata, dia ketakutan melihat mata elang yang seakan ingin mencabik-cabik dirinya itu.
"Apa aku salah jika ingin melindungi suami aku, Mas?" tanya Viona, dia melepaskan pelukannya kemudian menatap wajah suami tampannya itu.
Reno tersenyum, mengusap air mata yang masih saja turun ke pipi mulus istrinya.
"Aku sangat tersanjung, Sayang."
"Aku tadi hanya mengatakan, agar dia tidak lagi mencari kamu, dia malah marah, dan ingin memukul ku, Mas." Rengek Viona, sudut matanya melirik puas pada Amira.
"Mira, apa mau kamu!" bentak Reno, dia tidak bisa membiarkan orang menyakiti istrinya.
"Dia bohong Mas." Amira membela diri.
"Sudah, jangan menangis Sayang. Tentu saja aku percaya sama kamu." Reno mengelus punggung istrinya lembut, dengan mata melotot tajam pada Amira.
"Mas ... " Amira berbisik lirih.
"Pergi dari rumahku, Mir." Tegas Reno. Tak ingin rumah tangga yang baru saja dia kayuh bersama Viona hancur hanya gara-gara wanita di depannya ini.
"Tapi ... "
"Pergi Mir, dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku, sadarlah, aku sudah mempunyai kehidupan sendiri, dan aku sangat mencintai istriku."
Viona tersenyum penuh kemenangan, dia membalik tubuh dan menatap sinis pada Amira." Kamu sudah dengar dari bibir suamiku langsung kan, jangan pernah lagi muncul di hadapan kami lagi."
Amira menangis pilu, dia bergegas pergi meninggalkan mereka, tanpa berkata lagi.
__ADS_1
"Kamu nggak pa-pa kan?" Reno memindai wajah istrinya.
"Nggak, cuma lenganku agak sakit sedikit, dia mencengkam begitu kuat tadi." Viona merengut, lalu berjalan masuk ke dalam rumah, napsu makannya tiba-tiba saja hilang entah kemana.
"Kita makan ya?" Reno menyusul sang istri.
"Kalo dia masih berani menemui kamu, aku pastikan, aku akan pergi ninggalin kamu, Mas." Ancam Viona, mengempeskan bokong di kursi ruang makan.
"Hey, jangan bicara seperti itu Sayang, ucapan itu adalah doa, aku nggak mau kita berpisah sampai kapanpun." Kata Reno, dia mengambilkan makanan untuk sang istri yang sedang merajuk itu.
"Aku kesal ... "
"Iya, maaf. Lain kali, tidak akan terjadi lagi, aku janji tidak akan membiarkan dia mendekati aku lagi." Reno meletakkan piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauknya itu di depan Viona, membuat hati Viona yang tadi sedikit kesal jadi trenyuh dan terharu.
"Makasih Mas." Guman Viona lirih, menatap Reno dengan netra berembun.
"Sama-sama Sayang, makan gih, yang banyak biar gemuk." Reno tergelak, dan dia memilih duduk di samping sang istri. Mulai mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
"Ish, aku nggak mau gemuk." Viona merengut.
"Nggak apa-apa, biar tambah cantik dan seksi." Goda Reno.
"Sudah Mas, jangan kebanyakan gombal, aku jadi risih dengernya." Viona memutar bola matanya sebal.
"Biasanya wanita paling suka mendengarkan kata-kata manis dari pasangan nya bukan?"
"Mungkin, tapi aku nggak suka, kamu nggak pantes bicara gombal seperti itu." Viona terbahak.
Mau tak mau Reno juga ikut tertawa, hatinya lega, karena sang istri sudah tidak ngambek lagi, tadinya dia sudah ketakutan, jika Viona terus ngambek, pasti akan berpengaruh pada kesejahteraan juniornya.
*Bersambung...
jangan lupa klik like, love dan komen..
__ADS_1
🌸
🌸*