Bukan Suami Impian

Bukan Suami Impian
Dua garis merah


__ADS_3

🌸


🌸


"Mau cari apa, mbak?" Tanya gadis muda yang memakai hijab warna biru dongker, dia penjaga sebuah apotik yang ada di dekat butik Viona.


Saat memutuskan untuk segera pulang pada sore hari itu, Viona menyempatkan diri mampir dulu ke apotik.


Sesuai anjuran dari Rani, sang anak buah kepercayaannya."Mau cari tespek, Kak."


"Mau yang merek apa?" Tanya gadis muda itu lagi, kemudian mengeluarkan berbagai macam merek tespek, dan meletakkan di atas etalase.


"Hemm, banyak juga ya kak?" Kata Viona bingung.


"Iya kak, jadi mau yang mana? atau ambil saja satu-satu dari merek-merek ini?" Gadis itu tersenyum, pandai sekali dia memanfaatkan peluang bisnis.


"Hemm, boleh deh kak, ambil lima ya," Ucap Viona, seraya menyusupkan tangan kanannya ke dalam tas, untuk mengambil dompet.


"Itu pakenya, bisa langsung sekarang apa gimana, kak?" Tanya Viona kepo, mengeluarkan satu lembar uang kertas warna merah.


"Kalo yang biasa ini lebih akuratnya di pakai saat pagi hari mbak, saat baru bangun tidur. Kalo yang ini, di pakai sekarang juga bisa." Gadis itu menunjuk pada salah satu tespek.


"Ok, makasih mbak."


Setelah membayar, Viona bergegas naik mobil, lalu memacu kendaraannya menuju ke rumah yang dia tinggali, bersama sang suami tercinta.


Sesampainya di rumah, Viona Menghempaskan tubuhnya sejenak ke ranjang, berbaring menelentang, seraya menatap langit-langit kamarnya.


Mas Reno pasti bahagia jika aku benar-benar hamil, juga mama dan papa. Mereka sudah berulang kali mendesak ingin punya cucu. Viona bermonolog dalam hati,bibirnya tak henti menyunggingkan senyum.


Bergegas bangun, mengambil baju tidur di dalam lemari, kemudian mengambil salah satu tespek, yang tadi kata mbak penjaga lebih efektif, cara pakainya nggak usah nunggu saat pagi hari.


🌸🌸🌸


Di kamar mandi ...

__ADS_1


Viona menatap sebuah gelas plastik yang berisi urine miliknya dengan ragu-ragu. Sementara sebuah tespek tergenggam di tangan kanannya.


Dengan dada yang berdegup kencang dan tangan gemetar, Viona mencoba mencelupkan ujung tespek, melakukan sesuai petunjuk yang tertulis di bungkusnya.


Detik demi detik berlalu, setelah di rasa cukup, Viona segera mengangkat tespek itu, dan sontak kedua matanya membulat saat melihat hasilnya.


Tampak dua garis terpampang dengan nyata, membuat netranya berkaca-kaca. Kedua tangannya bergetar, manahan rasa haru yang tiba-tiba menyeruak di dada.


Ingin sekali berteriak, mengatakan bahwa saat ini, ada malaikat kecil yang sedang meringkuk di dalam rahimnya.


"Sayang, apa kamu di dalam?" Tiba-tiba pintu kamar mandi di gedor dari luar, bersama dengan teriakan pria yang sudah bisa dipastikan adalah Reno.


Viona segera mengusap air matanya, tak ingin sang suami melihat mata sembabnya. Viona ingin melakukan tes sekali lagi pada esok pagi, untuk lebih mematikannya, dan baru akan memberitahu suaminya besok pagi.


"Sayang." Tak sabar menunggu sahutan dari dalam, Reno kembali menggedor pintu kamar mandi.


"Iya Mas, aku baru saja masuk." Sahut Viona akhirnya, tak ingin membuat Reno cemas, karena tidak menjawab panggilannya.


"Baiklah, aku panaskan air dulu ya buat kamu mandi?" Ucap Reno lagi.


Hanya ada bak mandi berukuran besar, dan juga gayung, untuk mandi.


"Tapi, kamu kan masih belum sehat, Sayang."


"Nggak apa-apa, Mas."


Akhirnya Reno mengalah, lalu menyingkir dari depan kamar mandi.


Tak lama Viona keluar dengan memakai piyama tidur dengan atasannya berlengan panjang, dan bawahan juga panjang hingga mata kaki.


Dilihatnya Reno sedang berkutat di dapur, entah apa yang dia lakukan."Mas, baru pulang?" Sapa Viona, meraih tangan kanan suaminya, lalu mengecup punggung tangannya takzim.


"Iya, mau aku buatin sesuatu? teh panas atau susu?" Tanya Reno lembut, mengelus pipi seputih pualam itu dengan penuh kasih sayang.


"Teh hangat boleh, Mas " Tanpa aba-aba, Viona memeluk tubuh sang suami, melingkarkan kedua lengannya dengan erat pada pinggang sang suami.

__ADS_1


"Eh, aku belum mandi yang, tubuhku bau asem." Kata Reno tak enak, apalagi saat mencium aroma tubuh Viona yang wangi dan segar.


"Aku suka baunya Mas, jangan mandi dulu, aku kangen." Rengek Viona, mengendus leher Suaminya, sambil sesekali mengecupnya basah, membuat Reno tertawa geli.


"Sayang, ada apa sih, kenapa jadi tiba-tiba manja seperti ini?" Bisik Reno, mengecup pucuk rambut Viona dengan lembut.


"Nggak boleh kangen sama suamiku sendiri?" Viona melepas pelukannya, lalu menatap suaminya dengan bibir cemberut.


"Eh, tentu saja aku suka, bahagia malah, aku harap setiap hari saja kamu seperti ini," Kata Reno, menangkup wajah cantik yang terlihat segar itu, dengan kedua tangannya yang besar.


"Ih, maunya."


"Menyenangkan suami, bukankah pahala juga Sayang?" Reno mengerlingkan matanya, menggoda.


"Hemm."


"Sekarang duduk manis dulu, aku buatin teh hangat ya?" Reno membimbing sang istri untuk duduk di kursi yang ada di dapur, yang juga sebagai tempat mereka makan.


"Iya." Kata Viona patuh, menatap tubuh gagah suaminya yang dalam posisi membelakangi dirinya, tak menyangka pria tampan yang dingin itu, begitu mencintai dirinya, dan seketika rasa haru kembali menyeruak, menyesakkan dadanya.


Tak tahan dengan perasaannya yang tiba-tiba melankonis, Viona segera bergegas mendekati suaminya dan memeluk tubuhnya dari belakang.


"Hei, kenapa Sayang?" Tanya Reno panik, saat mendengar isak tangis sang istri di balik punggungnya. Ingin memutar tubuhnya, tapi Viona mengeratkan pelukannya. Tangisnya juga semakin kencang, antara rasa haru, bahagia melebur jadi satu, hingga membuat hatinya begitu sensitif.


Mendapatkan dua garis merah di dalam kamar mandi pada sore tadi, dan juga mendapatkan seorang suami yang begitu mencintai dirinya, dan mau melakukan apa saja untuk membahagiakan sang istri tercinta.


"Maafkan aku, Mas. Aku mencintaimu."


*Bersambung ...


jangan lupa klik like, love dan komen ya..


🌸


🌸*

__ADS_1


__ADS_2