Bukan Suami Impian

Bukan Suami Impian
Kebahagiaan yang sempurna.


__ADS_3

🌸


🌸


Viona mencelupkan ujung tespek, ke dalam sebuah gelas plastik, yang sudah terisi air urine miliknya. Setelah terbangun tepat pada jam empat dini hari, dia sudah tidak lagi merasakan kantuk.


karenanya, Viona memilih pergi ke kamar mandi, untuk melakukan tes kehamilan sekali lagi. Begitu ujung tespek tercelup ke dalam, Viona mengambil kembali, setelah beberapa detik di dalamnya, dengan mata terpejam Viona mengambil kembali tespek itu.


Rasa ragu menyerangnya, takut kalo yang terlihat hanya satu garis saja. Viona akhirnya memberanikan diri untuk membuka mata pelan-pelan, dan seketika dia menjerit saat melihat tespek tersebut.


Dua garis merah terpampang dengan nyata, bukan hanya pada satu tespek, tapi pada tiga buah tespek dengan merk berbeda. Semuanya muncul dua garis merah.


"Sayang ... ada apa? kenapa berteriak?" Reno menggedor pintu dan berteriak dengan panik.


Air mata Viona mengalir deras menimpa pipi mulusnya. Tidak menjawab panggilan sang suami, dia malah mengeraskan tangisnya.


"Viona, Sayang. Buka pintunya, jangan membuatku takut!" Tak patah arang, Reno terus menggedor pintu dan berteriak.


"Nggak apa-apa, Mas." Viona terpaksa menjawab, menggigit bibir bawahnya, untuk menekan rasa haru yang menyeruak di dadanya.


"Buka pintunya, ayolah Sayang." Reno terus merayu.


Viona akhirnya membuka pintu, dia bahkan melupakan bahwa dirinya saat itu masih dalam keadaan polos. Dia berniat mandi, setelah melakukan tes kehamilan.


"Astaghfirullah, ada apa Sayang?" Reno segera meraih handuk warna putih, yang berukuran cukup lebar, lalu membelitkan ke tubuh polos sang istri. Kemudian memeluk tubuh ramping yang tampak gemeter itu.


"Mas ... " Bisik Viona, dan menggenggam ketiga tespek di tangan kanannya.


"Ada apa, Sayang? siapa yang menyakiti kamu, katakan saja, jangan takut, suamimu ini pasti akan selalu membela istri ku yang cantik ini." Reno mengurai pelukannya, kemudian menghapus air mata yang mengalir deras di pipi istrinya.


Mengecup kelopak mata yang masih menyisakan sembab, tapi tetap saja tidak mengurangi kadar kecantikan sang istri.


"Aku bahagia, Mas."


"Bahagia kok menangis?" Tanya Reno seraya tersenyum.

__ADS_1


"Aku terharu, Mas ..." Ucap Viona lagi.


"Apa istriku hanya ingin menikmati kebahagiaan ini sendiri, tidak membaginya dengan ku?"


"Aku mau mandi dulu, Mas. Setelah itu aku akan bercerita kepada Mas." Kata Viona.


"Baiklah, kamu mau sarapan apa?" Menyibak rambut yang sedikit berantakan itu.


"Nasi goreng aja Mas."


"Lagi?" Reno Menatap sang istri keheranan, karena tadi malam mereka baru saja makan nasi goreng seafood, di tempat pertama kali mereke bertemu.


"Hemm."


"Nggak mau yang lainnya, roti panggang misalnya?"


"No."


"Nasi goreng?"


"Baiklah, pesanan akan segera dihidangkan tuan putriku yang cantik jelita."


"Dasar, gombal."


Reno segera berlalu dari kamar mandi, dan mulai berkutat di dapur kesayangannya, untuk membuatkan sang istri sarapan spesial pagi ini.


Begitu aktivitas mandi Viona selesai, Reno segera berganti mandi, karena nasi goreng pesanan Viona juga sudah tertata di meja makan. Bahkan bau gurihnya, sudah membuat air liur Viona hampir menetes.


Hanya butuh waktu lima belas menit, Reno mengakhiri mandinya, dia memang bukan tipe pria yang lama bila di kamar mandi sendirian. Lain ceritanya bila dia sedang mandi dengan sang istri. Sudah pasti butuh durasi yang cukup lama.


Keduanya mulai menyantap sarapan pagi sederhana , tapi di buat dengan penuh cinta itu. Apapun masakan Reno, selalu saja pas di lidah Viona. Harusnya Reno menjadi chef saja, bukan malah jadi montir.


"Jadi, apa yang ingin kamu bagi dengan ku, Sayang?" Tanya Reno tak sabar, begitu mereka menyelesaikan sarapannya.


Viona tersenyum, lalu beranjak dari duduknya, dan menarik tangan Reno, menyuruhnya untuk berdiri.

__ADS_1


"Tutup mata, Mas." Titah Viona.


"Tutup mata? gelap dong?"


"Sudah jangan cerewet, Mas. Cepat tutup mata."


"Iya." Dengan patuh Reno menutup kedua matanya. Kemudian dia merasakan sang istri membuka telapak tangan kanannya, dan meletakkan beberapa benda di atasnya.


Reno mengerutkan dahinya, lalu berusaha untuk meraba benda itu, tapi tak juga bisa menebaknya.


"Sudah belum?" Tanya Reno penasaran.


"Sudah, buka mata Mas."


Perlahan Reno membuka mata, lalu pandangan matanya jatuh pada benda yang ada di atas telapak tangannya. Kedua mata Reno sontak membelalak ketika melihat dengan jelas, empat buah tespek yang tengah di pegangannya.


Dan semuanya ada dua garis merah. Mata elang itu berkaca-kaca, penuh rasa haru. Menatap sang istri penuh cinta.


"Sayang."


"Iya Mas, kita akan jadi orang tua." Bisik Viona, dan Reno segera menyambar tubuh sang istri, lalu memeluknya dengan erat. Menangis terisak karena rasa bahagia yang begitu membuncah didalam dadanya.


"Terima kasih, Sayang. Akhirnya saat yang aku nantikan datang juga, kita akan jadi orang tua. Aku akan dipanggil Ayah?" Kata Reno sembari terus terisak.


"Iya Mas."


"Makasih , Sayang. Sudah memberikan kebahagiaan yang sempurna detik ini, aku sangat mencintaimu."


"Aku juga cinta kamu, Mas." Balas Viona, tak kalah lembut dan mesra.


*bersambung..


🌸


🌸*

__ADS_1


__ADS_2