
πΈ
πΈ
"Kenapa malah kamu yang jadi ngambek, Mas?" Viona mengikuti langkah Reno yang ternyata menuju lemari es besar, di sudut ruang makan, mengambil satu botol air mineral, dan meminumnya hingga setengah. dia perlu air dingin, untuk membantunya mendinginkan sesuatu yang sempat memanas karena sentuhan Viona tadi.
"Nggak ... " Reno menyangkal, kini dia duduk di kursi meja makan, ada paper bag yang ada di meja, dan Viona tidak tahu apa isinya.
"Tuh, bibirnya cemberut," ledek Viona.
"Kamu sih, suka php."
"Php apa?"
"Pegang dan cium seenaknya, tapi giliran mau di balas malah marah."
Viona tertawa kecil, melihat ekspresi ngambek Reno yang justru malah terlihat mengemaskan, membuatnya semakin ingin menggodanya.
"Bakso pesanan aku, ada kan? nggak lupa kan?"
"Itu, di dalam paper bag." Reno menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, mengamati wajah sang istri yang terlihat sumringah hanya karena bakso. memang sih, dia punya segalanya, uang dan karir.
Mungkin kalo membelikan barang mahal, dia juga sudah bisa membeli sendiri tanpa bantuan orang lain, atau suaminya sekalipun.
"Makasih ya, Mas," ucap Viona dengan tulus, segera memindahkan bakso yang masih panas itu ke sebuah mangkok besar, matanya berbinar saat melihat bakso dalam ukuran besar.
"Mas nggak makan?" tanya Viona, seraya memasukkan bakso ukuran kecil ke dalam mulutnya.
"Kamu makan saja, tadi di bengkel sudah sempat makan sama anak-anak." Reno tersenyum.
"Berarti ini untuk aku semua kan?"
"Iya, Sayang."
"Baiklah."
Reno tak melepaskan pandangannya dari wajah sang istri yang terlihat begitu menikmati makanannya itu, dia memang tidak pernah jaim kalo masalah makanan. itu yang membuat Reno semakin mencintai Viona.
"Tadi ngapain aja dirumah?" tanya Reno lagi.
"Main ponsel, apa lagi, oh ya tadi juga ada beberapa tetangga mampir, waktu aku duduk-duduk di teras."
"Oh ya?"
"Hemm, namanya Bu Ida sama Bu Rahma."
"Bu Ida ... "dahi Reno berkerenyit, dia cukup mendengar reputasi dari Bu Ida yang dijuluki CCTV desa ini, karena berita apapun selalu bisa tahu.
__ADS_1
"Iya ... " Viona menyeruput kuah baksonya, setelah semua bakso sudah berpindah tempat ke dalam perutnya.
"Ada yang mereka katakan?"
"Nggak ada, hanya ingin menyapa. Ng, juga sedikit memuji sih, katanya aku lebih cantik dari Amira," kata Viona seraya melirik sinis pada Reno.
Reno tergelak, dia sangat gemas saat Viona berekspresi seperti itu, ingin rasanya menerkamnya, kalo saja bisa dan boleh. pria muda itu memang harus menambah stok kesabaran, karena melihat penampilan Viona yang begitu menggoda saat di rumah.
"Kamu memang yang paling cantik."
"Ya, aku tahu. karena itu kamu suka sama aku kan?" Viona menyandarkan punggungnya, kedua tangannya memegang perut yang terasa kenyang.
"Bukan hanya karena kamu cantik, tapi juga karena kamu baik, kamu jutek, kamu jujur ... "
"Jutek?"
"Iya, ingat nggak pertama kali ketemu, kamu begitu angkuh dan jutek," kata Reno seraya tertawa, mengingat pertemuan pertama mereka, yang langsung membuatnya jatuh cinta saat itu juga.
"Aku kalo belum kenal, memang seperti itu sih," Viona mengedikkan bahu.
"Hemm, itu yang membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama."
"Huh, manis sekali."
"Aku jujur Sayang, bukan sedang merayu atau menggombal." kata Reno gemas.
"Jangan menampakkan wajah yang menggemaskan seperti itu." kata Reno sedikit geram, karena Viona seperti sedang menggodanya saja.
"Apa sih, aku biasa saja lho."
Reno berdecak, menghadapi wanita yang sudah menjadi istrinya dua hari ini, membuatnya selalu kelimpungan sendiri.
"Aku mau istirahat dulu ya?" pamit Reno, dia beranjak dari duduknya.
"Baiklah."
Viona ikut beranjak, mengikuti langkah suaminya yang sudah memasuki kamar.
"Kamu mau tidur juga?" tanya Reno saat melihat istrinya mengikuti ke dalam.
"Aku sudah sempat tidur tadi, belum mengantuk lagi." Viona menghempaskan bokong di sofa, lalu meraih ponselnya yang ada di sudut sofa.
"Aku tidur nggak apa-apa kan?" tanya Reno lagi, dia sudah bersiap menghempaskan tubuh ke ranjang yang beberapa hari ini tidak pernah dia tiduri, dia lebih merelakan benda yang selama puluhan tahun menemani rasa lelahnya itu, untuk sang istri tercinta.
"Tidur aja." Viona mulai fokus dengan ponselnya, dia mengirim pesan untuk dua karyawannya di butik, untuk menanyakan keadaan butik hari ini.
πΈπΈπΈ
__ADS_1
"Ayo Tita, buka mulut, cepat makan!" bentak Amira kepada sang putri yang tengah merajuk, gadis kecil berusia empat tahun itu sedang memendam rindu kepada sang Ayah.
"Aku nggak mau Ma, aku nggak lapar," kata Tita, gadis kecil itu memang sudah pandai bicara, dia juga tidak cadel.
Amira mendengkus kesal, membanting sendok ke piring, hingga menimbulkan suara dentingan yang memekakkan telinga.
Tita menangis ketakutan, sejak tinggal di rumah kakek neneknya, sang Mama berubah menjadi kasar dan suka marah-marah.
"Ada apa Mir, kenapa kamu!" bentak Ibu Amira, yang tiba-tiba muncul dari dalam dapur, suara sendok yang beradu dengan piring mengagetkan dia yang sedang sibuk memasak.
"Anak ini terus berulah Buk, aku capek menghadapi dia," gerutu Amira, seraya menatap tajam kepada gadis kecil yang sedang mendekap tubuh sang nenek, dia begitu ketakutan kepada Amira.
"Ada masalah apa, kenapa selalu anak yang jadi pelampiasan kamu? dia salah apa?" tanya Ibu Amira dengan nada keras, dia sungguh kecewa dengan keputusan Amira yang ingin bercerai dengan pria yang dulu dia dan suaminya pilihkan.
"Tita merengek terus ingin ketemu Papa-nya."
"Hanya masalah itu?" Mata Ibu Amira menyorot tajam, seakan ingin mengorek kejujuran pada mata Amira, dan dilihatnya sang putri tampak gelisah.dia tahu, ada yang sedang mengusik pikiran Amira.
"Iya Buk, apalagi memang nya?" tanya Amira ketus.
"Jangan bohong sama Ibuk."
"Reno sudah menikah, Bu," kata Amira tak bersemangat, dia berkaca-kaca. Ibu Amira menghela napas, setelah sekian lama, sang putri masih saja memendam perasaan kepada pria bernama Reno yang dulu dia tolak mentah-mentah.
"Reno memang sudah menikah, terus kamu mau apa?"
"Mira masih mencintai Reno, Buk," kata Amira lemah, perlahan dia terisak, seraya menutup wajahnya dengan kesepuluh jarinya.
"Mira, jangan konyol, ingat status kamu yang sudah menjadi janda, dan ingat, Reno sudah punya istri. kalian tak bisa bersama, walaupun Ibu merestui kalian," kata Ibu Amira sedih.
"Ini semua karena Ibu, kalo saja dulu merestui kami, mungkin saat ini kami sudah bahagia," kata Amira, menatap wajah sang Ibu yang juga tampak sedih.
"Amira, ingat, ini semua sudah taqdir hidup kamu, jangan salahkan Ibu terus, kalian memang tidak berjodoh."
"Walau bagaimanapun juga, Amira harus bisa merebut Reno dari tangan wanita itu."mata Amira tampak berkilat penuh dendam, membuat sang Ibu bergidik ngeri.
"Ikhlaskan, Mir."
*Bersambung ...
jangan lupa klik like, love dan komen..
makasih ππ
πΈ
πΈ*
__ADS_1