
🌸
🌸
“Beneran mau tidur, Mas?” Tanya Viona dengan nada ambigu.
“Ya.” Mata Reno yang sudah terpejam, mau tak mau terbuka lagi, menatap wajah cantik sang istri yang bersembunyi di dada bidangnya. Mungkin dia merasa malu, sudah mengatakan seperti itu.
“Sayang.” Reno menjapit dagu sang istri, hingga dia bisa menatap wajah yang begitu memesona, dalam keadaan merona seperti itu. Aura kecantikannya semakin terpancar, apalagi setelah Reno tahu, sang istri tengah mengandung buah hati mereka, rasa cintanya semakin berkali lipat rasanya.
“Ih, Mas. Aku malu,” bisik Viona, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Reno, membuat pria itu sontak meremang.
“Istriku mau apa?” Bisik Reno, mengecup pucuk kepala Viona.
“Kenapa mesti bertanya sih, Mas. Aku kan malu.” Rengek Viona. Semakin mengeratkan pelukannya.
Reno terkekeh, dia sebenarnya sudah paham, maksud pertanyaan sang istri tadi, tapi dia pura-pura tidak mengerti, sengaja ingin menggoda istri cantiknya itu.
“Tapi, gimana dengan dia? Aku takut menyakitinya Sayang.” Tangan Reno mengelus perut istrinya yang masih rata, sebenarnya dia juga menginginkan Viona, hanya saja mengetahui sang istri tengah berbadan dua, membuatnya takut untuk meminta.
“Memang kenapa?” Tanya Viona sembari cemberut.
“Bagaimana kalo nanti aku lupa, dan malah menyakiti dia?” Tangan Reno terus mengusap perut yang terbalut gaun tidur itu lembut.
Viona sontak membalik tubuh, membelakangi sang suami. Air matanya tiba-tiba turun tanpa di minta. Perasaan sangat malu, dia sudah merendahkan harga dirinya, dengan meminta lebih dulu pada Reno, tapi balasannya apa?
Reno tertegun, dia tidak menyangka jika penolakan yang dia berikan, menyakiti hati istrinya. Dapat dia lihat bahu sang istri yang terguncang, tanda dia menangis. Hati Reno mencelos, bukan maksudnya untuk menolak keinginan Viona, tapi, dia lebih memikirkan keadaan calon buah hati mereka, apalagi usia kandungan Viona masih sangat rentan.
__ADS_1
“Sayang ... “ Bisik Reno, memegang pundak Viona.
“Tidurlah, Mas. Lupakan keinginanku yang tidak tahu diri ini, maafkan aku “ Kata Viona, diantara isak tangisnya.
“Maaf, bukan maksudku untuk menolak kamu, aku hanya takut menyakitinya, tolong kamu mengerti,” Kata Reno dengan lembut. Berusaha memberikan penjelasan dengan sangat hati-hati, tak ingin membuat amarah ibu hamil itu semakin terpancing.
Viona diam, dia menutup telinga dan matanya rapat-rapat. Rasa kecewa begitu mendominasi hatinya saat ini. Disaat dia benar-benar menginginkannya, hanya penolakan yang dia dapat.
Mungkin maksud Reno baik, tapi entah mengapa, dia merasa kesal dan sakit hati mendengar penolakan halus sang istri.
“Apa kamu benar-benar menginginkannya?” Tanya Reno lagi.
“Lupakan saja Mas, anggap saja aku sedang khilaf. Aku bukan wanita yang haus belaian.” Viona menutup mata, berusaha untuk tertidur.
Sementara Reno hanya bisa menghela napas panjang. Rasa sesal karena sudah menyakiti hati sang istri, begitu menyesakkan dadanya. Apalagi melihat Viona yang lebih memilih membelakanginya, dan tak lagi ada pelukan hangat untuknya.
***
Pagi menjelang, Reno mengerjabkan kedua matanya perlahan. Kemudian mulai membuka mata dengan sedikit malas, ternyata tidur tanpa memeluk tubuh sang istri, membuatnya mendadak susah tidur.
Ingin rasanya membawa wanita cantik, temannya berbagi ranjang itu, tapi dia takut, Viona semakin bertambah marah.
Seharusnya dia tak menolak keinginan sang istri, mungkin dia tidak akan merana seperti tadi malam.
Reno mengusap sisi ranjang yang telah menjadi dingin. Pertanda sang empu, cukup lama meninggalkan tempat ini.
“Sayang.” Reno memandang sekeliling, dan suasana sudah cukup sepi.
__ADS_1
“Sayang.” Teriak Reno lagi, dia beranjak bangun. Kemudian keluar dari kamar, dan mencari keberadaan sang istri. Mulai dari kamar mandi, dapur, tidak dia dapatkan sang istri berada.
Reno melangkah ke arah depan, saat membuka pintu, hatinya mencelos, saat melihat mobil istrinya sudah tidak ada. Jadi dia masih marah sama aku?
Bahu Reno melemas, istrinya benar-benar marah. Hingga dis memilih berangkat kerja lebih dulu, daripada menunggu suaminya. Bahkan Reno tak yakin, kalo Viona sudah sarapan.
Pria tampan itu melesat ke kamar mandi, ingin segera membersihkan diri, dan segera menyusul sang istri ke butik miliknya.
Reno mempercepat aktivitas mandinya, agar segera bisa menyusul sang istri ke butik. Bahkan saat ini saja belum genap pukul delapan pagi, dan sang istri sudah pergi dari rumah.
Selesai mandi dan memakai baju dengan cepat, Reno segera memacu motornya, membelah jalan raya, tujuannya hanya satu, ke butik milik sang istri.
Hanya butuh waktu lima belas menit, Reno sampai juga di depan butik. Setelah memarkir motor, dia tergesa masuk ke dalam.
“Mas Reno, mencari Mbak Vio?” Sapa Rani, begitu dia muncul di dalam butik.
“Iya, istriku ada kan?”
“Maaf Mas, Mbak Vio belum sampai, saat ini sedang ada pertemuan dengan salah satu pelanggan tetap kami.” Rani menjelaskan.
“Apa?”
Bersambung ...
🌸
🌸
__ADS_1