Bukan Suami Impian

Bukan Suami Impian
Malam pertama yang terlambat.


__ADS_3

🌸


🌸


Reno dan Viona sudah sampai di sebuah tempat yang jauh dari kata mewah dan mahal seperti yang tadi di pinta sang istri.


Hanya warung bakso yang memang tempatnya tidak terlalu luas, tapi terlihat bersih dan nyaman.


Ada tempat yang di sediakan tanpa kursi, atau lesehan, dengan sebuah meja kecil sebagai tempat meletakkan makanan yang nantinya di pesan pengunjung.


Begitu menyelesaikan sholat Maghrib, keduanya segera meluncur dengan menggunakan mobil milik Viona, dan tentu saja Reno yang menyetir.


Ternyata sang istri hanya ingin makan malam bakso yang ada di pinggir jalan. Setelah memesan dua porsi bakso komplit dan es jeruk, Reno menggandeng tangan Viona, mengajak duduk lesehan.


Tempat itu cukup ramai, dan hampir penuh tempat duduknya. Reno duduk di seberang sang istri, biar bisa leluasa menatap wajah cantiknya. Dalam hati pria muda itu kesal, karena mata beberapa pengunjung pria tampan menatap penuh kekaguman kepada Viona.


Memang untuk tempat yang biasa seperti ini, kedatangan Viona begitu aneh, karena tidak hanya wajahnya yang memiliki kecantikan di atas rata-rata, juga tubuh Viona memang ramping dan seksi.


Meskipun saat ini hanya memakai celana jeans dan juga kaos lengan panjang, tan mengurangi kadar keseksian istrinya.


"Ck." Tanpa sadar Reno berdecak kesal, ingin rasanya mencolok mata pria-pria genit itu, padahal mereka datang dengan pasangan masing-masing.


"Ada apa, Mas?" tanya Viona heran, dahinya berkerut menatap wajah suaminya yang terlihat kesal dan juga masam.


"Dasar mata keranjang." Reno kesal.


"Siapa?"


"Kamu lihat pria-pria itu, air liurnya hampir menetes melihat kamu," ucap Reno, dia menatap tajam pria yang tertangkap basah sedang mengagumi Viona.


Viona tertawa kecil, dia mengusap punggung tangan suaminya, menenangkan."Biar saja, yang penting aku tidak menanggapi."


"Tetap saja, aku kesal Sayang. Ingin rasanya aku colok mata mereka, sudah bawa pasangan sendiri masih juga melirik punya orang lain."


"Aku hanya milikmu."


"Hemm, manis sekali istriku." Reno menatap Viona penuh cinta, kalo saja bukan tempat umum, sudah pasti di terkamnya sang istri, menikmati bibir tipis yang manis bagai buah Cherry.


"Memang kamu baru sadat, kalo aku manis dan cantik." Viona mengibaskan rambutnya yang dikuncir satu itu, membuat Reno tergelak.


Pesanan mereka akhirnya datang, dan segera mereka santap tanpa banyak bicara. Menikmati bakso yang memang cukup enak dan patut di rekomendasikan. Rasanya enak dan harga yang tidak menjebolkan kantong.


*

__ADS_1


*


Tepat pukul sembilan malam, keduanya sampai di rumah, Reno langsung merebahkan tubuhnya di ranjangnya setelah mengganti baju dengan boxer dan kaos putih polos. Membuka ponsel, ingin melihat postingan dari teman-temannya di dunia Maya.


Sesekali dia melirik pintu yang masih tertutup, dan sang istri belum kembali, setelah pamit ke kamar mandi.


Reno tersenyum tipis, membayangkan betapa manis istrinya yang sekarang sudah benar-benar takluk kepadanya. Walaupun belum seutuhnya menyerahnya diri, tapi sudah lumayan, Viona tak segan lagi menggelayut manja di lengannya, ketika mereka berjalan tadi.


Ceklek ...


Suara pintu yang terbuka dari luar, tak urung membuat Reno mendongak penasaran, dan matanya sontak melotot saat melihat sang istri.


Menelan salivanya melihat penampilan Viona yang benar-benar membuat jiwa kelelakiannya bergejolak.


Wanita muda itu benar-benar seksi dengan lingerie warna hitam, yang hanya melindungi area sensitif istrinya.


Reno benar-benar panas dingin, seumur hidup baru kali ini melihat tubuh wanita nyaris telanjang.


Viona berjalan mendekati suaminya dengan langkah anggun dan percaya diri, begitu sampai di sisi ranjang, dia merangkak naik ke atas ranjang, dan tanpa malu dan canggung naik ke atas tubuh suaminya, mengecup bibir Reno yang masih membeku.


Viona menjauhkan wajahnya dan tersenyum, meraih ponsel yang masih ada di genggaman Reno, meletakkannya asal di atas nakas kecil, disebelah Ranjang.


"Sa-sayang ... " Reno terbata-bata.


"Maksudnya ..."


"Kamu boleh memiliki aku, Mas. Sepenuhnya." Bisik Viona lagi.


Tak membuang waktu, Reno segera membalik posisi hingga sang istri berada di bawah Kungkungannya.


Reno mengecup bibir istrinya, dan entah bagaimana awal mulanya, dari kecupan berubah menjadi ******an yang panas dan menuntut.


Reno yang sudah menahan Hasrat kepada sang istri hampir satu bulan lebih, bagaikan musafir yang baru saja melihat air. Begitu rakus mencumbu Viona, seolah-olah ingin dia nikmati tanpa bersisa.


Viona membalas ciuman suaminya yang sudah sangat panas dan menuntut, walaupun keduanya belum berpengalaman, tapi bisa saling mengimbangi.


Jemari tangan kiri Reno mulai bergerilya, merayap menjelajahi tubuh mulus nan wangi milik Viona, dari perut yang masih rata dan ramping, naik dan berlabuh pada dua gundukan kenyal Viona yang sudah lama membuatnya penasaran, bagaimana bentuk dan rasanya.


Bibir Reno sudah turun ke leher jenjang Viona, mengecup basah leher mulus dan wangi itu, sesekali menggigitnya kecil, dan membuat Viona mengeluarkan desa*han tanpa terasa.


Tak sabar Reno menurunkan lingerie yang di pakai istrinya hingga ke perut, dan gundukan kenyal itu terpampang nyata dalam lindungan bra warna hitam berenda.


Dengan gemetar, Reno membenamkan wajahnya pada belahan dada Viona, dan wanita itu kembali meleng*uh, tubuhnya terasa seperti melayang karena sentuhan suaminya.

__ADS_1


"Sayang, apa aku boleh melakukannya?" Reno memastikan lagi, sebelum terlalu jauh menyentuh istrinya.


Viona mengangguk dengan mantap, dia juga sudah terlanjur ingin merasakan yang lebih lagi. Reno turun dari Ranjang, dan melepas semua pakaiannya tanpa sisa.


Mata Viona membola, melihat tubuh polos suaminya yang begitu seksi dan menggoda iman. Mata nakalnya tiba-tiba turun ke bawah, dan melihat junior Reno yang sudah menegang, dan terlihat begitu besar dan gagah.


Viona menelan salivanya, membayangkan benda itu akan masuk ke dalam miliknya, apa akan muat?


Reno kembali mengungkung sang istri, dan segera melepas semua pakaian Viona tanpa sisa, hingga tubuh polosnya begitu memanjakan mata suaminya.


"Apa kamu sudah siap?" bisik Reno, sambil menggigit daun telinga Viona.


"Hemm, apa rasanya sakit?" tanya Viona dengan polos.


"Maaf Sayang, aku juga tidak tahu, karena juga baru kali ini akan melakukan ini, tapi, aku akan berusaha selembut mungkin." kata Reno.


Viona menatap wajah suaminya, seakan ingin memastikan, apa yang dia ucapkan tidak berbohong sama sekali.


"Kalo kamu masih ragu, dan belum siap, tidak apa-apa, aku akan sabar menunggu." Reno sudah bersiap untuk beranjak, tapi Viona segera mencekal lengannya dan menggelengkan kepala.


"Lakukan, Mas. Aku siap dan ikhlas."


Reno tersenyum." Makasih, Sayang."


Reno memulai lagi mengecupi seluruh wajah Viona, dan tangan yang bergerilya, merayap, menjelajahi tubuh mulus nan seksi istrinya, Viona memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan yang di berikan suaminya.


Hingga dia merasakan benda yang aneh, menerobos masuk ke bagian intimnya, membuat matanya membelalak dan tanpa terasa menggigit bahu suaminya.


"Aah ..." Viona mencengkam punggung Reno, dan tentu saja kuku panjangnya menancap di kulit Reno.


Sejenak Reno menghentikan aktivitasnya, membiarkan tubuhnya dan tubuh sang istri saling menyesuaikan diri, lalu segera memacu tubuhnya dengan pelan dan lembut, seakan-akan Viona adalan kaca yang bisa pecah bila dia terlaku kasar memacu.


Keduanya bergelung dalam hasrat dan juga kenikmatan duniawi yang baru pertama kali mereka rasakan, hanya desah*an dan juga lenguh*an yang mendominasi kamar mereka, peluh bercucuran di malam yang dingin ini.


Hingga akhirnya keduanya meleng*uh bersama-sama, saat gelombang kenikmatan menggulung keduanya tanpa ampun dan tanpa sisa.


*Bersambung...


Jangan lupa klik like, love dan komen 🤭🤭


🌸


🌸*

__ADS_1


__ADS_2