Bukan Suami Impian

Bukan Suami Impian
Sang mantan meradang.


__ADS_3

🌸


🌸


Viona sedang tiduran di sofa ruang tamu dengan ponsel yang ada di tangannya, sudah satu jam lebih Reno belum juga kembali, dan dia merasa bosan. harusnya tadi dia menerima ajakan sang suami untuk ikut.


Thing ...


Notifikasi pesan masuk dari ponsel yang dia pegang, dan muncul nama MAS RENO, yang sudah mengirimkan pesan lewat aplikasi hijau.


Maaf Sayang, aku belum bisa pulang, satu jam lagi aku usahakan sampai di rumah.


Bibir Viona mengerucut, kesal sekali dia membaca pesan dari Reno.


"Terserah kamu deh, mau pulang apa nggak!" balas Viona.


Jangan marah Sayang, ada pekerjaan yang harus di tangani di sini, dan hanya aku yang bisa menanganinya.


"Aku bosan tahu nggak sih, tahu gitu aku tadi ikut."


"Iya maaf, nanti malam kita makan malam di luar, gimana?"


"Hemm ... "


Pilih restoran mana aja yang kamu mau.


"Beneran?"


"Iya ... "


"Memang punya uang?"


"Insyallah ... "


"Ok, nanti aku pilih restoran yang mahal ya?"


Terserah tuan putri saja.


"Gombal." pipi Viona merona, untung saja Reno tidak ada di dekatnya, bisa jatuh harga dirinya.


Ya sudah, tunggu aku pulang ya, pesanan bakso pasti aku bawakan.


Viona tersenyum malu, hatinya tiba-tiba berbunga dan membuncah, seperti ABG yang baru merasakan jatuh cinta. bagaimana mungkin dia tidak akan jatuh cinta dengan pria itu.


Tok ... tok ... tok ...


Lamunannya buyar saat mendengar ada yang mengetuk pintu, dengan dahi berkerenyit dia beranjak menuju pintu.


"Sebentar." teriak Viona, lalu membuka pintu, agak shock saat melihat Amira yang sudah berdiri di depan pintu, bersidekap dan menatapnya sinis.


"Kamu? ada apa?" tanya Viona ketus, dia ikut melipat kedua tangannya di depan dada, sambil menyandarkan bahu kanan pada bingkai pintu.

__ADS_1


"Hanya ingin mengenal, seperti apa wanita yang jadi istri Mas Reno." kata Amira sinis.


"Oh ya, untuk apa?"


"Tentu saja untuk memastikan bahwa kamu bukan saingan aku," kata Amira lagi, penuh percaya diri.


Viona tertawa kecil, meremehkan.


"Kamu punya kaca nggak sih, sok percaya diri banget mau kembali sama suami aku."


Amira melotot." Kalian menikah karena di jodohkan, sedang aku dan mas Reno saling mencintai ... "


"Itu dulu, sebelum kamu menikah kan?" ejek Viona.


"Mungkin sampai detik ini mas Reno masih mencintai aku, dia hanya marah sama aku karena aku tinggal nikah." penuh percaya diri Amira terus berkata.


" Oh ya, kenapa repot- repot melapor sama aku?" Viona tertawa kecil, baru kali ini dia bertemu dengan wanita yang tingkat kepercayaan dirinya sangat besar.


"Biar kamu sadar, kalo mas Reno tidak akan bisa mencintai kamu, seperti dia mencintai aku."


"Nanti biar aku tanya sama dia, apa benar masih mencintai kamu."


"Tentu saja mas Reno akan berkelit, jangan jadi wanita bod*h yang mengharap cinta pria yang masih mencintai wanita lain "


Viona tak bisa lagi menahan amarah, karena wanita itu terus menerus mengoceh, dan menyulut api amarah yang sedari tadi dia tahan.


"Sudah mengocehnya?" tanya Viona.


Amira tersenyum mengejek, dia pikir Viona akan terintimidasi dengan semua ucapannya.


Wanita itu tampak marah, kedua tangannya mengepal, siap untuk menonjok muka Viona.


"Tentu saja Reno lebih memilih aku, karena apa? aku masih muda, aku cantik, modis, menarik dan yang lebih penting ... aku masih perawan, bukan janda seperti kamu."


"Kurang ajar!" bentak Amira, tangan kanannya terayun dan siap melayang ke pipi Viona, tapi dengan cepat di tangan oleh Viona.


"Jangan pernah menyentuh kulitku dengan tangan kotor kamu ini, kamu pikir aku siapa? pergi dari sini!" teriak Viona, seraya menghempaskan tangan Amira kasar.


"Aku tidak akan menyerah, mas Reno pasti akan kembali kepadaku. kamu ingat itu." Amira berbalik dan meninggalkan Viona yang tersenyum penuh kemenangan.


***


"Sayang, kamu sudah tidur," Reno memegang bahu Viona yang tertidur di ranjang kamar.


"Hemm ... " Viona menggeliat, dan tanpa sengaja dia malah menarik tubuh Reno, dan memeluknya erat, mungkin dalam bayangan Viona, Reno adalah guling.


Reno membeku, aroma tubuh Viona yang harum, dan kulitnya yang lembut, membuatnya seakan-akan berhenti bernapas."Sayang ... " bisik Reno, tak berani membalas pelukan istrinya, karena takut dia akan marah.


"Katakan kamu mencintai aku Mas," guman Viona dengan mata terpejam, dia bahkan menyurukkan wajahnya ke leher Reno, membuat pria itu semakin tersiksa.


"Iya, aku mencintai kamu Sayang." bisik Reno, memberanikan diri mengecup pucuk kepala istrinya.

__ADS_1


"Kamu tidak mencintai Amira kan?" tanya Viona lagi, semakin mengeratkan pelukannya.


"Tentu saja tidak, dalam hatiku hanya ada nama Viona Karisma, istriku yang paling cantik dan seksi." Reno tersenyum, apa mungkin Viona cemburu, hingga terbawa ke dalam mimpi.


"Hemm, baiklah aku percaya." tiba-tiba Viona mengecup pipi Reno sekilas, lalu beranjak bangun, membuat Reno melongo.


"Hah, kamu tidak tidur?"


Viona tersenyum kecil. " tadi tidur, tapi terbangun karena kamu mengusik aku," kata Viona dengan bibir mengerucut.


"Hemm, jadi pelukan tadi ... dalam keadaan sadar kan?" tanya Reno, dia tersenyum geli.


"Pelukan yang mana?"


"Ciuman tadi, sadar juga kan?" kejar Reno lagi, hatinya menghangat, karena Viona sedikit demi sedikit sudah mulai mencair.


Pria itu memegang pipi yang tadi sempat merasakan hangatnya bibir Viona. senyumnya mengembang sempurna.


"Ngapain senyum-senyum." Viona berdiri, mengikat Rambut panjangnya asal.


"Menikmati ciuman dari istriku tercinta."


"Huh, gitu aja sudah senang."


"Kalau saja aku ... "


"Jangan bilang kamu ingin di cium Amira juga!" Viona melotot marah, bertolak pinggang di depan Reno yang duduk di bibir ranjang.


"Hah, kenapa jadi bahas Amira sih, dia nggak ada hubungannya dengan kita, Sayang." dahi Reno berkerut.


"Adalah, dia kan mantan terindah kamu, memang kamu menjanjikan apa sama dia?"


"Nggak ada Sayang." Reno menatap gemas wanita yang cemberut itu, menambah kadar kecantikannya saja.


"Lalu ... "


"Aku tadi mau bilang, seandainya saja aku boleh membalas kecupan kamu, pasti tambah bahagia hidupku." Reno berdiri, lalu mengulurkan kedua tangannya memegang bahu Viona agak ragu.


"Eh, mau apa?" Viona sontak mundur, hingga tangan Reno yang terulur gagal mendarat di bahu mulus yang terbuka itu.


"Hanya ingin pegang pundak."


"Nggak boleh." kata Viona galak.


"Kamu curang." Reno ganti merajuk, dia pergi meninggalkan Viona yang terpaku di samping ranjang.


"Curang kenapa?" tanya Viona polos, dia bergegas mengikuti langkah suaminya yang keluar dari dalam kamar.


"Kamu seenaknya menyentuh aku, tapi aku tidak boleh sedikitpun menyentuh kamu."


*bersambung...

__ADS_1


🌸


🌸*


__ADS_2