
Keesokan harinya seorang bapak-bapak kemarin di tolong Rion pun kembali ke jalan dekat sekolah Rion, tapi bapak itu sekarang tidak sendirian dia di temani seorang supir, lalu dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan yang tidak terlalu jauh dari sekolah Rion.
"Sudah sampai pak".Kata supir bapak tersebut.
"Baiklah terimakasih". Kata bapak tersebut kepada supirnya.
"Maaf pak apakah anda serius mau menunggu di mobil seperti ini?".tanya supir bapak tersebut.
"Tentu aku sengaja mencari tempat parkir mobil yang tidak terlalu jauh dengan sekolah anak itu dan juga tidak terlalu dekat agar tidak ketahuan anak itu". Kata bapak tersebut menjelaskan.
"Begitu ya pak, memangnya ada apa dengan anak itu pak, bapak sepertinya penasaran sekali, sampai mencari tahu seperti ini?". Tanya supir bapak tersebut.
"Tidak apa-apa, hanya saja aku merasa tidak asing dengan anak itu, maka itu aku ingin mencari tahu tentang anak itu, siapa dia sebenarnya". Jawab bapak tersebut sambil melihat ke arah gerbang sekolah Rion.
"Apa serius bapak mau menunggunya sampai anak itu pulang sekolah, ini masih pukul 09.00 pagi pak?". Tanya pak supir tersebut sambil melihat ke arah jam tangannya.
"Tidak apa-apa aku serius aku ingin tahu tentang anak itu, berapa lama pun waktunya aku akan menunggu anak itu sampai pulang sekolah". Jawab bapak tersebut sambil terus menatap ke arah gerbang sekolah Rion.
*
*
*
*Sementara itu di dalam sekolah Rion*
Tepatnya di dalam kelas Rion, Rion yang sedang serius melihat ke arah guru yang sedang menjelaskan mata pelajarannya tiba-tiba dia merasakan ada seseorang yang menepuk pundaknya dan orang itu adalah Radit teman sebangkunya.
"Hei Rion". Kata Radit sambil berbisik.
"Ada apa?. Tanya Rion pada Radit.
"Istirahat nanti kamu mau ikut gak dengan kami". Ajak Radit pada Rion sambil berbisik.
"Mau kemana?". Tanya Rion lagi sambil berbisik.
"Kita mau ke kafe yang baru buka dekat sekolah, kamu mau ikut kan!". Tanya Radit pada Rion.
__ADS_1
"Emang siapa saja yang ikut?".Tanya Rion lagi sambil berbisik.
"Ada aku, Acep, Doni,Andri, Irvan, dan Joni akan ke sana". Jawab Radit.
"Baiklah kalau begitu aku akan ikut dengan kalian". Kata Rion sambil berbisik.
"Hore". Kata Radit semangat dan tanpa sadar suaranya pun terdengar jelas sampai teman-temannya yang lain pun melihat ke arah Radit.
"Hei Radit kamu ngapain?".Tanya Rion berbisik.
"Ada apa emangnya?". Tanya Radit pada Rion.
"Lihatlah sekitar". Kata Rion.
Setelah melihat ke sekitar Radit pun baru sadar dengan apa yang dilakukannya hingga semua teman-teman sekelasnya melihat ke arah dia termasuk guru yang sedang menjelaskan di depan kelas.
"Astag ****** aku". Kata Radit yang sudah berkeringat.
"Radit kenapa kamu berteriak seperti itu?". Tanya guru yang sedang mengajar di kelas.
"Ah iya Bu maaf aku berteriak kencang karena saking senangnya Bu". Kata Radit yang menahan malu juga rasa takut karena di tegur oleh guru yang paling killer.
"Baiklah kalau begitu ibu mau tanya padamu, pada jaman penjajahan dulu ada sebuah konferensi yang dinamakan konferensi meja bundar, nah yang ingin ibu tanyakan kenapa di sebut konferensi meja bundar?"
"Aduh ****** aku, dari tadi aku tidak memperhatikan karena ngantuk". Kata Radit dalam hatinya.
"Cepat Radit jawab". Kata guru tersebut.
"Itu karena.. hehehe". Kata Radit yang ingin menjawab tapi ragu-ragu karena dia tidak tahu jawabannya.
"Cepat jawab Radit". Kata guru tersebut sambil mendesak Radit untuk menjawabnya.
"Menurutku Bu, kenapa waktu dulu ada sebuah konferensi bernama konferensi meja bundar, itu karena mereka melakukan rapatnya di sebuah meja yang berbentuk bundar Bu, maka dari itu disebut konferensi meja bundar karena mejanya bulat". Kata Radit asal.
Jawaban dari Radit itu malah membuat teman-teman sekelasnya menertawakan jawaban Radit itu.
"Aduh Radit mereka emang melakukan rapat itu di meja yang berbentuk bundar tapi bukan itu maksudnya Radit". Kata guru tersebut sambil emosi.
__ADS_1
"Makanya kalau ibu menerangkan kamu perhatikan". Lanjut guru tersebut.
Teman-teman sekelasnya pun masih tertawa.
"Ya sudah tugas untuk Minggu depan kerjakan tugas esai yang ada di buku paket kalian halaman 20-21, di kumpulkan minggu depan di meja ibu". Tegas guru tersebut.
"Yah banyak Bu ini mah". Kata Acep mengeluh.
"Tidak ada bantahan kalian kerjakan saja". Kata guru tersebut.
Bel sekolah pun berbunyi saatnya waktunya istirahat bagi mereka.
"Ya sudah kalau gitu ibu pamit dan jangan lupa kerjakan. tugas yang ibu berikan". Kata guru tersebut sambil berlalu pergi dari kelas.
Akhirnya mereka pun berhamburan keluar kelas untuk mengisi perut mereka.
"Wah akhirnya kelar juga pelajaran sejarah bikin ngantuk". Kata Radit.
"Itu sih kamu, lagi pula kamu ada-ada aja jawabannya tadi hahaha". Kata Doni sambil tertawa.
"Diam kamu aku tadi kebingungan tahu". Kata Radit sebal.
"Suruh siapa kamu tadi berisik banget". Kata Joni.
"Iya ya". Jawab Radit masih kesal.
"Ya sudah jadi kan kita ke kafe di dekat sekolah itu!" Tanya Andri.
"Jadi dong". Kata Radit semangat.
"Urusan makanan aja kamu semangat". Kata Acep.
"Biarin seterah aku dong". Kata Radit.
"Sudah-sudah ayo cepat keburu penuh kafenya karena kan mereka baru buka pasti banyak murid-murid di sekolah ini yang datang ke kafe itu". Kata Andri menengahi mereka.
"Ayo keburu kita kehabisan meja dan bangku". Kata Rion.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun keluar gerbang sekolah mereka menuju kafe tersebut, tanpa Rion dan kawan-kawannya ada seseorang yang sedang mengamati mereka dari jauh, terutama Rion.
*Terimakasih bagi kalian yang sudah membaca novel saya ini, maaf bila ada kata-kata yang salah atau tidak jelas, terimakasih untuk kalian semua bagi yang mau membacanya* πβΊοΈ