
Saat Rion mengetuk pintu rumahnya dan ada seseorang yang membukakan pintu rumah Rion. Seorang Bapak dan sopirnya yang mengikuti Rion tadi tiba-tiba terperangah kaget karena bunyi handphone bapak tersebut. Akhirnya bapak tersebut pun langsung menjauh dari gang tersebut dan langsung mengangkat telponnya.
Sopir tersebut pun heran, ada apa sebenarnya dalam hati sang sopir tersebut. Setelah beberapa menit menelepon kemudian bapak tadi pun kembali dan melihat ke rumah tadi tapi Rion sudah tidak ada yang tandanya dia sudah masuk ke dalam rumah, gagal sudah untuk melihat siapa yang membukakan pintu tadi. Akhirnya bapak tersebut pun menanyakan pada sopir tersebut.
"Loh anak tadi kemana?" .Tanya bapak tersebut pada sang sopir.
"Eh tadi sih aku kurang jelas pak soalnya keburu melihat bapak yang buru-buru mengangkat telepon". Jawab sang sopir tersebut.
"Aduh dikirain saya kamu terus lihatin dia, hilang sudah harapan untuk melihat siapa yang membukakan pintu rumahnya". Kata bapak tersebut lesu.
" Emangnya kenapa pak, bapak sepertinya penasaran sekali dengan anak tadi, apakah bapak mengenalnya?". Tanay sang sopir tersebut.
"Tidak, aku hanya penasaran saja siapa anak itu sebenarnya aku merasa tidak asing saja melihat wajahnya, ya sudah kita kembali ke kantor saja, tadi sekretaris ku menelepon karena ada meeting dadakan hari ini". Kata Bapak tersebut.
"Baik pak kalau begitu kita kembali ke dalam mobil". Kata sopir tersebut yang menurut pada perintah tuannya itu.
Akhirnya mereka pun masuk ke dalam mobil dan pergi dari rumah Rion.
*
*
*
Keesokan harinya di sekolah Rion.
Rion yang baru tiba di sekolah sudah di sambut hangat oleh sahabatnya itu yaitu Radit yang sedang menunggunya di depan gerbang sekolah.
"Halo pagi bro". Sapa Radit sambil melambaikan tangannya.
"Halo Radit pagi ". Sapa Rion balik.
Mereka berdua pun jalan berbarengan menuju kelas mereka sambil sedikit mengobrol.
"Hei Rion gue masih kebayang nih". Kata Radit yang memulai obrolan.
__ADS_1
"Kebayang apaan?". Tanya Rion.
"Kebayang makanan yang di kafe tersebut, enak banget soalnya". Kata Radit sambil membayangkan.
"Lah dikirain aku kamu lagi membayangkan makanan masakan ibu kamu hahaha". Kata Rion sambil tertawa kecil.
"Bukan ko, kalau masakan ibu sih tetap no 1 di hati, yang di kafe no 2 hahaha". Kata Radit sambil tertawa terbahak-bahak, membuat orang-orang yang melihat Radit membatin dalam hati.
"Itu anak kayaknya udah gak waras ya". Ya begitulah pikiran dan hati yang melihatnya.
Mereka pun melewati lapangan olahraga sekolah mereka, dan melihat para senior mereka atau kakak kelas mereka, mengisi pagi dengan bermain basket bersama teman-temannya.
Saat mereka sudah menaiki tangga dan akan menuju kelas mereka Rion yang melihat ke arah lapangan sekolah tersebut, melihat sebuah bola basket yang akan mengarah ke seseorang yang sedang berjalan di pinggir lapangan, para kakak kelas yang di lapangan pun belum menyadari kalau bola basket tersebut akan mengarah ke arah seseorang yang sedang berjalan di pinggir lapangan, Rion pun segera bernisiatif untuk menolong orang tersebut.
Dia pun melihat keadaan sekitar di rasakan cukup aman dia pun mengeluarkan sedikit kekuatan listrik di tangannya lalu Rion pun melihat ke arah depan dia yang ternyata Radit terus berbicara tanpa menyadari Rion tidak di sampingnya dan Radit pun masuk ke kelas dengan kondisi masih seperti bicara sendiri.
Di rasa cukup aman dan Radit udah masuk ke dalam kelas, akhirnya Rion pun menggunakan kekuatannya dan mengatakannya ke bola basket, untuk mementalkan bola basket tersebut. Dan yang di lakukan Rion pun berhasil bola tersebut pun terpental dan tidak kena ke seseorang tersebut.
Para senior yang baru menyadarinya pun terkejut untungnya bola tersebut tidak kena ke orang tersebut dan mereka pun bernafas lega.
Tanpa Rion sadari bahwa yang di tolongnya adalah Riska teman sekelasnya. Riska pun tidak menyadarinya karena tadi Riska jalan dengan menunduk karena sedang membenarkan blazer sekolahnya.
Kondisi Radit yang masuk ke dalam kelas sambil bicara sendiri dan di perhatikan oleh semua penghuni kelas.
"Jadi lo tahukan kalau gue ...". Kata Radit panjang lebar, karena merasa ada Rion di sampingnya.
"Hei Radit Lo udah gak waras ya". Kata Acep.
Radit pun tetap melanjutkan pembicaraannya dan menghiraukan kata Acep.
"Loh kok Radit bicara sendiri!". Tanya Doni.
"Mungkin dia sudah tidak waras, wah harus di ruqyah nih anak". Kata Acep menjawab pertanyaan Doni.
"Hei Radit kamu masih waras kah !". Tanya Acep dengan suara keras pada Radit.
__ADS_1
Radit pun menghentikan bicaranya dan menengok ke arah Acep karena mendengar Acep berteriak memanggilnya.
"Apa sih Lo Acep manggil gue teriak-teriak?". Tanya Radit kepada Acep dengan posisi masih di depan kelas.
"Halo aku tadi nanya kamu masih waras kah soalnya tadi aku lihat kamu kayak bicara sendiri gitu dari tadi, kita semua yang di kelas melihat Lo kebingungan plus bengong berjamaah". Jawab Acep panjang lebar.
"Gak ko aku tadi bareng sama Rion". Jawab Radit sambil menunjuk ke arah samping dia.
"Mana?". Tanya Acep.
Pas Radit menengok ke arah sampingnya dia pun baru menyadari kalau Rion dari tadi tidak ada di sampingnya.
"Loh dia tadi ada kok kemana ya". Jawab Radit bingung.
Tidak berapa lama Rion pun datang.
"Pagi teman-teman". Sapa Rion pada semua teman-teman sekelasnya.
"Pagi". Jawab mereka semua.
"Nah ini dia". Kata Radit sambil menunjuk ke arah Rion.
"Ada apa?". Tanya Rion kepada Radit.
"Lo tadi kemana aja, tadi gue dikira orang gila karena bicara sendiri". Jawab Radit kesal.
"Eh hehehe maaf aku tadi abis ke toilet". Jawab Rion sambil tersenyum kecil.
Radit pun masih sebal, akhirnya bel sekolah pun berbunyi, Rion dan Radit pun langsung duduk di bangku mereka. Tidak berapa lama Riska pun datang dan duduk di bangkunya.
Dan seorang guru pun datang ke kelas mereka dan memulai pelajaran.
Tidak jauh dari gedung sekolah ada seseorang yang mengawasi di dalam sebuah mobil.
*Terimakasih bagi yang sudah mau membaca cerita saya ini*🤗☺️
__ADS_1