
Setelah mendapatkan notifikasi transfer uang dari Daniel, dan mengecek jumlahnya tepat, Nanang dan Intan tidak membuang waktu lebih, keduanya keluar.
Keduanya mengendarai mobil dan pergi ke pinggiran kota Teng, daerah pinggiran kota di dekat bukit, adalah kawasan villa mewah. Nanang memiliki sebuah villa seluas 500 meter², villa 3 lantai itu adalah hadiah dari kakeknya saat ulang tahun kedewasaannya.
Di Negara Api, dalam kebiasaan yang sudah turun menurun, biasanya pria dianggap dewasa saat memasuki umur 18 tahun, sedangkan wanita pada umur 16 tahun. Umumnya para bangsawan lokal maupun bangsawan di ibukota mengadakan pesta kedewasaan saat anak mereka memasuki umur yg tepat, pesta itu umumnya mewah, dan hanya mengundang anak-anak dari keluarga kaya, politisi, pejabat, dan militer yg berpengaruh, semakin banyak undangan yang hadir, semakin menunjukan tingkat kebangsawanan mereka. Itu menandakan status mereka sebagai orang kaya terpandang.
Nanang mendapatkan villa itu saat ulang tahunnya yg ke- 18, tapi keluarga Nanang tidak mengadakan pesta kedewasaan layaknya orang kaya lainnya, itu karena Nanang menolaknya. selain itu, dengan status tinggi keluarga mereka, tanpa perlu pesta pun tak akan ada orang yang meragukan kebangsawanan mereka.
Mobil melaju dan berhenti di sebuah villa,
ini adalah villa bergaya Eropa dan ada air mancur Romawi di taman dan kolam ikan. Tamannya dipenuhi dengan bunga, ada banyak jenis spesies bunga, selama akhir musim semi saat ini, mawar adalah yang paling semarak. Selain bunga, ada juga beberapa jenis tanaman merambat.
Sudah jam 1 pagi saat mereka datang, keduanya disambut oleh Mang Sanya yang menjaga villa, beliau adalah kepala pelayan villa yang mengurus villa bersama beberapa pelayan yg bekerja sebagai pembantunya.
"Alola, Tuan Muda dan Nona Intan."
"Alola, Mang Sanya."
Nanang dan Intan membalas sapaan alola dari Mang Sanya, lalu Mang Sanya membawa keduanya masuk, dia sudah menyiapkan teh jahe merah hangat. Teh jahe bagus untuk menghangatkan badan, apalagi ini sudah dini hari dan udaranya sangat dingin.
Nanang menginstruksikan beberapa hal pada Mang Sanya dan lalu membawa Intan ke sebuah kamar, setelah itu dia pergi ke kamarnya sendiri.
Keesokan harinya, Intan bangun dan berjalan kebawah dia disambut, oleh Mang Sanya dan menanyakan apakah ingin sarapan terlebih dahulu atau menunggu tuan muda bangun untuk sarapan bersama, Intan memilih sarapan bersama, oleh karena itu sambil menunggu Nanang ia berjalan keluar mengitari halaman villa yg luas.
Di halaman depan villa, ada banyak bunga, dan banyak mawar yg bermekaran. Intan berjalan ke samping melihat beberapa buah buahan seperti strawberry dan tomat, ada juga kolam dengan air mengalir yg didalamnya terdapat beberapa jenis ikan, seperti ikan mas, gurame, sepat, dan nila. Melihat bagian belakang villa dan menemukan ada ladang luas dan banyak sayuran di halaman belakang, ini seperti gaya hidup pedesaan. Ini sangat menarik bagi Intan.
"Intan." Seseorang memanggil.
Intan berbalik dan melihat Kakaknya atau kekasihnya dan tersenyum menyapa.
'Brother Nanang.'
__ADS_1
'Aku hanya melihat sekeliling dan serasa melihat ladang di pedesaan.'
Nanang mengangguk dan berkata:
"Betul sekali, lingkungan villa ini memang di desain sesuai gaya pedesaan dengan udara segar alami, dan bahan makan organik yang bisa dipetik dari tanah di halaman sekitar."
'Perlu cukup lahan untuk menanam bunga dan sayuran, serta ruang untuk beternak dan kolam ikan bukan?'
"Benar, dulunya ini adalah lapangan golf, setelah di beli dan dibangun villa ada banyak tanah yang menganggur, jadi aku merubah lapangan golf menjadi lahan pertanian."
"Saat ini, ada banyak anak di desa tapi tidak tahu cara bertani dan bercocok tanam di ladang, yg lahir di kota bahkan lebih banyak tidak tahu. Mereka sebagian bahkan mencibir profesi bertani yang sesungguhnya profesi mulia. Tanpa Petani, mereka akan mati kelaparan."
Intan mengangguk mengiyakan.
'Ehm, sangat jarang menemukan ladang di perkotaan.'
"Saat ini, pertanian tidak harus dilakukan di desa, di kota pun bisa selama memiliki halaman rumah."
"Sayuran disini ditanam tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya, sayuran disini sangat sehat karena ditanam menggunakan pupuk organik, dan bebas hama serangga karena sulit menemukan hama serangga yg mengganggu di kota. Keluarga kami di kota Tang menggunakan sayuran yg ku tanam disini sebagai makanan keluarga, sisanya untuk pekerja di sini dan sebagian lainnya disumbangkan untuk anak yatim piatu di panti asuhan."
'Aku tidak tahu kalau brother Nanang ternyata senang bercocok tanam ..'
"Ehm, bercocok tanam sangat menyenangkan, memberikan ketenangan pada hati dan pikiran."
'Apakah ada yg mengganggu pikiran brother Nanang sebelumnya?'
"Ada, Kamu."
Nanang pergi langsung masuk kedalam villa setelah mangatakan itu. Sementara Intan hanya memandang dengan tatapan aneh seolah mukanya berkata 'apa hubungannya denganku?', Intan melihat strawberry matang dan memetiknya, setelah merasakan, dia bergumam,
"Strawberry yang ditanam langsung memang yang terbaik dan lebih segar dan rasanya lebih asli dan asli! rasanya menyenangkan!" kata Intan sambil tersenyum.
__ADS_1
__________________
Intan dan Nanang sarapan bersama, di meja makan ada tempe goreng, ayam goreng, tempe goreng tepung, ayam goreng tepung, oreg kering, oreg basah, oreg dage, tahu goreng, ayam kecap, sop ayam, empal ayam, ayam rica-rica, ayam bakar, ayam suwir, nasi, botok dage, botok tempe, dan sayur lodeh.
Ayam goreng dan tempe goreng adalah makanan kesukaan keduanya, mereka berbagi selera lidah yang sama, rasanya menyenangkan memiliki teman makan yang seleranya terhubung. Yah, selama makanannya cukup, tidak akan ada rebutan makanan hehe..
Setalah makan pagi, dan beristirahat mengolah makanan diperut sejenak, Nanang mengajak Intan untuk berkeliling disekitar villa, keduanya keluar dari villa berjalan kaki, menikmati segarnya udara disekitar villa.
Keduanya terus berjalan sampai melihat seorang gadis muda yg menangis tersedu-sedu di atas jembatan di sungai, Lalu...
"Bukk...." gadis yang menangis melompat ke sungai.
"Akh, dia melompat!" Teriak Intan kaget.
Nanang langsung berlari melompat ke sungai, sungai itu berair tenang, tapi dalam. Nanang membawa si gadis ke tepian menyelamatkannya dari tenggelam.
Gadis yang diselamatkan menangis sambil terbatuk-batuk. Intan menghampiri, menatap kasihan.., tidak mungkin dia akan sengaja bunuh diri tanpa ada sebab, gadis itu pastinya sedang dalam kesulitan.
"Melompat ke sungai tidak akan menyelesaikan masalah, setiap masalah ada jalan keluarnya."
Intan menepuk punggung si gadis dan lanjut berkata.
"Kenapa kamu melompat, tidakkah kamu berpikir ibumu akan sedih?"
Si gadis hanya terdiam, dia berusaha mengumpulkan tenaga untuk berkata, tapi akhirnya tidak berkata.
"Kamu siapa? kenapa kamu melompat?" Intan kembali bertanya.
'Aku Mei, aku tidak ingin di jual... Aku putus asa dengan perjodohan dengan pria beristri.'
*Negara Api \= Negara fiksi di dunia Novel ini.
__ADS_1
*Alola \= Hai, halo, salam yang digunakan penduduk di novel ini.