CINCIN TANG

CINCIN TANG
22. Dadu Part 2


__ADS_3

"Saya suka orang kaya seperti anda yang mampu menanggung kerugian dan kekalahan, ayo kita lanjutkan judi." katanya dengan berani.


"..." Para penonton hampir berhenti bernapas. Ekspresi mereka juga membeku.


Mereka belum pernah melihat taruhan senilai satu miliar belly sebelumya, dan satu kali tidak cukup, maka selanjutnya dua kali! ini tontonan sekali seumur hidup.


Gadis Mei khawatir, jika Ayahnya kalah dia akan kembali menjadi miskin dan akan dijual pada Tuan Seven, jika Ayahnya menang maka ... bukankah dia akan menjadi lebih kaya ?


Tapi lalu apa? Dia tidak begitu yakin dengan kemampuan ayahnya, bagaimana pun Ayahnya sering kalah judi daripada menang !!


Gadis Mei bergegas masuk dan mencoba mengingatkan ayahnya.


"Ayah, kamu tidak boleh berjudi lagi! Ayah menginginkan uang dan sekarang kami sudah memiliki satu miliar kenapa kamu tidak berhenti saja ?"


Pak Tua Jang memelototi putrinya yang dia anggap bodoh dan mengutuk.


"Dasar bodoh! kamu ingin saya berhenti sekarang? Dia seorang pemula dan dia kaya. Keberuntungan saya sedang naik jadi saya pasti tidak akan kalah. selain itu, bahkan jika saya kalah, saya tidak akan kehilangan apapun Apakah kamu tidak mengerti ini ?"


Gadis Mei melihat ayahnya, dia tidak marah meskipun ayahnya memanggilnya 'bodoh'. dia hanya bisa tersenyum dengan dangkal sambil menghela napas dalam hati.


"Tapi Ayah ..."


Pak Tua Jang mendorong putrinya yang ia anggap menyebalkan ke samping.

__ADS_1


"Tidak ada tapi tapi, sekarang lebih baik kamu cepat-cepat menyingkir dan lihat Bagaimana ayahmu menangkan banyak uang."


Gadis Mei tidak berani mengatakan lebih banyak, tetapi dia diam-diam berdoa kepada Dewa agar ayahnya memenangkan putaran kedua. Jika ayahnya menang, mereka akan menjadi keluarga terkaya di Desa Kabut dengan kekayaan 2 miliar belly.


Ayahnya tidak bisa kehilangan uang.


Jika ayahnya kalah, nasibnya juga akan ditentukan, di jual ke Tuan Seven menjadi selir ketujuh dan istri kedelapan.


Pak Tua Jang bertanya pada Nanang.


"Siapa yang akan mengocok pertama untuk putaran kedua ?"


"Aku pergi dulu." Kata Nanang. Nanang tidak keberatan siapa yang pergi duluan atau siapa yang pergi belakangan. Mengambil cangkir dadu, dia mengocoknya dan kemudian meletakkannya kembali di atas meja.


Butir keringat mulai nampak terlihat di dahinya.


Dia hampir bisa merasakan tekanan darahnya naik ketika dia meletakkan tangannya di cangkir dadu jika dia menang dia akan mendapatkan 2 miliar di sakunya, jika dia kalah dia akan kehilangan 1 miliar belly. Itu jumlah kekalahan yang tidak bisa ia tanggung !!


Setelah dia mempersiapkan diri secara mental, dia mengambil cangkir dadu dan melihat titik yg muncul pada dadu. Dia merasakan jantungnya yg berdetak kencang karena gugup telah di gantikan dengan kesenangan.


Semua warga yang menonton menghela nafas.


"Satu, dua, empat, total 7 angka." Setelah membaca titik dan menjumlah ya menjadi angka, Pak Tua Jang tidak bisa menahan tawa sekali lagi

__ADS_1


"Hahahahahahahaha! Tuan Muda, anda tidak seharusnya berjudi dengan orang lain. Anda selalu mendapatkan angka yang rendah, jika Anda pergi kasino, Anda Bahkan tidak akan bertahan lebih lama dari sebatang dupa sebelum anda kehilangan segalanya."


Semua orang, "...."


Warga yg menonton setuju dengannya. Keberuntungan Nanang benar-benar buruk dan buruk. Dia selalu mendapat angka rendah selama dua putaran berturut-turut.


Hanya Intan yang menatap brother Nanang-nya dalam keheningan.


Brother Nanang ini ....


Dua kali berturut-turut dia mendapat angka rendah seolah-olah dia sengaja mengaturnya.


Ya, dia memang sengaja.


Apa motifnya?


Intan terlalu penasaran sekarang.


Nanang memandang Pak Tua Jang dan berkata.


"Kamu belum mengocok dan membuka cangkir dadumu, bisa jadi aku yg menang pada giliran ini.


*1 dupa \= Sekitar 15 menit

__ADS_1


__ADS_2