CINCIN TANG

CINCIN TANG
28. Dadu Part 8


__ADS_3

Pak Tua Jang yang baru saja menang taruhan berturut-turut, sangat bersemangat. Dia ketagihan menang dan tidak ada niat untuk berhenti sama sekali.


Kali ini Nanang mengambil cek senilai 8 miliar belly dan menaruhnya di samping di meja judi.


"Saya masih ingin bertaruh, tetapi saya ingin membuat taruhan yang lebih besar. 8 miliar belly !"


"Hah? Apa?" Dadu di tangan Pak Jang jatuh ke tanah, dan putranya Jajang buru-buru jongkok mengambil dadunya.


Yang hadir menonton pertunjukan juga tidak percaya.


"Tuan Muda, Apakah kamu kehilangan akal sehat ?!"


"Nona Muda, bujuk pacarmu untuk berhenti bertaruh, dia akan kembali kalah."


"Tuan Muda, kamu benar-benar telah kehilangan akal sehatmu."

__ADS_1


"Delapan miliar belly ... Kau pasti bercanda! ini cukup untuk membeli seluruh tanah di Desa Kabut dengan jumlah itu."


"Kamu bisa membeli rumah dua tingkat di Kota Teng lengkap dengan mobil dan perabotnya.


Seratus juta belly adalah jumlah yang cukup untuk orang biasa, apalagi 8 miliar belly, orang-orang biasa di Desa-desa kecil seperti Desa Kabut ini belum pernah melihat uang sebanyak itu.


Mereka terlalu miskin dan miskin.


Paling-paling warga Desa Kabut hanya memiliki beberapa juta dan jarang yang memiliki puluhan juta. Mereka bahkan tidak memenuhi syarat untuk makan daging setiap hari.


"Ayah, Ayah benar-benar harus mengakhiri ini, jangan berjudi lagi. Tidak baik menginginkan sesuatu yg lebih besar karena terlalu serakah. Ayah, akhiri saja sampai di sini, Ayah sudah untung besar, jangan berjudi lagi."


Pikiran Pak Tua Jang sudah di penuhi dengan hasrat menang berjudi, ia tidak bisa berhenti begitu saja saat uang besar di depan mata dan sensasi menyenangkan saat memenangkan taruhan, terlebih memenangkan taruhan besar yang ia bahkan baru pertama kali mencoba seumur hidupnya.


"Mei, Saya akan bertaruh untuk yang terakhir kalinya, hanya sekali ini saja, saat ayah memenangkan 8 miliar, lalu ayah akan berhenti, bagaimana dengan itu ?"

__ADS_1


"Tapi ..." Mei merasa ini adalah lubang tanpa dasar layaknya rokok filter yang membuat candu para perokok.


Dia memahami logika ayahnya yang merasa bahwa 'ada gunung emas di depannya, dan bodoh jika membiarkannya tanpa di ambil.'


Tapi bagaimanapun juga, berjudi selalu dianggap hal negatif, ayahnya sering kalah pada akhirnya. Dan saat ia kalah, ia akan kesal dan terkadang melampiaskan amarahnya padanya. Terlebih lagi jika kali ini kalah, maka ia di pastikan akan di jual ke Tuan Seven sebagai selir ke- 7 oleh ayahnya dan dia tidak mau itu terjadi! Ia ingin terus membujuk ayahnya, tapi sebelum ia berbicara Ayahnya sudah setuju untuk bertaruh lagi.


"Saya setuju, mari masing-masing dari kita bertaruh 8 miliar belly." Kata Pak Jang.


Nanang tersenyum polos, dia melirik Gadis Mei yang tampaknya memiliki beberapa keraguan pada ayahnya, lalu melirik Pak Jang yang sudah dibuta-kan oleh candu judi. Pak Tua Jang telah benar-benar menjadi pencandu gila dan gila.


"Paman Jang, jika aku menang pada giliran ini, maka jangan kamu menyesalinya."


"Aku tidak akan kalah, sebaiknya kamu tidak menangis saat kembali kalah dan kehilangan. Baik, ayo kita mulai, seperti biasa kau ambil giliran pertama, aku selanjutnya." Kata Pak Jang.


*1 Belly \= 1 rupiah

__ADS_1


___________ Jangan Lupa, like and subscribe_____________😅


__ADS_2