
Nanang dan Intan berlari keluar dari perkampungan hantu dan memasuki hutan belantara.
Saat mereka terus berlari, kabut merah yang tebal tiba-tiba muncul menghalangi pandangan mereka.
Kabut hanya muncul sesaat sebelum akhirnya menghilang lagi.
Saat kabut menghilang, pemandangan telah berubah. Mereka berada di jalan raya begitu pula mobil Nanang yang secara ajaib muncul di samping mereka.
Intan: "Apa ini? Kenapa kita tiba-tiba berpindah tempat? Apakah ini berhubungan dengan kabut merah?"
Nanang: "Sepertinya begitu. Bahkan mobil Bubun yang tertinggal secara ajaib kembali lagi. Ayo kita naik mobil telusuri jalanan, mungkin kita akan menemukan jalan keluar."
Intan: "Baik."
Keduanya menaiki mobil dan menyusuri jalanan sambil memperhatikan lingkungan dengan .s.e.k.s.ama.
"Intan, lihatlah, ada lampu penerangan di depan. Sepertinya itu komplek perumahan."
"Benar Brother Nanang, itu perumahan. Apakah kita telah keluar dari Dunia Lain?" Tanya Intan.
__ADS_1
"Tidak tahu, mungkin saja. Tapi kita harus tetap waspada." Jawab Nanang.
Nanang menghela nafas lega. Ia memandang lurus kedepan dimana tampak lampu-lampu memancar terang dan rumah-rumah dengan penerangan yang baik terlihat menyebar bak kerumunan kunang-kunang. Tempat itu agak jauh, tapi jalan itu tidak salah arah setidaknya bisa bertanya lagi jika di sana mereka kebingungan.
"Intan, coba gunakan HP-mu. Hubungi seseorang agar bisa membantu kita jika sesuatu yang buruk terjadi."
"Baik."
Intan mendial nomor telepon rumahnya, tapi tidak ada yang menjawab. Ia mencoba memanggil ayahnya, ibunya, kakeknya, sepupunya, dan teman-temannya, tapi tidak ada satupun yang menjawab. Intan kecewa.
"Tidak ada yang mengangkat panggilan Brother Nanang."
Ikatan mengaktifkan lokasi di HP-nya dan membuka google map, tapi tiba-tiba sinyal handphone hilang.
"Uh, sinyal hp tiba-tiba hilang.."
Nanang menyerahkan HP-nya dan menyuruh Intan menggunakan HP miliknya.
"HP-mu juga tidak memiliki sinyal .."
__ADS_1
"Sial! Kenapa sinyal harus hilang di saat penting seperti ini!" Kata Nanang dengan kesal.
Setelah mengendarai mobil selama 5 menit, Nanang dan Intan akhirnya sampai di komplek perumahan.
tidak ada yang menjaga di gerbang kompleks. Jadi Nanang hanya terus mengemudikan mobilnya maju masuk ke dalam kompleks perumahan.
Rumah-rumah di dalam kompleks perumahan sepertinya sudah di huni. Bangunan rumah-rumah tersebut cukup bagus walaupun tidak terlihat mewah. Nanang menaksir paling murah harga rumah di sini sekitar 200 juta belly dan perkiraan rumah termahal sekitar satu miliar belly.
"Kemana lagi kita akan pergi Brother Nanang?" Tanya Intan.
"Kenapa terlihat sepi sekali di sini? meskipun lampu di rumah menyala, tapi tidak ada warung, tidak ada pemuda yang nongkrong di luar, dan tidak ada suara dari rumah-rumah. Ini aneh .." Kata Intan.
Nanang mengernyit sesaat sebelum menjawab.
"Mungkin orang-orang di sini sudah tertidur."
"Tapi ini terlalu aneh, setidaknya ini belum jam 12 malam, seharusnya ada satu atau dua orang yang masih terjaga. Ini terlalu hening seperti kuburan. Tidak, bahkan kuburan serasa lebih ramai karena suara serangga dan suara aneh, perumahan ini bahkan lebih sepi dari kuburan."
"Tenang Intan, kita akan tetap berkeliling dan menemukan orang, kita akan bertanya dan meminta tolong."
__ADS_1
"Tapi dari tadi tidak ada orang, dan tidak ada suara Tv atau musik dari rumah-rumah di sini." Kata Intan.