CINCIN TANG

CINCIN TANG
26. Dadu Part 6


__ADS_3

Reaksi Gadis Mei hanya datar, tapi berbeda dengan reaksi kakaknya Jajang yang tampak menjadi agak tertarik. Ini normal, setelah semua dia belum pernah melihat uang sebanyak itu.


"Ayah, apa kau yakin kau bisa memenangkan lebih banyak uang pada ronde ini?" Tanya anaknya Jajang dengan antisipasi. Dia mulai tergoda dan buta oleh uang instan.


"Nak, dia hanyalah seekor domba kaya yang gemuk. Dan ini adalah domba gemuk yang jatuh dalam perangkap perjudian. Semakin dia berjudi, semakin dia ingin mendapatkan uang itu kembali dan ia hanya akan membuang tumpukan uang itu lagi dan lagi. Ini hanya akan membuatku semakin kaya." Kata Pak Jang dengan suara sedikit pelan.


Dia mengira Nanang tak akan mendengarnya, tapi sebenarnya suaranya tidak benar-benar sepelan yang ia kira. Nanang masih bisa mendengarnya dengan agak jelas.


Gadis Mei berfikir, itu benar, Tuan Muda Nanang tampaknya hanya pemula dalam berjudi, ia tampak tidak tahu cara berjudi yang baik dan benar, dan ia hanya sapi perah yg terus menghasilkan uang untuk orang yang memerah susunya.


Gadis merasa kasian pada Tuan Muda Nanang, bagaimana pun Nanang datang untuk menolongnya tapi ia harus kehilangan uang, ia kehilangan uang banyak, dan uang itu telah menjadi milik ayahnya.


Dalam hal ini, Gadis Mei tidak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan kerugian Tuan Muda Nanang, ia sendiri tak kan bisa menghentikan ayahnya dari berjudi, lagi pula ayahnya benar, sulit mendapat domba gemuk yang tidak tahu cara berjudi dan hanya menghamburkan uang. Gadis Mei pun hanya bisa pasrah.

__ADS_1


Para Penonton yang hadir tahu bahwa Pak Tua Jang akan terus berjudi untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Mereka hanya bisa cemburu dan cemburu dengan keberuntungan Jang Tua.


"Jang Tua, saya pikir kau harus berhenti saat anda sudah menghasilkan banyak uang " Celetuk salah satu warga.


"Betul betul betul, Seseorang harus tahu kapan harus maju dan berhenti. Bagaimana jika Anda kalah? Anda akan kehilangan seluruh uang anda."


Empat miliar belly. Mereka tidak bisa membiarkan Pak Tua Jang terus berjudi.


Jika dia berjudi lagi, mereka takut tidak akan memiliki kesempatan untuk berjudi dengan Nanang karena Nanang akan kehabisan uang yang menyisakan mereka tontonan keluarga Jang menjadi kaya raya, sungguh hal yang mereka benci dan membuat iri ..


"Betul, betul, betul, orang yang serakah dan tidak pernah puas itu seperti ular yang mencoba menelan gajah."


"Tidak mungkin bagi seorang untuk terus menang, berhati-hatilah sebelum sesuatu yang buruk terjadi !"

__ADS_1


Para penonton terus menyuarakan suara mereka agar Pak Jang berhenti berjudi, tapi Pak Jang menyadari niat asli mereka.


Pak Jang tidak mau repot-repot memasukan Kata-kata mereka dalam pertimbangan. Yang bisa ia pikirkan hanyalah bahwa orang-orang ini hanya cemburu dan cemburu. Mereka iri karena keluarganya akan mencapai kesuksesan yang tidak dapat ditahan oleh hati mereka. Mereka hanya akan merasa iri yang tak tertahankan akan kesuksesannya.


Semua orang menyadari bahwa Pak Tua Jang tidak mau berhenti dan hanya bisa mulai menasehati Nanang.


"Tuan Muda, saya tidak berfikir bahwa anda harus berjudi lagi. Jika anda kalah kali ini, anda akan kehilangan 4 miliar. Itu 4 miliar dan bukan jumlah yang kecil, Anda bisa membeli banyak barang dan barang. Anda tahu nilai uang, kan ?"


"Hemm ... Saya pikir saya harus lanjut, saya tidak berfikir saya akan kalah di babak ini." Kata Nanang dengan tenang dan sedikit senyum seolah-olah ia tidak dalam keadaan merugi karena kehilangan uang.


"...." Kata Nanang hanya bisa membuat orang-orang tidak bisa berkata-kata.


Mereka hanya bisa menyimpan pikiran mereka sendiri, berharap setelah ini Pak Tua Jang akan berhenti berjudi, dan setelahnya akan menjadi giliran mereka.

__ADS_1


*1 belly \= 1 rupiah


*Jang Tua \= tua di sini adalah sebutan lain untuk kata Pak/bapak, Jang Tua berarti Pak Jang, dan sebutan tua hanya boleh disebutkan oleh orang sebaya yg seumuran.


__ADS_2