CINCIN TANG

CINCIN TANG
2. Nanang Mengaku Pada Intan


__ADS_3

Setalah sopir dan orang dari jasa service mobil datang, Nanang memberi instruksi, lalu Nanang membawa Intan ke dalam mobilnya.


Jalanan tidak hujan, tapi Nanang mengemudikan mobilnya dengan tenang, bagaimanapun jalanan becek dan licin, lebih baik aman berkendara.


"Kapan kamu kembali Adik Intan ?"


''Dua hari yg lalu, aku datang ke rumahmu kemarin, tapi Bibi bilang kamu sedang keluar kota mengurus urusan bisnis penting, khawatir akan mengganggumu, jadi aku tidak menghubungimu.''


"Ehm, aku memang sibuk."


"Kamu memakai gaun pesta, apakah kamu menghadiri pesta ultah?"


''Ya, ini ulang tahun sepupuku yg ke -19, aku hanya tidak berharap akan sial dalam perjalanan pulang."


Keduanya terus mengobrol sepanjang jalan, karena terus mengobrol, keduanya merasa haus, Nanang menghentikan mobilnya dan membeli minuman dari warung di pinggir jalan. Nanang membeli dua botol Aqua. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan.


Tepat setelah mobil melaju perlahan, Intan memulai percakapan.


"Brother Nanang, kamu pulang selarut ini. Apakah kamu mempunyai kekasih yang memintamu menemaninya hingga kaupulang terlalu larut.? Tanya Intan.


''Kekasih? Aku tidak punya. Tapi aku punya seseorang yang aku suka sejak lama." Kata Nanang berkata dengan tenang. Ia memperhatikan Intan saat ia mengatakannya.


'Deg!'


Jantung Intan berdetak, ia bertanya dalam hati, 'Siapakah gadis beruntung yang membuatmu jatuh cinta Brother Nanang? Kenapa hatiku perih rasanya ..?'


Intan menoleh ke samping jendela, dan bertanya:

__ADS_1


"Brother Nanang sangat baik, siapapun gadis yang menjadi kekasihmu pasti sangat beruntung. Selamat Brother Nanang.." Ucap Intan dengan suara pelan.


Saat Intan mengatakan 'selamat' pada Nanang, rasanya hatinya serasa perih dan perih..


Nanang: "...."


Nanang terdiam. Ia dulu sempat memiliki pemikiran bahwa Intan juga mungkin menyukainya. Tapi saat ini ia tak bisa menebak apa yang ada di hati Intan.


"Orang yang aku sukai adalah kamu. Aku menyukaimu sejak pandangan pertama." Kata Nanang. Nada suaranya tenang, tapi tidak dengan hatinya.


"Apa???!"


"Berpisah denganmu yang pergi ke Negara Tehjavan untuk study lanjutan membuatku tersiksa memikirkanmu. Ingin rasanya aku menarik hatiku keluar dari tubuhku. Sangat menyiksa tidak bisa melihatmu setiap hari."


'Glek!'


Nanang melanjutkan berbicara.


"Aku tidak ingin berbohong pada hatiku sendiri. Aku rasa tidak berarti apa-apa dan membuatku sangat, sangat tidak nyaman ketika tidak bisa melihatmu."


"Ngomong-ngomong, kamu bisa bertemu orang lain kapan saja, dan jika kamu tergoda oleh pria lain, itu akan membuatku merasa tidak nyaman."


"Kami memiliki waktu bersama yang baik saat SMU. Kita saling mengundang makan malam di rumah masing-masing, kami memiliki waktu yang baik saat bersama."


"Oleh karena itu, mari bertemu setiap hari di masa depan." Kata Nanang dengan tersenyum. Pandangannya menatap Intan dengan penuh harap.


"Apakah kamu sedang menembakku?! Apakah ini disebut pengakuan???!" Tanya Intan.

__ADS_1


Nanang: "....apa lagi jika bukan pengakuan? Aku menyukaimu, dan apakah kamu menyukaiku?"


"Ya." Jawab Intan.


Nanang senang dengan jawaban Intan. Hatinya serasa menyenangkan dan menyenangkan. 'Inikah rasanya jadian untuk pertamakalinya? Kenapa aku tersenyum dan tak bisa menahan senyumanku?'


"Lantas.. Bukankah ini berarti kita menjadi sepasang kekasih mulai saat ini?" Kata Nanang dengan harap.


"Tidak." Jawab Intan.


Nanang mengernyit, tak mengerti apa maksud Intan.


"Maksudnya, kau memiliki perasaan padaku tapi hanya sedikit sehingga kaumenolak menjadi pacarku? Atau karena orang tuamu melarangmu memiliki kekasih?"


"Bukan, bukan itu."


"Lalu apa?"


"Itu karena orangtuaku bilang aku masih kecil. Dan anak kecil dilarang pacaran." Kata Intan dengan polos dan polos.


"...." Nanang terdiam tak bisa berkata-kata. Jawaban yang sangat baik dari Intan?


*Negara Tehjavan \= Negara tempat Intan kuliah


💕Like


💕Comment

__ADS_1


💕 Subscribe


__ADS_2