CINCIN TANG

CINCIN TANG
32. Surat Kontrak Perjanjian Kekalahan Judi


__ADS_3

Begitu ia memenangkan putaran ini, dia tidak perlu lagi bekerja di ladang, dan ia akan membawa keluarganya hidup di ibukota.


Belum lagi, Tuan Muda Nanang selalu kalah, jadi ia di yakinkan akan kembali menang, jika ia memenangkan taruhannya maka Nanang tidak bisa menyalahkannya karena kebodohannya!


Menurutnya, Nanang telah kalah terus menerus namun masih berusaha keras untuk membalikkan nasibnya. Dia pantas kehilangan semua uangnya!


Gadis Mei sangat khawatir karena ini taruhan yang mempertaruhkan semua kekayaan keluarga. Jika kalah maka ia dan keluarganya akan menjadi gembel karena kehilangan uang, tanah, dan rumahnya.


Berbeda dengan kakaknya dan kakak iparnya, mereka berdua tidak sepemikiran dengan Mei, kakak dan iparnya berpikir bahwa ayahnya akan menang sejumlah kekayaan yg besar.


Jajang tiba-tiba berpikir.


Ayahnya akan bertaruh


Dan bagaimana jika ayahnya menang?


Mereka akan mendapatkan sejumlah kekayaan yg besar dan berlimpah! Tak perlu bekerja lagi di ladang untuk sisa hidupnya!!


Pak Tua Jang dengan bangga menempatkan akta tanah dan SHM di meja depan Nanang, lalu dengan sombong dan percaya diri berkata:


"Ini akta tanah untuk pertanian dan tanah saya, dan surat hak milik untuk rumah saya. Dan ini adalah uang cek yg kumenangkan sebelumnya.


Aku mempertaruhkan semua kekayaanku, ayo mulai bertaruh!"


Nanang melirik uang cek dan akta tanah dan sertifikat hak milik di meja, setelah menilainya sekilas, ia berkata, "Saya tidak ingin bertaruh lagi."

__ADS_1


Pak Tua Jang: "....?!"


Jajang dan istrinya: "...."


Gadis Mei: "...."


Kerumunan: "...."


Intan: ????!


Pak Jang tidak senang dengan apa yg di katakan Nanang, ia cemberut, bibirnya mengerucut dan berkata dengan sarkastik.


"Kenapa tiba-tiba tidak ingin bertaruh? Apakah kamu akhirnya takut kehilangan?!"


Nanang tersenyum seolah itu bukan apa-apa dan berkata, "Seolah-olah aku takut kalah! Aku masih memiliki begitu banyak uang, yang saya takutkan adalah Paman Jang tidak akan mengakuinya jika saya menang. Apa yang harus saya lakukan kedepannya jika kamu tidak mengakui kekalahanmu?"


Pak Tua Jang mendengus dingin, dia mengerucutkan bibirnya.


"Tuan Muda, kamu sudah kalah beberapa ronde namun kamu berani mengatakan hal seperti kamu akan menang tanpa rasa malu?"


....


Intan memandang Pak Jang yang ingin menghasilkan banyak uang, Intan hanya menggelengkan kepalanya dengan menyesal dan menyesal.


Ikan itu telah mengambil umpannya dan Nanang akan segera menarik kembali jaringnya.

__ADS_1


Nanang menatap Pak Jang yang percaya diri dengan senyum dangkal yang misterius. Ia lalu menoleh ke kepala Desa Kabut, Pak Dedes.


"Karena taruhan ini terlalu besar, ayo kita lakukan seperti ini, mari kita membuat kesepakatan sederhana sekarang juga, kami akan meminta kepala desa menulis kontrak dan kemudian menandatanganinya. Pihak yang kalah harus mengakuinya dan tidak akan meminta kembali harta yg telah hilang."


Dengan marah Pak Jang mencela,


"Akulah Yang takut kamu akan kembali pada kata-katamu! Ayo kita tandatangani kontrak perjanjian!"


Pak Jang dan Nanang melirik kepala desa.


Pak Dedes memperhatikan bahwa dia ditarik ke dalam keributan mereka. Dia awalnya hanya menonton kegembiraan sebagai penonton seperti warga lainnya, tetapi pada saat ini ia hanya gugup dan gugup. Namun Pak Jang dan Nanang telah mendesaknya, setelah dia membawa pena dan kertas, Tangan Pak Dedes yang memegang pena itu bahkan gemetar. Ia bertanya pada kedua peserta judi.


"Apakah kamu benar-benar ingin aku menulis kontrak perjanjiannya?"


Bertaruh pada akta tanah dan SHM dan juga seluruh uang, ini kurang lebih sama dengan mempertaruhkan nyawa seseorang. Jika kalah, maka tidak akan punya apapun.


Uang penting untuk membeli makanan, tanah pertanian penting untuk menghasilkan uang, dan rumah untuk berteduh dan istirahat, jika kehilangan semua hal itu maka sama dengan menjadi gembel dan gembel.


Nanang melihat Pak Tua Jang, Putranya, Putrinya, dan Menantunya yang hanya diam dan telah terperangkap dalam hiruk-pikuk perjudian. Nanang hanya menggelengkan kepalanya dan berkata.


"Tulis saja Pak Kepala Desa, jika tidak saya khawatir saya akan menolak untuk menyerahkan cek senilai 100 miliar belly kedepannya jika saya kalah. Bagaimanapun ini bukan jumlah uang yang kecil."


Pak Jang hanya melirik Pak Dedes dan mengangguk.


Pak Dedes segera menulis surat perjanjian. Jari-jarinya gemetar saat dia menulis kontrak perjanjian dengan gugup dan gugup.

__ADS_1


Setelah Pak Dedes selesai menulisnya, Nanang melihatnya dan mengkonfirmasinya. Setelah memastikan tidak ada masalah pada surat kontrak perjanjian ia meminta Pak Tua Jang dan keluarganya untuk mengkonfirmasinya, memastikan tidak ada masalah pada surat kontrak perjanjian.


Inti dari surat kontrak perjanjian yang baru saja di tulis garis besarnya adalah 'pihak yang kalah harus menerima dengan ikhlas dan tidak bisa menuntut kembali harta yg telah di pertaruhkan.'


__ADS_2