
Nanang berteriak secara tiba-tiba,
"Semuanya diam!!"
Keheningan kembali terjadi.
"Memangnya kenapa kalau aku kaya dan dia miskin? Aku kaya karena usahaku sendiri. Dan memangnya kenapa kalau dia miskin? Aku tidak berkewajiban membagikan apa yang telah kudapat padanya! Terlebih lagi bajingan itu gemar berjudi dan bahkan menjual putrinya sendiri!"
Nanang berkata sinis, mengangkat hidungnya den dengan tatapan sombong ia melihat kerumunan yang ada lalu berkata dengan santai.
"Bukankah kalian juga ingin berjudi denganku setelah aku selesai dengan Pak Jang? Bukankah kalian ingin mengambil uangku, ingin memerah setiap susu dari sapi perah ini, memeras semua kekayaanku? Bukankah dengan mengatakan untuk memberikan kembali apa yg kudapat hanya membuat kalian terlihat munafik?!"
"...." Semua orang terdiam.
Intan tersenyum cerah sambil menambahkan.
"Kamu tidak bisa menjadi penjudi jika kamu tidak bisa melakukan sesuatu yang sangat mendasar seperti mengakui kekalahan!"
Pak Jang mengepalkan tinjunya dengan erat, dia tidak tahu bagaimana membalas.
Dia adalah seorang penjudi dan menang kalah adalah hal yang biasa untuknya. Tapi kali ini ia kehilangan seluruh kekayaannya dan terlebih lagi rumahnya. Dia tidak bisa merelakannya begitu saja!
__ADS_1
Nanang menatap Pak Jang lalu berkata, "Kemasi barang-barangmu dan kosongkan rumahmu secepatnya. Aku memberimu seminggu, jika dalam seminggu kamu menolak pergi, maka jangan salahkan aku jika aku memanggil orang-orangku dan mengusir kalian dengan paksa!"
Pak Jang sangat marah, dia menggertakan giginya dan tubuhnya bergetar menahan amarah. Ingin rasanya ia maju dan memukuli Nanang dan memukuli lagi!
Pak Jang merasa di permalukan di depan umum, ia tidak tahan lagi, lalu akhirnya memilih masuk ke rumahnya dengan membanting pintu.
Anaknya Jajang dan menantunya mengikutinya masuk ke rumah, mereka terlihat marah dan menangis sedih atas kehilangan rumah.
Gadis Mei hanya berdiri terpaku di tempat, dia merasa sedih kehilangan rumah yg biasa ia tinggali tapi ia hanya gadis kecil yang tidak berdaya... Ia hendak berlutut di hadapan Nanang dan Intan dan memohon belas kasihan.
Nanang dan Intan melihat ke Gadis Mei dan menebak apa yang akan di lakukan gadis polos ini. Nanang dan Intan saling berpandangan, lalu Intan mengangguk.
Intan mengeluarkan uang tunai 10 juta belly dari dalam tasnya dan melemparkannya pada Mei.
"Gadis Mei, itu 10 juta untukmu."
Gadis Mei: "..."
Gadis Mei menatap Intan dengan ragu dan ia masih menunjukkan wajah yang seolah mengatakan 'aku tidak mengerti.'
Intan tersenyum manis dan berkata.
__ADS_1
"Brother Nanang memenangkan taruhan dan mengambil rumah dan ladangmu. Aku menebak ladangnya telah di tumbuhi padi dan sayuran berhubung keluargamu adalah petani. Uang itu adalah kompensasi untung padi dan sayurnya."
Gadis Mei: "....." Gadis Mei terdiam dan tidak tahu harus berkata apa. Haruskah ia berterima kasih? Tapi keluarganya kehilangan rumah dan ladanganya.
Intan lalu kembali tersenyum menggemaskan dan menertawakan dirinya sendiri lalu berkata:
"Lihat, aku baik bukan?"
kerumunan: "...."
Nanang lalu menambahkan,
"Tidak perlu bersujud di hadapan kami. Kami tidak akan mengembalikan rumah dan tanah yang telah kami dapat."
Gadis Mei yang hendak bersujud memohon pengampunan akhirnya membatalkan niat sujudnya setelah mendengar kata-kata Nanang.
Ia lalu terpaku terdiam sambil menatap uang di tangannya. Setelah sejenak berpikir, ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya dulu atau tepatnya mantan rumahnya karena rumah itu bukan milik keluarganya lagi.
Sisanya kerumunan yang masih berkumpul tidak bisa berkata apa-apa.
....
__ADS_1
Nanang menatap Intan, dia pikir Intan akan menyerahkan salah satu perhiasan yang di pakainya untuk di berikan pada Gadis Mei, tapi ternyata itu uang 10 juta belly.
Ia tak habis pikir, 'Bukankah tidak nyaman membawa uang tunai sebanyak itu saat pergi keluar?' tapi pacarnya benar-benar membawanya dan Nanang menebak kemungkinan masih ada uang tunai lainnya di tasnya.'